Saat Seniman Indonesia Mewarnai Singapore Biennale 2025, Angkat Isu Papua hingga Djampang Kulon

1 day ago 10

Liputan6.com, Jakarta - Singapore Biennale 2025 kembali menggandeng sejumlah seniman Indonesia untuk mengisi ruang yang tersedia. Salah satunya berlokasi di Singapore Art Museum (SAM) yang menempati bangunan bekas ruang penyimpanan, tak jauh dari Dermaga Tanjong Pagar. 

Lifestyle Liputan6.com berkesempatan untuk menikmati langsung ragam karya sambil mendengarkan penjelasan dari para kurator pada awal November 2025. Di antaranya karya kolaboratif berjudul Tokoh-Tokoh Pengabdian dan Peradaban yang digarap bersama oleh empat galeri, Griya Seni Hj Kustiyah Edhi Sunarso, Ruci Art Space, Rubanah Underground Hub, dan SAM.

Ide karya itu berangkat dari diorama yang ditampilkan di Museum Sejarah Nasional di bawah Monas, Sesudah Banjir Itu: No. 44. Diorama tersebut bercerita tentang pembebasan Irian Barat dari cengkeraman Belanda. Oleh para seniman, kurator, juga sejarawan, mereka membuat diorama 'tandingan' yang bercerita tentang proses pembebasan pulau yang kini dikenal sebagai Papua.

Nama-nama seperti JJ Rizal, Ita Fatia Nadia, hingga project director Rubanah Underground Hub, Grace Samboh, membuat diorama menampilkan momen yang terjadi pada 1 Mei 1963 dari sudut pandang orang-orang yang tak tersorot atau berada di balik layar. 

"Ketika Anda membandingkan diorama dengan arsip foto-foto acara, sebenarnya ada banyak orang Papua, masyarakat, perempuan, dan laki-laki yang tidak direpresentasikan di diorama tersebut," kata Ong Puay Khim, salah satu kurator Singapore Biennale 2025, yang mendampingi saya dan seorang rekan dari Malaysia, saat itu.

Menggelitik Sejarah Lewat Diorama

Setelah konsep diorama dimatangkan, giliran para pematung yang berjumlah 10 orang bekerja. Mereka membuat patung-patung kecil untuk merepresentasikan orang-orang yang tak ditampilkan pada diorama yang ada di Monas.

Total ada 157 patung dengan beragam ekspresi dan gestur. Pengerjaannya dilakukan di Yogyakarta, kemudian dimatangkan di Jakarta, sebelum akhirnya dipamerkan di Singapura.

"Lewat diorama ini, muncul pertanyaan bagaimana kita selama ini merepresentasikan sejarah, siapa yang hilang, siapa yang ada. Ide kehilangan dan kehadiran itu menjadi salah satu hal utama dari proyek ini," sambung Ong.

Seniman Indonesia lain yang meramaikan Singapore Biennale 2025 adalah Rizki Lazuardi. Karyanya yang berjudul Operation Thunder Tooth dihadirkan untuk mengisi ruang kosong di salah satu rumah bergaya art deco di kawasan Wessex Estate. Lokasi itu tak jauh dari jalur rel kereta lawas yang bersejarah di Singapura.

Karya seniman kelahiran Semarang itu ditempatkan di salah satu sudut bangunan di lantai 1. Kali ini, Hsu Fang Tze, kurator Singapore Biennale 2025 asal Taiwan yang 'mendongengkan' proses kreatif karya seni yang diproduksi pada 2025. 

Padukan Fiksi dan Fakta tentang Djampang Kulon

Rizki dikenal akan karya seni multimedianya. Itu pula yang dibawakannya lewat karya tersebut. Ada arsip film yang ditampilkan lewat layar televisi jadul. Ada puing-puing rudal dan pesawat tempur. Diputarkan pula video wawancara dengan salah satu perwira TNI AU di televisi layar datar, hingga fosil Megalodon. Semuanya berpusat di Jampang Kulon, sebuah daerah di Sukabumi, Jawa Barat.

Rizki memadukan fakta dan fiksi dalam karya tersebut. "Untuk proyeknya, dia benar-benar menggabungkan kebenaran dan fiksi. Jadi, ada banyak objek yang bisa kamu lihat itu adalah objek militer. Setengahnya benar, setengahnya palsu. Bisa tebak mana yang palsu?" tanya Fang Tze memancing rasa penasaran saya.

Ia lalu memberi petunjuk dengan menyebut pidato Presiden Sukarno dan puing-puing rudal dan pesawat tempur. Ia mengatakan bahwa puing-puing itu difabrikasi oleh Rizki, tetapi bisa terlihat nyata karena dibalut dengan apik lewat deretan film berisi informasi yang sudah dideklasifikasi.

"Jadi, informasi ini memang nyata adanya. Dia menemukan arsip yang dideklasifikasi tentang militer dan operasi militer di kawasan tersebut. 

Bekas Gedung Sekolah Jadi Ruang Pamer

"Jadi, idenya adalah maksudnya, dengan berbicara tentang sejarah militerisasi di tanah tersebut, walaupun mungkin terlihat seperti kawasan tinggal, tapi, ada sejarah militerisasi sebelumnya dan bagaimana militerisasi masih menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari," sambung Fang Tze.

Jika dua karya sebelumnya benar-benar dibuat oleh seniman Indonesia, ada karya lain yang juga ditampilkan di Singapore Biennale 2025 yang merupakan ekspresi seni Kei Imazu, seorang seniman Jepang yang tinggal di Bandung. Ia membuat serial lukisan yang terinspirasi dari kisah mitologi Dewa Hainuwele yang berkembang di Pulau Seram, Maluku.

Ada tiga lukisan yang dirangkai jadi satu dan ditempatkan di sebuah aula sekolah khusus perempuan yang sudah kosong. Ruangan pengap dengan pencahayaan minim memberi elemen dramatis pada lukisan yang menampilkan gambar organ dan tengkorak manusia itu. Lewat lukisan tersebut, sang seniman ingin memberi pesan bahwa memori dan naratif selalu bergerak dinamis yang membuat sejarah tak bisa dianggap hal yang tetap.

Setiap karya yang ditampilkan di Singapore Biennale 2025 memiliki benang merah pada tema utama, Pure Intention. Ong menjelaskan bahwa lewat tema itu, pihaknya ingin mengajak setiap pengunjung melalui lapisan kehidupan masyarakat Singapura yang dibangun oleh banyak pihak, yang dirancang rapi tapi juga menyisakan ruang kejutan. 

Singapore Biennale 2025 akan berakhir pada 29 Maret 2026. Anda bisa memanfaatkan waktu libur lebaran ini untuk menikmati Singapura dengan cara berbeda.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |