Taksi Bandara Suvarnabhumi Bangkok Tangguhkan Layanan Buntut Krisis Bahan Bakar

7 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Taksi yang beroperasi di Bandara Suvarnabhumi Thailand, khususnya taksi SUV besar dan tipe van, secara bertahap mulai menghentikan layanan karena tidak dapat memperoleh bahan bakar, kata Presiden Asosiasi Koordinasi Taksi Suvarnabhumi, Pallop Chayinthu, pada Kamis, 19 Maret 2026.

Hal ini terutama terjadi pada kasus di mana penumpang meminta perjalanan jarak jauh, sebut Chayinthu, melansir The Straits Times, Jumat (20/3/2026). Para pengemudi khawatir mereka akan kehabisan bahan bakar di tengah perjalanan dan tidak dapat mengisi ulang, yang dapat mengurangi jumlah taksi yang tersedia di Bandara Suvarnabhumi.

Saat ini, sekitar 5.000 hingga 6.000 taksi di bandara merupakan anggota asosiasi, tapi hanya 2.500 yang benar-benar beroperasi. Kelangkaan bahan bakar telah menyebabkan beberapa anggota mengentikan operasi taksi mereka.

Mereka yang masih perlu beroperasi mungkin harus mengurangi atau menyesuaikan jam layanan, seperti hanya bekerja di pagi hari, karena bahan bakar lebih sulit didapatkan di malam hari. Mereka mungkin juga memilih untuk hanya melayani rute jarak pendek karena takut kehabisan bahan bakar dan tidak dapat mengisi ulang.

Saat ini, taksi tidak terdampak harga bahan bakar yang tinggi, melainkan kelangkaan bahan bakar dan ketidakmampuan untuk mendapatkan pengisian ulang. Chayinthu mendorong pemerintah Thailand turun tangan membantu, tapi kemungkinan besar mereka harus menunggu hingga pemerintah yang berwenang penuh resmi menjabat.

Asosiasi tersebut sedang bersiap mengajukan beberapa proposal pada pemerintah Thailand untuk meminta bantuan, termasuk permintaan mengubah sistem pengumpulan tarif dari sistem berbasis meteran menjadi sistem perhitungan tarif berbasis aplikasi.

Risiko Pembatalan Penerbangan

Tidak hanya perjalanan darat, maskapai penerbangan juga telah memperingatkan akan adanya lebih banyak pembatalan penerbangan. Kenaikan harga dan kelangkaan bahan bakar pesawat akibat konflik Iran vs Israel dan AS membuat maskapai penerbangan mungkin terpaksa membatalkan perjalanan jarak jauh.

Menyusul penutupan Selat Hormuz, melansir The Sun, harga bahan bakar pesawat telah naik tajam dari 90 dolar AS (sekitar Rp 1,5 juta) per barel menjadi setinggi 200 dolar AS (sekitar Rp 3,4 juta) per barel. Para pedagang minyak juga memperkirakan kekurangan bahan bakar dalam beberapa minggu mendatang.

Akibatnya, ada peningkatan risiko maskapai penerbangan membatalkan layanan, terutama ke tujuan jarak jauh. Hal ini karena maskapai penerbangan yang menuju ke tempat-tempat yang jauh mungkin tidak memiliki cukup bahan bakar untuk perjalanan pulang.

Butuh Waktu hingga 6 Bulan

The Times melaporkan bahwa masalah ini bahkan dapat berlanjut hingga musim panas, mengutip sumber industri yang mengatakan bahwa "mungkin membutuhkan waktu hingga enam bulan untuk kembali normal," yang berarti hingga Agustus.

Beberapa maskapai penerbangan sudah mengambil tindakan untuk menghemat bahan bakar. Awal pekan ini, Air New Zealand mengatakan akan mengurangi penerbangan hingga Mei 2026.

Maskapai tersebut akan mengalami pengurangan layanan sekitar lima persen, yang setara dengan sekitar 1.100 penerbangan. Mengikuti jejak Air New Zealand, Scandinavian Airlines System (SAS) mengumumkan akan membatalkan 1.000 penerbangan.

Beberapa negara, seperti Vietnam, kini telah memperingatkan bahwa penerbangan dapat dibatalkan mulai April, yang akan memengaruhi liburan Paskah. Sementara itu, China dan Thailand telah menghentikan ekspor bahan bakar untuk menjaga pasokan dalam negeri, yang pada gilirannya akan memengaruhi maskapai penerbangan yang beroperasi di negara lain.

Eropa Paling Rentan

Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mengatakan bahwa Eropa termasuk yang paling rentan, dengan 25–30 persen permintaan bahan bakar pesawatnya berasal dari Teluk Persia.

Sementara itu, Watson Farley & Williams, firma hukum energi, infrastruktur, dan transportasi, mengatakan, "Jika persediaan bahan bakar bandara dan maskapai penerbangan habis dalam jangka waktu tertentu, maskapai penerbangan tidak akan dapat mengisi bahan bakar pesawat mereka dan harus mengurangi operasi mereka."

Ini menyiratkan bahwa mungkin ada efek domino bagi maskapai penerbangan di kemudian hari. Ditambahkan bahwa "pembatalan penerbangan lebih lanjut dapat diperkirakan, bahkan oleh maskapai penerbangan yang beroperasi dari basis domestik di mana terdapat pasokan bahan bakar yang andal."

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |