Pergeseran Tren Pariwisata Global Imbas Perang Iran vs Israel dan AS

17 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Krisis geopolitik, seperti perang Iran vs Israel dan AS, hampir secara otomatis berdampak pada tren pariwisata. Ketidakstabilan menyebabkan berkurangnya jumlah wisatawan, pemesanan, dan aktivitas.

Melansir Japan Today, Senin, 6 April 2026, setelah penurunan tajam dalam perjalanan yang disebabkan pandemi COVID-19, pariwisata internasional telah tumbuh, bahkan di tengah meningkatnya konflik dan ketidakpastian. Tapi seiring bertambahnya jumlah wisatawan, pola perjalanan juga bergeser.

Salah satu contoh paling jelas dapat ditemukan di Teluk, sebuah wilayah yang telah menginvestasikan miliaran dolar untuk membangun dirinya sebagai destinasi wisata inovatif, serta sebagai pusat utama yang menghubungkan Eropa, Asia, dan Afrika.

Sebelum perang dimulai, strategi regional ini tampaknya sudah mapan. Pada 2025, Dubai menyambut hampir 20 juta wisatawan internasional, sementara ibu kota Qatar, Doha, dinobatkan sebagai Ibu Kota Pariwisata Teluk untuk 2026.

Namun, untuk terus menjadi destinasi yang menarik, negara-negara ini perlu menjamin konektivitas dan stabilitas, yang keduanya sangat terancam oleh konflik yang sedang berlangsung. Dalam pariwisata, persepsi risiko hampir sama pentingnya dengan risiko aktual.

Suatu destinasi mungkin tidak secara langsung terpengaruh perang atau krisis, tapi jika tempat tersebut dikaitkan dengan situasi ketidakstabilan, banyak wisatawan akan memilih alternatif yang lebih meyakinkan.

Yang terpenting, banyak wisatawan tidak berhenti bepergian di masa ketidakpastian, tapi mereka mengubah destinasi mereka, memilih tempat yang mereka anggap lebih aman, lebih mudah diakses, atau lebih dapat diprediksi. Pariwisata tidak menghilang, hanya bergeser.

Tren Didorong Geopolitik

Hal ini sudah terlihat di wilayah yang terdampak konflik antara AS, Israel, dan Iran, karena krisis di Timur Tengah telah mengarahkan permintaan wisatawan ke destinasi yang dianggap lebih aman. Misalnya, beberapa operator tur besar telah meningkatkan kapasitas mereka di Kepulauan Canary setelah sementara menarik diri dari Timur Tengah.

Tren ini tidak didorong warisan budaya, gastronomi, atau lingkungan alam, tapi faktor geopolitik: stabilitas politik, konektivitas udara, persyaratan visa, dan persepsi risiko internasional.  Setelah konflik pecah pada akhir Februari, bandara-bandara utama di Timur Tengah, seperti di Dubai, Doha, dan Abu Dhabi, ditutup atau beroperasi secara terbatas.

Ini merupakan masalah besar, karena Timur Tengah menyumbang 14 persen dari lalu lintas transit internasional. Dubai, Abu Dhabi, Doha, dan Bahrain menangani total sekitar 526 ribu penumpang per hari.

Berdampak ke Pusat-Pusat Penerbangan

Reorganisasi ini juga mempengaruhi pusat transportasi udara lain, karena ketika rute-rute utama terganggu, lalu lintas udara dialihkan ke alternatif yang lebih aman atau lebih stabil secara operasional.

Bandara Istanbul, sebuah pusat strategi yang menghubungkan Eropa, Asia, dan Afrika, dapat memperoleh manfaat dari ketidakstabilan di Teluk dan memperkuat titik transit global, menarik penumpang yang transit sebelumnya melalui Dubai, Doha, atau Abu Dhabi.

Hal ini berdampak baik untuk transportasi udara maupun pariwisata kota. Lebih banyak persinggahan berarti lebih banyak menginap, peningkatan pengeluaran wisatawan, dan visibilitas internasional yang lebih besar untuk destinasi tersebut.

Semua ini di samping biaya ekonomi langsung. Dewan Pariwisata dan Perjalanan Dunia menyimpulkan bahwa konflik Iran vs Israel dan AS menyebabkan kerugian harian sekitar 600 juta dolar AS bagi sektor pariwisata. Sebagian dari kerugian ini pada akhirnya dibebankan pada wisatawan dalam bentuk perjalanan yang lebih mahal, lebih lama, dan lebih tidak pasti.

Perubahan Kebiasaan Wisatawan

Di masa ketidakpastian, wisatawan menyesuaikan keputusan mereka. Ketidakstabilan membawa serta peningkatan pemesanan dengan ketentuan pembatalan yang fleksibel, asuransi perjalanan menjadi lebih penting, dan minat pada destinasi yang lebih dekat atau terhubung dengan baik meningkat.

Keseimbangan antara harga dan keamanan juga merupakan faktor kunci. Suatu destinasi mungkin masih menarik, tapi jika menimbulkan kekhawatiran atau melibatkan biaya tambahan, banyak wisatawan akan memilih alternatif yang lebih mudah.

Hal ini mengubah pola permintaan. Bahkan pada 2025, perusahaan asuransi Allianz melihat peningkatan omset asuransi perjalanan sebesar 9 persen di Spanyol, dengan pembatalan menyumbang lebih dari setengah dari semua klaim. Orang-orang masih ingin bepergian, tapi wisatawan menjadi lebih berhati-hati dan menghindari risiko.

Negara-negara tidak terdampak konflik akan mendapatkan popularitas. Pemenangnya mungkin bukan yang termurah atau yang paling spektakuler, tapi mereka akan menjadi negara-negara yang menawarkan pengalaman paling lancar bagi para pelancong: koneksi yang lebih baik, ketidakpastian yang lebih sedikit, dan suasana normal.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |