Thailand Andalkan Strategi Wisata Jarak Dekat di Tengah Dampak Konflik Iran vs Israel dan AS

14 hours ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah volatilitas global dan krisis energi buntut konflik Iran vs Israel dan AS, Otoritas Pariwisata Thailand (TAT) telah mengumumkan penyesuaian strategis untuk menanggapi tanda-tanda perlambatan kedatangan wisatawan jarak jauh.

Melansir The National, Sabtu (4/4/2026), pihaknya mengalihkan perhatian yang lebih besar ke pasar domestik dan wisatawan jarak pendek melalui pendekatan yang berpusat pada nilai dan pengalaman kelas dunia.

Mengubah krisis energi jadi tren "perjalanan dekat rumah," Thapanee Kiatphaibool, Gubernur TAT, mengatakan penilaian pada Maret 2026 menunjukkan bahwa kedatangan dari pasar jarak jauh, khususnya Timur Tengah, telah mulai melemah karena keterbatasan kursi maskapai penerbangan dan biaya transportasi yang lebih tinggi terkait kenaikan harga minyak.

Karena itu, TAT telah mempercepat kampanye, "Momen penyembuhan di mana-mana, perjalanan menyenangkan setiap saat," di bawah konsep "perjalanan dekat rumah." Strategi ini dirancang tidak hanya untuk mengurangi biaya perjalanan bagi wisatawan, tapi juga selaras dengan tren keberlanjutan.

Pasalnya, itu mempromosikan pariwisata berbasis komunitas dan menyebarkan pendapatan ke destinasi yang sedang berkembang di seluruh negeri, dengan fokus yang lebih kuat pada penciptaan nilai melalui pengalaman daripada volume.

Untuk mengimbangi hilangnya pasar, TAT telah meningkatkan upaya di pasar jarak pendek, seperti Tiongkok, yang telah mencatat pertumbuhan yang signifikan sebesar 38 persen. Juga, menyasar Malaysia dan India menggunakan pemasaran acara sebagai penggerak utama.

Menarik Wisatawan Lokal

Sorotan utama termasuk mengangkat Songkran ke panggung internasional melalui Maha Songkran World Water Festival 2026. Mereka juga bersiap jadi tuan rumah festival musik global Tomorrowland Thailand akhir tahun ini, yang diharapkan menarik wisatawan berkualitas dan pengunjung yang lebih muda.

Thapanee mengatakan, "Kami juga mendorong pariwisata domestik di bawah konsep 'perjalanan dekat rumah,' sejalan dengan perubahan perilaku wisatawan yang lebih menekankan pada keberlanjutan dan identitas lokal."

"Tujuannya adalah mendorong wisatawan Thailand melakukan perjalanan jarak pendek, mengurangi beban biaya perjalanan terkait energi, dan pada saat yang sama mendistribusikan pendapatan kepada masyarakat lokal di seluruh negeri."

"TAT percaya bahwa penyesuaian strategis ini akan membantu menjaga stabilitas industri pariwisata Thailand dalam jangka pendek, sekaligus meletakkan dasar bagi pertumbuhan jangka panjang yang berkelanjutan sejalan dengan 'Thailand Baru,' yang berfokus pada Nilai di atas Volume dalam setiap dimensinya.”

Dampak pada Bisnis Restoran

Sebelumnya, pengusaha restoran Thailand telah bersuara soal efek konflik yang makin memanas di Timur Tengah. Melansir The Straits Times, 1 April 2026, Chef Parkorn Kosiyabong dari GOAT, sebuah restoran bintang satu Michelin, mengatakan bahwa krisis harga minyak dan biaya transportasi yang lebih tinggi tidak hanya meningkatkan biaya operasional restoran, tapi juga memengaruhi pemesanan.

Selama minggu pertama dan kedua perang, bisnis restoran terpukul keras, dengan pembatalan reservasi pelanggan mencapai hingga 70 persen. Pada minggu ketiga dan keempat, pelanggan dari Singapura, Malaysia, Hong Kong, dan Taiwan membantu menopang bisnis, yang cukup membuat restoran tersebut bertahan bulan lalu.

Lebih dari 70 persen pelanggan restoran tersebut adalah turis asing. Namun, saat ini, komposisi pelanggan adalah 50 persen tamu asing dan 50 persen penduduk Thailand.

Masih Sulit Diprediksi

Kelompok pelanggan asing utama mereka tetaplah dari Asia dan Eropa, seperti orang Italia dan Prancis. Prospek pemesanan restoran pada April dan bulan-bulan mendatang masih sulit diprediksi, karena perilaku pelanggan terus berubah.

Alih-alih memesan beberapa bulan sebelumnya, pelanggan sekarang cenderung memesan hanya satu hari sebelumnya atau bahkan pada hari yang sama, seperti menelepon di pagi hari untuk makan malam. Kenaikan harga minyak telah menyebabkan banyak pemasok menaikkan biaya pengiriman dan logistik sekitar 5 hingga 10 persen.

Namun, jika situasi ini berlanjut hingga akhir tahun 2026, hal itu akan berdampak besar pada para pebisnis restoran. Pasalnya, mereka tidak dapat menaikkan harga menu sesuai situasi saat ini.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |