Larangan Pakai Piyama ke Bandara yang Menuai Pro Kontra

18 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Bandara Internasional Tampa, Florida, Amerika Serikat (AS), sempat menggemparkan pengguna media sosial, bulan lalu, setelah akun X-nya menyatakan larangan memakai piyama, yang disebutnya sebagai "darurat mode" di terminal keberangkatan.

"Kami sudah cukup melihat. Kami sudah muak. Sudah waktunya untuk melarang menggunakan piyama di Bandara Internasional Tampa," bunyi isi unggahan tersebut.

Melansir New York Post, 27 Februari 2026, setelah mengunggah larangan penggunaan sandal Crocs, pihak bandara mengatakan, mereka akan bergerak untuk mengatasi "krisis yang lebih besar," yakni "piyama di bandara." 

"Kegilaan berhenti hari ini," kata mereka. "Gerakan ini dimulai sekarang. Bantu Bandara Internasional Tampa menjadi bandara pertama di dunia yang bebas Crocs dan piyama. Lakukan bagianmu. Katakan tidak pada piyama di TPA." 

Melalui sebuah pernyataan, Bandara Internasional Tampa mengklarifikasi bahwa mereka sebenarnya tidak melarang penggunaan pakaian tidur di terminal, menyebut unggahan X hanyalah konten media sosial untuk terlibat dengan pengikut mereka.

"Unggahan tentang pelarangan piyama adalah sindiran lucu lainnya terhadap perdebatan mode di hari perjalanan," kata mereka. "Kami mendorong penumpang kami bepergian dengan nyaman dan menghargai pengikut setia kami yang menikmati humor online tersebut."

Namun, manifesto yang bernada sarkas itu dengan cepat lepas landas secara online, dan tidak semua orang menerimanya dengan baik. "Siapa yang peduli dengan apa yang saya kenakan sementara petugas TSA kalian memeriksa semua barang saya dan memeriksa badan saya?" seseorang menulis di bawah unggahan itu.

Pro dan Kontra Warganet

Namun, tidak semua orang menanggapinya dengan kesal. Sebagian penumpang justru melihatnya dari sudut pandang yang berbeda. Mereka menilai upaya bandara ini sebagai langkah positif untuk mengembalikan kesan rapi dan sopan saat bepergian.

Seorang pengguna bahkan menganggap kebijakan tersebut sebagai bentuk penghargaan terhadap etika berpakaian di ruang publik. Ia menilai, di banyak negara lain, standar seperti ini masih dijaga dengan baik. Karena itu, apa yang dilakukan pihak bandara dianggap sudah tepat.

Dukungan serupa juga datang dari warganet lain. Menurut mereka, sudah saatnya orang dewasa menunjukkan sikap yang lebih pantas di ruang publik. Bagaimanapun, jika orang dewasa tidak memberi contoh, akan sulit mengharapkan generasi muda untuk bersikap lebih baik.

Nostalgia Etika Berpakaian

Rasa nostalgia pun muncul—kerinduan pada masa ketika bepergian terasa begitu elegan. "Dulu, orang Amerika berdandan rapi setiap kali bepergian. Cara kita berpakaian sekarang, rasanya banyak mencerminkan seperti apa jati diri bangsa ini," ujar seorang pengguna.

Namun, kritik tidak berhenti di situ. Ada juga yang melihat usulan ini sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar soal gaya. "Ini taktik yang aneh—seolah-olah ingin membawa kita ke situasi di mana hanya orang kaya yang bisa terbang. Seakan-akan rakyat biasa tidak boleh 'mencemari' dunia itu,” komentar yang lain.

Terlepas dari apakah tren meninggalkan piyama ini sekadar satir, eksperimen sosial, atau memang sikap serius soal gaya, satu hal terasa jelas: di tahun 2026, turbulensi yang sebenarnya mungkin bukan lagi terjadi di udara, melainkan justru di terminal.

Seruan Berpakain Lebih Pantas

Kecaman bernada sarkasme dari Tampa ini tentu tidak muncul begitu saja. Seperti yang sebelumnya dilaporkan oleh The Post, Menteri Transportasi AS Sean Duffy sempat mengimbau warga Amerika untuk meningkatkan kesopanan sejak musim perjalanan Thanksgiving yang padat pada November tahun lalu.

"Kami melihat adanya… mungkin penurunan dalam hal kesopanan, khususnya di wilayah udara," ujarnya saat itu. "Hal seperti ini tidak bisa diatur lewat undang-undang, bukan? Tidak bisa dipaksakan."

Meski begitu, ia tetap menyampaikan permintaannya. "Mari kita coba untuk tidak memakai sandal atau piyama saat datang ke bandara," katanya.

Menurutnya, berpakaian dengan sedikit lebih niat bisa membawa perubahan kecil dalam perilaku. "Mungkin cukup dengan jeans dan kemeja yang pantas. Saya ingin mendorong orang untuk berpakaian sedikit lebih baik—siapa tahu itu juga membuat kita bersikap sedikit lebih baik."

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |