Mengenal Amazake, Minuman Fermentasi Kuno Jepang yang Dijuluki Superdrink

12 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Amazake, minuman tradisional Jepang yang juga dikenal sebagai produk kesehatan dan kecantikan, mudah dicerna dan bebas gluten, sehingga kerap dijuluki "infus yang bisa diminum."

Melansir BBC, 25 Februari 2026, jika Anda berjalan menuruni jalan setapak panjang dari puncak Fushimi Inari di Kyoto menuju rumah-rumah di bawah, banyak penduduk memanfaatkan arus peziarah dengan membuka kafe kecil di rumah mereka.

Di jalan berkelok-kelok itu, Anda akan menemukan amazake, minuman beras fermentasi ringan non-alkohol, yang menurut papan petunjuk berbahasa Inggris bisa disajikan panas atau dingin.

Superdrink yang lembut dan sedikit manis ini terasa seperti hadiah setelah melewati perjalanan fisik—mirip kombucha yang memulihkan energi. Namun, apa yang Anda beli dengan 400 yen (sekitar Rp 43 ribu) lebih dari sekadar minuman.

Seteguk amazake adalah sepotong sejarah kuliner Jepang, menyimpan warisan rasa dan tradisi yang telah diwariskan selama berabad-abad. Amazake pertama kali dikembangkan pada periode Kofun, sekitar 250–538 M.

Awalnya, minuman ini lahir dari teknik fermentasi dan pengawetan makanan menggunakan campuran beras, air, dan koji, jamur berfilamen yang juga dipakai untuk membuat miso, natto, dan kecap. Campuran tersebut direbus selama delapan hingga sepuluh jam, menghasilkan minuman yang kaya nutrisi sekaligus bakteri baik untuk pencernaan.

Popularitas amazake begitu besar hingga tercatat dalam Nihon Shoki, teks sejarah resmi tertua Jepang yang disusun pada 720 M. Seiring waktu, minuman ini mengalami pasang surut.

Naik Turun Popularitas Amazake

Penjualannya sempat melonjak hingga 134,8 persen pada 2016–2017 ketika tren fermentasi rumahan semakin populer, menurut pameran Foodex Japan.

Pada 2019, amazake kembali mencuri perhatian setelah boyband Kanjani Eight menjadi duta merek Hiyashi Amazake. Kini, minuman tradisional ini mudah ditemukan di kafe maupun minimarket di seluruh Jepang, dinikmati sebagai teman sarapan pagi atau penyegar di sore hari.

Hiroshi Sugihara, penjual ikan dan penggemar fermentasi asal Prefektur Aichi yang kini tinggal di Perth, Australia, menyaksikan sendiri perkembangan budaya fermentasi. Grup Facebook-nya, THE BREW LIFE, yang didirikan pada 2014, kini memiliki lebih dari 5.900 anggota, dan ia aktif memperkenalkan amazake pada komunitas internasional tersebut.

"Itu sangat menarik, ada beragam reaksi dari anggota Kaukasia, tapi orang Asia biasanya bisa mengaitkannya dengan makanan manis tradisional mereka," ujarnya.

Perkembangan dan Ikatan Budaya

Sugihara mengenang tradisi meminum amazake hangat di kuil saat malam Tahun Baru. Ditambahkan jahe, minuman ini dipercaya menghangatkan tubuh, dan populer dikonsumsi selama musim dingin, termasuk saat Hinamatsuri atau "Festival Boneka."

Bagi banyak orang Jepang, amazake juga menyimpan nostalgia dan identitas budaya. Shihoko Ura, penulis blog Chopstick Chronicles, mengingat pengalaman pribadinya setelah bermigrasi ke Australia.

Saat menjadi perawat Palang Merah di Kota Ise, dekat Kuil Ise, ia selalu menantikan suguhan manis amazake gratis yang diberikan pada jemaah dan petugas pertolongan pertama di sela-sela shift delapan jamnya.

Secara harfiah, amazake berarti "sake manis," meskipun kandungan alkoholnya sangat rendah karena proses fermentasinya. Teksturnya kental, mirip bubur nasi, dengan potongan kecil koji yang tersuspensi di dalam cairan. Dengan sekitar 80 kalori per 100 gram, minuman ini tergolong ringan dan sehat.

Kandungan Nutrisi dan Klaim Kesehatan

Amazake kaya akan vitamin B6, asam folat, asam ferulat, serat, dan glukosa dalam jumlah cukup tinggi. Kombinasi ini membuatnya populer sebagai minuman pemulih energi, bahkan sering dikaitkan dengan manfaat untuk pertumbuhan rambut, kesehatan kulit, metabolisme, hingga membantu pemulihan dari mabuk.

"Saya biasanya meminumnya saat pilek atau demam, terutama ketika tidak nafsu makan," kata Sugihara. "Amazake lebih mudah ditelan dan berkat enzim pemecah pati dalam koji, rasanya seperti sudah dicerna sebagian, jadi baik untuk pencernaan."

Dalam dunia kecantikan, Misaki, model sekaligus duta Spa LaQua di Tokyo, menambahkan bahwa vitamin B dalam amazake berperan dalam metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein, yang berdampak pada kesehatan kulit dan rambut. Selain itu, kandungan ergothioneine, antioksidan alami, diyakini membantu menekan tanda-tanda penuaan kulit.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |