Malaysia Tolak Izin Khusus Calo Foto di Destinasi Wisata, Singgung Faktor Keamanan

5 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Malaysia mengaku tidak akan mengeluarkan izin khusus pada para calo foto yang beroperasi di beberapa destinasi wisata populer di Kuala Lumpur. Keputusan tersebut dibuat setelah mempertimbangkan masalah keselamatan yang melibatkan wisatawan dan pengguna jalan di persimpangan yang ramai.

Melansir News Straits Times, Selasa, 7 April 2026, Menteri di Departemen Perdana Menteri (Wilayah Federal) Hannah Yeoh mengatakan, kunjungan lapangan baru-baru ini ke persimpangan dekat Menara Kembar Petronas mengungkap masalah keselamatan yang terkait aktivitas tersebut.

"Apa yang kami amati adalah persimpangan tersebut bukanlah tempat yang aman untuk melakukan kegiatan fotografi. Karena alasan itu, kami tidak dapat mempertimbangkan untuk mengeluarkan izin," katanya.

Yeoh menyebut, kunjungan lapangannya bersama Wali Kota Kuala Lumpur Datuk Seri Fadlun Mak Ujud, beserta petugas keamanan Balai Kota Kuala Lumpur dan KLCC, menemukan bahwa aktivitas tersebut sudah mulai berkurang.

"Balai Kota telah memasang kamera CCTV tambahan di persimpangan tersebut, dan selama kunjungan lapangan kami, kami mengamati penurunan aktivitas tersebut. Polisi juga melakukan operasi terpadu bersama Balai Kota."

Ia mengatakan, sistem pengumuman publik dalam berbagai bahasa juga telah dipasang di area tersebut, yang mengeluarkan pengingat setiap 10 menit yang menyarankan wisatawan untuk tidak menggunakan jasa calo foto.

Yeoh mengatakan, penangkapan telah dilakukan melalui operasi penegakan hukum terpadu secara berkala, menambahkan bahwa pemeriksaan menemukan bahwa beberapa dari mereka yang ditahan adalah warga negara asing yang menggunakan identitas palsu.

Tidak Hanya di Malaysia

"Saya telah mendapat informasi bahwa mereka juga berkumpul di sekitar jembatan Saloma Link dan tempat-tempat wisata populer lainnya. Jika kita berhasil mengurangi aktivitas tersebut, kita akan memperluas penegakan hukum ke lokasi lain," sebut dia.

Kepala Kepolisian Dang Wangi, Asisten Komisaris Sazalee Adam, sebelumnya dilaporkan mengatakan bahwa pemantauan terus menerus akan dilakukan di lokasi-lokasi penting untuk menekan aktivitas tersebut.

Malaysia bukan satu-satunya yang menghadapi masalah tersebut. Sebelumnya, Wat Arun Ratchawararam Ratchawaramahawihan di Bangkok, Thailand, merilis permintaan maaf menyusul keluhan publik atas perilaku beberapa fotografer lokal. Mereka dituduh mengganggu wisatawan untuk keuntungan pribadi.

Melansir The Thaiger, 9 Januari 2026, mengenakan pakaian tradisional saat mengunjungi kuil semakin populer di kalangan wisatawan lokal dan asing. Wat Arun adalah salah satu lokasi favorit untuk sesi foto berkat menara prang ikonisnya, serta detail dekoratif warna-warni dari potongan-potongan kecil porselen Tiongkok dan kerang bekas.

Berbuah Kritik

Tren ini menyebabkan semakin banyaknya toko penyewaan kostum dan jasa fotografi di sekitar kuil. Para operator sering mendekati pengunjung di dalam kompleks kuil untuk mempromosikan layanan mereka.

Namun, untuk mendapatkan hasil foto yang sempurna bagi klien yang membayar, beberapa fotografer dilaporkan telah menyingkirkan kerumunan dari latar belakang, berteriak pada turis untuk minggir, atau meminta pengunjung berhenti berjalan melalui area tertentu, menyebabkan ketidaknyamanan.

Masalah ini mendapat perhatian lebih luas setelah Krisda "Pond" Witthayakhajorndet, pendiri Be On Cloud, membagikan pengalamannya secara daring. Ia mengkritik perilaku para fotografer, mengatakan bahwa hal itu mengganggu wisatawan dan menciptakan suasana negatif.

Krisda menekankan bahwa kuil tersebut adalah ruang publik dan tidak boleh dieksploitasi untuk kepentingan bisnis pribadi. Banyak warganet berbagi pengalaman serupa di Wat Arun, yang mendorong Kepolisian Pariwisata Thailand untuk turun tangan mengatasi situasi tersebut.

Jadi Kontroversi di Jepang

Sementara itu, spot foto viral di Jepang telah menuai kontroversi. Melansir CNN, kota kecil bernama Fujikawaguchiko sempat menarik perhatian internasional karena keputusannya yang kontroversial untuk menghalangi pemandangan Gunung Fuji dari cabang minimarket Lawson.

Namun, mereka diam-diam membatalkan keputusannya. Ketika spot foto tersebut jadi populer di Instagram dan TikTok, kota tersebut dibanjiri wisatawan yang datang dari seluruh dunia. Menurut beberapa penduduk kota, para pengunjung akan meninggalkan sampah dan tidak mematuhi peraturan lalu lintas, meski ada rambu-rambu dan petugas keamanan.

Pada Mei 2024, Fujikawaguchiko memasang jaring hitam besar, yang secara efektif menghalangi panorama Gunung Fuji. Namun, pada 15 Agustus 2024, pejabat kota diam-diam mencopotnya.

Awalnya, jaring tersebut berencana dicopot sementara karena angin kencang di daerah tersebut. Namun sekarang, pejabat Fujikawaguchiko mengatakan, tidak ada batas waktu untuk memasang kembali penghalang tersebut.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |