Waspadai Tren Skincare Krim Estrogen Vagina yang Dikritik Ahli

4 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah tren skincare baru tengah viral di media sosial, di mana banyak individu mulai menggunakan krim estrogen vagina sebagai "filler" alternatif untuk wajah dan area tubuh lainnya. Mereka mengklaim bahwa krim ini mampu menghaluskan kerutan, mengurangi kekeringan, mengatasi kulit kendur, serta mengencangkan kulit.

Melansir The Guardian, Jumat (3/4/2026), fenomena ini muncul dari keyakinan bahwa estrogen memiliki peran penting dalam menjaga kesehatan kulit. Krim estrogen vagina sejatinya merupakan obat resep untuk meredakan gejala menopause, seperti kekeringan, iritasi, dan ketidaknyamanan pada area genital akibat penurunan kadar estrogen.

Namun, penggunaan produk ini meluas di luar indikasi medis aslinya, memicu diskusi hangat di kalangan ahli kesehatan dan dermatologi. Dr. Oma Agbai, seorang profesor klinis asosiasi dermatologi di University of California Davis School of Medicine, mengungkap, banyak pasiennya mulai menanyakan tren ini setelah melihat video di platform, seperti TikTok dan Instagram.

Para pengguna daring bahkan menyarankan aplikasi krim ini di sekitar mata, mulut, leher, dada, hingga paha dan bokong, memicu kekhawatiran serius dari para profesional medis. Secara teoritis, gagasan bahwa krim estrogen vagina dapat bermanfaat bagi kulit wajah memiliki dasar ilmiah yang logis.

Estrogen alami dalam tubuh memang dikenal berperan penting dalam merangsang produksi kolagen kulit, protein yang esensial untuk menjaga kekencangan dan elastisitas kulit. Selain itu, estrogen juga berkontribusi pada peningkatan kadar asam hialuronat, sebuah molekul yang berfungsi untuk menarik dan mempertahankan kelembapan. 

Dasar Ilmiah di Balik Klaim Manfaat Estrogen untuk Kulit

Peningkatan elastisitas dan ketebalan dermal juga merupakan efek positif dari estrogen pada kulit. Ketika seorang wanita memasuki masa menopause, kadar estrogen dalam tubuhnya akan menurun secara signifikan.

Penurunan ini sering kali menyebabkan kulit menjadi lebih cepat menua, menipis, dan cenderung kering, yang secara teoritis mendukung klaim manfaat estrogen untuk kulit.

Dr. Adam Friedman, profesor dan ketua dermatologi di George Washington University School of Medicine and Health Sciences, mengakui bahwa "biologi masuk akal" sehingga konsep penggunaan estrogen untuk kulit bukanlah sesuatu yang muncul tanpa dasar sama sekali.

Meskipun ada dasar ilmiah teoritis, Badan Pengawas Obat dan Makanan Amerika Serikat (FDA) belum pernah menyetujui krim estrogen vagina untuk digunakan di area tubuh selain vagina. American Academy of Dermatology juga tidak mengakui krim ini sebagai filler wajah yang sah atau sebagai pengobatan untuk kerutan dan kekeringan.

Peringatan Ahli dan Keterbatasan Bukti Ilmiah

Penggunaan obat di luar indikasi yang disetujui FDA, atau yang dikenal sebagai penggunaan "off-label," memang sering terjadi. Namun, banyak ahli tidak merekomendasikan penggunaan off-label krim estrogen vagina untuk perawatan kulit wajah karena dukungan bukti ilmiah yang sangat terbatas.

Dr. Maral Skelsey, profesor klinis dermatologi di Georgetown University’s School of Medicine, menjelaskan bahwa meski secara teoritis ada potensi peningkatan penanda penuaan kulit, "kita tidak benar-benar tahu bagaimana dan di mana menggunakannya serta apa yang akan dilakukannya."

Hal ini menunjukkan kurangnya pedoman yang jelas mengenai dosis dan metode aplikasi yang aman. Penelitian mengenai penggunaan krim estrogen vagina sebagai produk perawatan kulit masih sangat langka dan sebagian besar bersifat jangka pendek, serta berskala kecil.

Dr. Agbai menegaskan bahwa studi yang lebih besar dan jangka panjang diperlukan untuk mengevaluasi keamanan, dosis yang tepat, dan potensi risiko kanker sebelum rekomendasi luas dapat diberikan.

Potensi Risiko dan Efek Samping yang Mengkhawatirkan

Salah satu kekhawatiran utama adalah potensi penyerapan sistemik. Estrogen topikal dapat masuk ke aliran darah dan bersirkulasi ke area tubuh lain, terutama jika digunakan pada permukaan kulit yang luas, kulit tipis, atau dalam jangka waktu yang lama.

Ini bukan sekadar hipotesis, karena informasi resep FDA untuk krim vagina estradiol secara eksplisit menyatakan kemungkinan penyerapan sistemik. Penyerapan sistemik ini menimbulkan kekhawatiran akan efek samping hormonal seperti nyeri payudara atau pendarahan abnormal.

Selain itu, ada risiko teoritis terhadap kondisi sensitif estrogen seperti kanker payudara, ovarium, atau endometrium, khususnya pada individu yang memiliki riwayat atau risiko tinggi. Meski penyerapan mungkin minimal jika diaplikasikan pada area kecil di wajah, penggunaannya pada lokasi yang lebih besar seperti perut, paha, atau bokong memerlukan kehati-hatian ekstra.

Jumlah yang digunakan dan area aplikasi sangat memengaruhi tingkat penyerapan sistemik yang mungkin terjadi. Selain risiko sistemik, pengguna juga berpotensi mengalami reaksi lokal pada kulit wajah, seperti iritasi atau timbulnya jerawat.

Kondisi kulit yang sudah ada sebelumnya, seperti rosacea atau melasma, juga dapat memburuk akibat penggunaan krim ini. Dr. Ellen Gendler, seorang dermatolog kosmetik, bahkan tidak merekomendasikannya untuk wanita pramenopause.

Alternatif Skincare yang Terbukti Aman dan Efektif

Dermatolog menekankan bahwa banyak perawatan kulit yang sudah teruji aman dan efektif, dengan dukungan bukti ilmiah kuat. Opsi ini jauh lebih jelas keamanannya dibanding penggunaan krim estrogen vagina secara off-label.

Pilihan yang terbukti antara lain retinoid topikal resep, tabir surya spektrum luas harian, serta antioksidan seperti serum vitamin C. Pelembap untuk memperbaiki skin barrier juga penting untuk menjaga hidrasi dan perlindungan kulit.

Selain itu, tersedia perawatan klinis seperti laser, microneedling, serta injeksi filler atau botox yang dapat disesuaikan dengan kebutuhan dan telah melalui uji klinis ketat.

Krim wajah dengan estrogen memang ada, tetapi berbeda dari krim estrogen vagina. Penggunaannya harus di bawah pengawasan dokter dan bukan pilihan utama, terutama bagi mereka yang berisiko kanker sensitif hormon.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |