Sampah Kemasan Kosmetik Kini Bisa Disetor di Halte Transjakarta, Dibantu AI dan Dapat Poin

9 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Siapa yang biasa membuang sampah kemasan kosmetik begitu saja? Kini ada cara baru yang lebih menyenangkan untuk menyetorkan sampah kemasan kosmetik. Berwujud smart drop box yang memanfaatkan teknologi AI, publik bisa menyetorkan sampah mereka untuk dikonversi menjadi poin.

Dinamai Paragon Empties Station, mesin pengumpul itu kini bisa diakses masyarakat umum di Halte Transjakarta CSW. Itu menjadi titik kesembilan dari 10 titik drop box yang direncanakan. Masyarakat bisa menyetorkan kemasan kosong produk kecantikan dari brand manapun dan material apapun, termasuk plastik, kertas, kaca, hingga material campuran.

Syaratnya, kondisi kemasan masih baik, bersih, dan terdapat logo produk. Cara penggunaannya juga mudah. Dimulai dengan memasukkan nomor kontak di layar sentuh yang tersedia, selanjutnya tempatkan sampah kemasan di lubang yang tersedia satu per satu.

Mesin kemudian akan menghitung berapa banyak kemasan yang disetor dan dilaporkan datanya via WA atau bisa pula diakses melalui aplikasi Plasticpay. Setiap wadah yang disetor akan dikonversi menjadi poin. Jika menyetorkan sampah kemasan kosmetik dari Paragon Group, besaran poin akan dilipatgandakan. Jika sudah mencapai 10 ribu poin, Anda bisa menguangkan ke dompet digital.

Antusiasme masyarakat menukarkan sampah kemasan lewat drop box pintar itu di hari peresmian, yakni Selasa (7/4/2026), cukup tinggi. Antreannya cukup panjang, terutama karena sebagian sengaja membawa 'koleksi' sampah kemasan kosmetik yang sudah mencapai puluhan item.

"Mungkin dengan gerakan seperti ini, ini menjadi pemicu untuk semua industri untuk melakukan gerakan yang sama. Ini sebagai langkah awal dan mungkin tidak akan terbatas di Transjakarta saja, tapi di tempat-tempat publik lainnya juga," kata Wakil Kepala Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta Dudi Gardesi Asikin ditemui di lokasi.

Menyebar ke Masjid dan Kampus

Suci Handrina, Head CSR ParagonCorp, menyatakan sebelum dipasang di Halte Transjakarta CSW, mesin itu lebih dulu dipasang di berbagai tempat. Beberapa di antaranya adalah Wardah Store Bintaro Plaza (Jabodetabek) dan Makeupuccino (Bandung), Masjid Istiqlal, kampus Universitas Indonesia, Masjid Salman ITB Bandung, hingga area perkantoran ParagonCorp.

"Mudah-mudahan membantu yang kebingungan. Habis ini sampahnya diapain ya atau sebelumnya enggak kepikiran kalau ternyata sampah kosmetik itu masih punya manfaat," kata Suci.

Ide membuat smart drop box untuk sampah kemasan kosmetik sudah tercetus sejak setahun lalu. Hal itu terpikir karena selama lima tahun terakhir, ParagonCorp menggunakan cara manual untuk mengumpulkan wadah kosmetik kosong. Itu pun terbatas hanya di toko atau saat ada kegiatan publik.

Dengan menyebarkan titik pengumpulan di tempat publik, ia berharap lebih banyak yang menyadari pentingnya memilah sampah kemasan agar tak tercampur sehingga bernilai manfaat. Di sisi lain, pihaknya ingin konsumen semakin bijak dan sadar saat mengonsumsi apapu, termasuk kosmetik.

Sampah Kemasan Kosmetik yang Terkumpul Akan Diapakan?

Suci menyatakan sampah-sampah kemasan kosmetik nantinya akan dipilah kembali sesuai jenisnya. Jika plastik, akan dicacah menjadi pelet untuk kemudian diolah menjadi beragam perabotan.

Cara itu sudah diterapkan jauh sebelum smart drop box disebar. Mereka menggandeng pihak ketiga untuk mengolah sampah plastik menjadi furnitur fungsional, seperti meja dan bangku sekolah, rak buku, hingga tempat menaruh Al Quran atau podium.

"Dan diuji ketahanannya, ternyata itu cukup aman," kata Suci. Produk-produk itu juga sudah dimanfaatkan pihak-pihak yang membutuhkan.

Perihal memanfaatkan sampah kemasan kosmetik untuk menjadi wadah kemasan kosmetik baru, Suci menyatakan hal itu masih belum dilakukan. Pihaknya memerlukan riset yang lebih mendalam agar produk daur ulang nanti hasilnya tetap sesuai standar, terjaga kualitas dan keamanannya agar produk di dalamnya bisa terjaga.

"Untuk ke arah sana, ini masih dalam proses inovasi ya," ia menekankan.

DKI Jakarta Tak Punya Data Sampah Kemasan Kosmetik

Di sisi lain, Dinas Lingkungan Hidup DKI Jakarta hingga saat ini tidak memiliki data jumlah sampah kemasan yang dihasilkan warganya secara pasti. Hanya ada perkiraan kasar bahwa total timbulan sampah harian warga Jakarta antara 7.000--8.000 ton per hari. Dari total timbulan sampah itu, sekitar 22 persen di antaranya adalah sampah plastik dengan berbagai jenis, seperti PET, PP, hingga plastik kresek.

Demi menekan jumlah timbulan sampah, Dudi menyatakan edukasi dan kerja sama dengan berbagai pihak akan terus digencarkan, terutama terkait upaya mengedukasi publik untuk memilah sampah dari rumah. Ia tidak menutup mata bahwa masih banyak warga Jakarta yang menganut paham sampah itu dibuang, entah ke bak sampah atau justru mengotori kali hingga ke laut.

Padahal, sampah akan tetap bermanfaat jika dipilah dengan tepat. "Kontribusi swasta itu udah banyak, cuma mensinergikan usaha-usaha yang sifatnya seremonial atau pilot project itu menjadi sistem yang kita internalisasi (masih perlu upaya), sehingga itu menjadi satu kesatuan. Ke depannya, insya Allah seperti itu," kata Dudi.

Di sisi lain, Yungki Syailendra, Head of Commercial Division Transjakarta, berharap keberadaan drop box bisa memperkaya pengalaman perjalanan pengguna TransJakarta. Mesin itu menambah fasilitas publik yang juga bertujuan untuk mengurangi sampah kemasan, yakni penyediaan air minum gratis lewat water dispenser.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |