Studi: Bahan Kimia Forever Percepat Penuaan pada Pria

5 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah studi terbaru mengungkap temuan cukup mengkhawatirkan: paparan "bahan kimia forever" atau PFAS dapat mempercepat proses penuaan, khususnya pada pria berusia 50-an hingga awal 60-an. PFAS merupakan bahan kimia sintetis yang banyak digunakan dalam berbagai produk sehari-hari, mulai dari plastik, cairan pembersih, hingga lapisan anti lengket pada peralatan masak.

Melansir CNN, 27 Februari 2026, senyawa ini membutuhkan waktu sangat lama—bahkan hingga ribuan tahun—untuk terurai di lingkungan. Akibatnya, PFAS kini sudah ditemukan hampir di mana-mana, termasuk di wilayah terpencil seperti Arktik, laut dalam, air minum, bahkan dalam darah manusia.

Menurut data ilmiah, zat ini terdeteksi dalam darah sekitar 98 persen populasi di Amerika Serikat, menunjukkan betapa luas penyebarannya. Dalam studi tersebut, para peneliti menyoroti apa yang disebut sebagai penuaan epigenetik, yaitu perubahan cara gen bekerja tanpa mengubah struktur DNA.

Penuaan jenis ini mencerminkan usia biologis seseorang—seberapa "tua" kondisi sel-sel tubuhnya—bukan sekadar angka usia. Hasilnya menunjukkan bahwa hubungan antara paparan PFAS dan percepatan penuaan biologis paling kuat terjadi pada pria usia 50–65 tahun.

Pada kelompok usia lain, termasuk pria yang lebih muda atau lebih tua, serta pada perempuan, efeknya cenderung lebih lemah dan tidak konsisten. Artinya, pada kelompok yang paling terdampak, kondisi sel-sel tubuh mereka bisa "menua" lebih cepat dibanding usia sebenarnya.

Ketika usia biologis lebih tinggi dari usia kronologis, risiko kesehatan pun meningkat. Hal ini berkaitan dengan kemungkinan lebih besar munculnya berbagai penyakit kronis, seperti kanker dan demensia, karena sel-sel tubuh mengalami penurunan fungsi lebih cepat dari yang seharusnya.

Efek Spesifik pada Pria Paruh Baya

Temuan ini mengindikasikan adanya "efek spesifik jenis kelamin" dari PFAS, yakni bahan kimia yang dapat mengganggu sistem endokrin—jaringan penting yang mengatur pertumbuhan, metabolisme, suasana hati, dan reproduksi.

Menurut Jane Muncke dari Food Packaging Forum, perempuan cenderung lebih cepat mengeluarkan PFAS dari tubuh melalui kehamilan, menyusui, dan menstruasi. Namun, perbedaan kadar PFAS antara pria dan wanita biasanya menyempit setelah menopause.

Meski begitu, Muncke menekankan, hasil studi ini belum bisa dianggap sebagai hubungan sebab-akibat, melainkan baru bagian awal untuk memahami kemungkinan dampak biologisnya.

Sementara itu, American Chemistry Council menyebut, penelitian ini masih bersifat eksploratif karena melibatkan sampel kecil dan menggunakan data lama. Mereka menilai belum ada bukti kuat bahwa PFAS secara langsung menyebabkan penuaan.  

Metodologi Penelitian

Studi yang diterbitkan di jurnal Frontiers in Aging ini menggunakan data publik dari 326 pria dan wanita lanjut usia yang dipilih secara acak. Para peneliti mengambil data tersebut dari peserta yang terdaftar dalam Survei Pemeriksaan Kesehatan dan Gizi Nasional AS pada 1999–2000.

Peneliti kemudian menganalisis sampel darah yang dikumpulkan saat itu untuk mendeteksi 11 jenis bahan kimia PFAS dalam tubuh peserta. Mereka juga mengukur DNA metilom, yaitu penanda epigenetik yang mengatur cara gen bekerja di dalam sel darah.

Selanjutnya, para peneliti memasukkan data DNA tersebut ke dalam berbagai model "jam epigenetik" atau jam biologis. Dengan cara ini, mereka dapat memperkirakan tingkat penuaan pada darah dan jaringan tubuh lain, sehingga mendapatkan gambaran usia biologis para peserta secara lebih akurat.

Risiko Kesehatan PFAS

Sejak 1950-an, PFAS digunakan dalam berbagai produk konsumen karena sifatnya yang tahan air, minyak, dan suhu tinggi. Namun, bahan kimia ini kini dikaitkan dengan berbagai masalah kesehatan serius, mulai dari kanker, gangguan kesuburan, kolesterol tinggi, gangguan hormon, hingga penyakit hati, obesitas, sampai gangguan tiroid.

Beberapa jenis PFAS lama, seperti PFOS, PFOA, dan PFHxS, bahkan sudah dikenal luas berbahaya. Karena itu, zat-zat ini ditargetkan untuk dihapus secara global melalui Konvensi Stockholm 2001, yang bertujuan mengurangi bahan kimia beracun yang menumpuk di tubuh dan lingkungan.

Publik bisa mengurangi risiko dengan langkah sederhana, seperti menggunakan filter air bersertifikat, mengikuti anjuran kualitas air setempat, dan menghindari produk yang tahan noda atau minyak. Di sisi lain, pengurangan paparan secara signifikan tetap bergantung pada kebijakan pemerintah dan upaya pembersihan lingkungan, karena sebagian besar paparan terjadi di tingkat komunitas.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |