Mengenal Chinamaxxing, Tren TikTok yang Meledak di Kalangan Gen Z

16 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Sebuah tren TikTok baru bernama "Chinamaxxing" tiba-tiba meledak di dunia maya pada Januari 2026. Popularitasnya meroket, terutama di kalangan pengguna Gen Z.

Melansir CNA, 26 Februari 2026, istilah ini kemudian berkembang dan melahirkan berbagai variasi ungkapan. Muncul kalimat-kalimat, seperti "Kamu bertemu denganku di fase paling Tionghoa dalam hidupku," serta "Berubah menjadi sangat Tionghoa."

Ungkapan-ungkapan ini banyak muncul dalam unggahan dan video yang menampilkan orang-orang—sering kali bukan keturunan Asia—yang mencoba mengadopsi kebiasaan sehari-hari khas Tiongkok sebagai bagian dari rutinitas mereka.

Sekilas, tren ini memang terlihat ringan dan menyenangkan. Namun di balik itu, muncul juga perdebatan yang cukup serius. Banyak yang mulai mempertanyakan: apakah ini bentuk apresiasi budaya, atau justru penyederhanaan tradisi yang kompleks menjadi sekadar simbol yang dangkal?

Sejumlah analis melihat sisi positifnya. Mereka berpendapat bahwa meningkatnya visibilitas budaya, dalam bentuk apa pun, tetap lebih baik daripada tidak sama sekali karena bisa membuka ruang untuk mengenal budaya lain.

Tapi di sisi lain, ada pula yang mengingatkan bahwa adopsi yang hanya di permukaan berisiko menyalahartikan, bahkan mereduksi identitas yang selama ini juga kerap menghadapi diskriminasi.

Li Mei, dosen media di University of Sydney, mengatakan bahwa kultur China memang sejak lama menghadapi tantangan dalam hal wacana. Menurutnya, berbagai narasi tentang Tiongkok kerap dibingkai ulang, diperdebatkan, bahkan tertutupi oleh sudut pandang eksternal yang lebih dominan.

Asal Tren Chinamaxxing

Para pengguna TikTok dan sejumlah media mengaitkan asal-usul tren ini dengan Sherry Zhu, influencer Tionghoa-Amerika berusia 23 tahun.

Dalam video viral yang diunggah pada 15 Januari 2026—yang meraih lebih dari 530.000 suka dan 3,1 juta penayangan—Zhu bercanda, "Sebagai penjahat Tiongkok, saya di sini untuk memberi tahu bahwa begitu kamu 'menjadi' orang Cina, kamu akan ikut kami makan hotpot."

Ia juga menyebut kebiasaan seperti minum air panas dan memakai sandal rumah sebagai bagian dari budaya. Respons pengguna pun antusias. Banyak yang mencoba tips tersebut dan membagikan rutinitas mereka, seperti sarapan bubur dan minum air hangat.

Tren ini juga merambah Instagram. Seorang pengguna, Farah Pink, mengaku tidak bosan menontonnya sambil mencoba konten serupa.  

Tanggapan Para Ahli

Para ahli menilai, momentum Tahun Baru Imlek 2026 ikut mendorong popularitas tren ini. Zhang Xinzhi, profesor madya di City University of Hong Kong, melihat meningkatnya pengaruh budaya Tiongkok dalam beberapa tahun terakhir.

Menurutnya, hal ini membuat topik terkait China semakin masuk ke arus utama dan memicu rasa ingin tahu publik. Zhang juga menilai tren ini terasa berbeda karena menampilkan sisi keseharian yang lebih dekat dengan masyarakat.

Alih-alih menyoroti pencapaian besar seperti teknologi atau infrastruktur, tren ini justru fokus pada hal sederhana—seperti minum air panas atau kebiasaan pengobatan tradisional—yang mudah diikuti.

Sementara itu, Troy Chen dari University of Nottingham Ningbo menyebut tren ini sebagai perpaduan rasa ingin tahu budaya, cerita lintas platform, dan humor. Pada akhirnya, ini hanyalah tren viral yang dimainkan secara ringan oleh banyak orang.

Saling Memahami Cara Hidup

Lisa Wang, warga Shanghai, menilai tren ini tidak sepenuhnya buruk. Di tengah situasi global yang tegang, ia melihat masih ada keinginan, terutama dari Gen Z, untuk saling memahami cara hidup satu sama lain.

Hal serupa disampaikan Niki Eu, ahli patologi bicara keturunan Tionghoa Singapura di Perth. Ia melihat pengaruh budaya Tiongkok—mulai dari pengobatan tradisional hingga makanan seperti hotpot—kian umum di Australia. Menurutnya, melihat orang asing mencoba hal-hal tersebut terasa menarik.

Zhang dari CityUHK menambahkan, figur publik seperti Jimmy O. Yang dan migrasi pengguna TikTok AS ke platform Tiongkok turut mempercepat tren ini.

Namun, kritik juga muncul. Sebagian diaspora Tionghoa menilai tren ini bisa terasa tidak sensitif, mengingat pengalaman diskriminasi yang pernah mereka alami.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |