Kisah Punch, Bayi Monyet Viral yang Ditinggalkan Induknya dan Berjuang Bertahan Hidup

3 days ago 11

Liputan6.com, Jakarta - Seekor bayi monyet bernama Punch mendadak menjadi perhatian publik setelah videonya viral di media sosial. Di klip tersebut, ia terlihat bermain sambil memeluk boneka orangutan di kandangnya. Punch merupakan makaka Jepang berusia enam bulan yang tinggal di Kebun Binatang Kota Ichikawa, Prefektur Chiba, Jepang.

Menurut laporan Mainichi, Rabu, 18 Februari 2026, Punch dirawat oleh penjaga kebun binatang setelah ditinggalkan induknya sejak lahir. Momen menggemaskannya saat menjadikan boneka sebagai pengganti induk menyentuh hati warganet dan memunculkan tagar #HangInTherePunch sebagai bentuk dukungan.

Akun resmi kebun binatang tersebut bahkan mengumumkan, "Saat ini ada seekor monyet muda yang membawa boneka mainan di kandang monyet gunung," saat pertama kali memperkenalkan Punch pada publik.

Punch lahir pada 26 Juli 2025 dengan berat sekitar 500 gram. Ia merupakan anak pertama dari induknya. Namun, setelah melahirkan di tengah musim panas, sang induk diduga mengalami kelelahan dan tidak menunjukkan tanda-tanda ingin merawat bayinya.

Dalam kelompok monyet, biasanya ada kemungkinan induk lain mengambil alih pengasuhan. Sayangnya, hal itu tidak terjadi pada Punch. Sehari setelah kelahirannya, penjaga kebun binatang Kosuke Shikano (24) dan Shumpei Miyakoshi (34) memutuskan untuk turun tangan.

"Beban yang dialami ibu Punch saat melahirkan anak pertamanya mungkin menjadi salah satu faktor," ujar Shikano. Karena kondisi Punch sehat, ia dipisahkan sementara dari kelompok dan mulai diberi susu langsung oleh penjaga, melansir The Sun, Rabu. 

Perawatan Intensif dan Peran ‘Ibu Pengganti'

Selama enam bulan terakhir, Punch dirawat menggunakan inkubator untuk menjaga suhu tubuhnya tetap stabil. Namun, perawatan tidak hanya soal nutrisi dan kesehatan fisik. Bayi monyet umumnya berpegangan pada bulu induknya untuk kenyamanan sekaligus melatih otot.

Karena tidak memiliki kesempatan tersebut, penjaga mencoba berbagai alternatif, mulai dari handuk gulung hingga boneka binatang. Di antara semua pilihan, Punch paling menyukai boneka orangutan. Tekstur bulunya yang lembut dan bentuknya yang menyerupai monyet diduga memberinya rasa aman.

"Bulu boneka itu mudah dipegang dan tampilannya mirip monyet, kemungkinan memberinya kenyamanan," jelas Shikano. Setiap malam, Punch terlihat meringkuk bersama boneka tersebut hingga tertidur. Boneka itu pun dijuluki sebagai "ibu penggantinya."

Proses Adaptasi ke Kelompok dan Viral di Media Sosial

Setelah kondisinya stabil, tim kebun binatang secara bertahap meningkatkan waktu Punch berada di area monyet gunung agar ia terbiasa dengan kelompoknya. Pada 19 Januari 2026, ia resmi diperkenalkan kembali sepenuhnya.

Awalnya, monyet-monyet lain tampak waspada. Punch pun terlihat masih membawa bonekanya saat mencoba mendekat. Beberapa kali ia tampak terintimidasi, namun perlahan mulai berinteraksi.

Tak lama kemudian, foto dan videonya yang diambil pengunjung tersebar luas di X. Unggahan resmi kebun binatang pada 5 Februari 2026 dibagikan lebih dari 8.000 kali. Tagar #HangInTherePunch juga digunakan puluhan ribu kali dalam sepekan.

Takashi Yasunaga, Kepala Divisi Kebun Binatang dan Taman Botani Pemerintah Kota Ichikawa, mengaku senang dengan respons publik. Ia menyebut jumlah pengunjung meningkat dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Tumbuh Kuat dan Jadi Simbol Harapan

Kini, berat Punch telah mencapai sekitar 2 kg. Meski belum sepenuhnya mandiri dalam makan, ia terus menunjukkan perkembangan positif. Ia mulai aktif berinteraksi dengan monyet lain dan secara bertahap mengurangi ketergantungannya.

"Dia aktif berinteraksi dan terlihat semakin dewasa," kata Miyakoshi. Shikano juga menambahkan bahwa Punch memiliki mental yang kuat dan cepat pulih meski sempat dimarahi monyet lain.

Pada 14 Februari 2026, banyak pengunjung datang untuk melihat Punch secara langsung. Saat ia bermain sambil memeluk bonekanya, terdengar seruan gemas dari kerumunan.

Kisah Punch bukan hanya tentang bayi monyet yang ditelantarkan, tapi juga tentang ketahanan dan proses adaptasi. Dari boneka sederhana, ia menemukan rasa aman untuk tumbuh dan belajar kembali percaya pada lingkungannya.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |