Fadli Zon Dikukuhkan Jadi Profesor Kehormatan, Pengakuan atas Perjuangannya untuk Budaya Indonesia

1 week ago 33

Liputan6.com, Jakarta - Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon kini memiliki gelar baru. Ia baru saja dikukuhkan sebagai Profesor Kehormatan (Prof. Hon) dalam Sidang Terbuka Senat Akademik yang diselenggarakan di Auditorium Universitas Nasional (Unas) Jakarta pada Rabu, 11 Februari 2026.

Rektor Unas, El Amry Bermawi Putera, dalam sambutannya menyampaikan bahwa pengukuhan Profesor Kehormatan kepada Menteri Kebudayaan Fadli Zon bukan sekadar seremoni akademik, melainkan bentuk penghormatan tertinggi terhadap dedikasi, integritas, dan kontribusi intelektual yang telah diberikan bagi bangsa dan peradaban.

"Pengukuhan ini kami maknai sebagai pengakuan akademik atas kerja panjang, ketekunan intelektual, serta konsistensi Dr. Fadli Zon dalam memperjuangkan kebudayaan, sejarah, dan jati diri bangsa. Ini bukan sekadar penghargaan personal, tetapi juga pesan moral bahwa kebudayaan harus ditempatkan sebagai fondasi pembangunan peradabanIndonesia," ujar El Amry, dikutip dari siaran pers yang diterima Lifestyle Liputan6.com, kemarin.

Ia memuji kiprah Menteri Fadli Zon dalam pelestarian sejarah, penguatan literasi budaya, serta diplomasi kebudayaan nasional dan internasional. Menurutnya, hal itu menunjukkan keselarasan yang kuat dengan nilai-nilai Unas yang diwariskan oleh Sutan Takdir Alisjahbana, salah satu pendiri Universitas Nasional.

Ia mengatakan kontribusi tersebut telah melampaui batas sektoral dan administratif, menjangkau dimensi akademik, sosial, hingga peradaban global. Lewat penganugerahan gelar profesor kehormatan, ia berharap dapat memperkuat komitmen bersama antara dunia akademik, negara, dan para pemikir bangsa dalam membangun ekosistem kebudayaan yang inklusif, progresif, dan berkelanjutan.

Orasi Budaya Fadli Zon

Dalam kesempatan itu, Fadli Zon menyampaikan orasi kebudayaan dengan memaparkan gagasan strategis mengenai pentingnya upaya reinventing Indonesian identity sebagai fondasi penguatan peradaban bangsa di tengah dinamika global. Ia kembali menegaskan bahwa berbagai temuan dan jejak arkeologis menunjukkan Nusantara telah berperan vital dalam evolusi dan perjalanan panjang peradaban umat manusia.

"Upaya reinventing Indonesian identity merupakan wujud nyata penguatan kembali posisi Indonesia sebagai episentrum peradaban dunia. Berbagai temuan dan jejak arkeologis membuktikan bahwa Nusantara merupakan panggung vital dalam evolusi dan peradaban umat manusia," tegasnya.

Ia menekankan bahwa Indonesia tidak dapat dipahami semata sebagai negara-bangsa modern, melainkan sebagai peradaban-bangsa (civilizational-state) yang berdiri di atas fondasi megadiversity. Menurutnya, keberagaman etnis, bahasa, adat, dantradisi yang terbentuk melalui proses sejarah panjang justru menjadi kekuatan strategis bangsa dalam memainkan peran penting dalam politik kebudayaan dunia.

Budaya dalam Kacamata Fadli Zon

Dalam orasi budaya itu, Fadli juga menegaskan bahwa kebudayaan harus ditempatkan sebagai fondasi utama dalam pembangunan nasional. Menurutnya, budaya tidak hanya berfungsi sebagai kompas moral dan identitas bangsa, tetapi juga sebagai jalan tengah yang mampu menghadirkan solusi di tengah kompleksitas persoalan sosial, politik, dan ekonomi global.

"Budaya bukan hanya sebagai kompas, namun juga jalan tengah, sebuah ruang solusi yang melampaui dikotomi kekuasaan dan kepentingan. The Power of Culture menjadi fondasi dalam konstruksi identitas bangsa dan memastikan bahwa pembangunan ekonomi, sosial, dan politik berjalan seimbang, berkelanjutan, dan berakar pada jati diri bangsa," ucapnya.

Menutup orasinya, Menteri Kebudayaan menegaskan bahwa kebudayaan merupakan fondasi penting dalam membangun peradaban dan memperkokoh persatuan bangsa. Ia juga berterima kasih kepada pimpinan Universitas Nasional dan seluruh sivitas akademika atas kepercayaan serta kehormatan yang diberikan melalui penganugerahan gelar Profesor Kehormatan.

Rekam Jejak Fadli Zon

Pengukuhan Profesor Kehormatan kepada Fadli Zon didasarkan penilaian Universitas Nasional pada rekam jejaknya sebagai politisi-akademisi, intelektual, dan budayawan. Rekam jejak akademiknya tercermin sejak masa mahasiswa sebagai peraih berbagai penghargaan, hingga kiprahnya sebagai dosen luar biasa di Universitas Indonesia serta dosen tidak tetap di Universitas Nasional sejak 2018.

Produktivitas intelektualnya terwujud dalam lebih dari 40 buku serta berbagai karya tulis dan jurnal nasional maupun internasional di bidang politik, kebudayaan, dan ekonomi kerakyatan. Unas juga mencatat komitmen kuat Fadli Zon dalam pelestarian sejarah dan kebudayaan melalui pendirian Fadli Zon Library, pengelolaan museum, serta rumah budaya yang telah menyelamatkan ribuan artefak dan naskah kuno, serta meraih puluhan penghargaan nasional dan internasional.

Selain itu, rekam jejak kepemimpinan di tingkat nasional dan global, baik sebagai pimpinan lembaga negara, Menteri Kebudayaan, maupun pembicara di berbagai forum strategis, turut menjadi pertimbangan utama dalam penganugerahan ini.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |