Krisis Petugas Keamanan Bandara AS, Calon Penumpang Pesawat Antre Check In hingga 3 Jam

6 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Krisis petugas keamanan bandara yang dipicu oleh terhentinya pendanaan untuk Administrasi Keamanan Transportasi (TSA) Amerika Serikat (AS) berbuntut antrean panjang calon penumpang pesawat di berbagai bandara. Mereka bahkan harus menunggu hingga tiga jam hanya untuk melakukan check-in penerbangan mereka.

"Ini gila," kata Chip B (66), seorang penumpang asal Texas yang pada Minggu, 21 Maret 2026, menghabiskan 45 menit untuk mengantre pra-check-in di Terminal B Bandara LaGuardia New York yang penuh sesak, dikutip dari NY Post, Senin (23/3/2026). "Jika ingin tentang kekurangan personel TSA, ayolah, mari kita pekerjakan mereka."

Kekesalan juga dirasakan Chris, seorang warga Connecticut berusia 54 tahun. Ia mendesak anggota parlemen AS untuk segera membereskan masalah tersebut karena berdampak para masyarakat umum.

"Masalah utama saya adalah pekerjaan di TSA bukanlah pekerjaan yang bagus sejak awal," katanya saat mencoba naik pesawat ke Fort Lauderdale. "Mereka tidak dibayar sementara para politikus yang mengacarkan segalanya malah dibayar."

Seorang pekerja maskapai penerbangan juga terimbas hal itu Ia yang kelelahan melayani penumpang pesawat yang menumpuk menyatakan singkat, "Ini gila."

Kekacauan di bandara telah melanda seluruh negeri, karena perselisihan di Capitol Hill menyebabkan para petugas keamanan bandara dari TSA bekerja tanpa bayaran. Banyak yang memilih tinggal di rumah atau mengundurkan diri sementara para pelancong yang sedang liburan musim semi bergegas pulang.

Agen TSA Tak Digaji

Agen TSA yang tetap bekerja tak mendapatkan gaji mereka minggu lalu. Penundaan ini merupakan buntut perseteruan antara Partai Republik dan Demokrat, yang ingin mengaitkan pendanaan untuk Departemen Keamanan Dalam Negeri, yang mencakup TSA, dengan pengawasan yang lebih ketat terhadap agen-agen Imigrasi dan Bea Cukai (ICE).

Kedua pihak saling menyalahkan – sementara penumpang pesawat memadati terminal bandara. "Saya belum pernah melihat hal seperti ini," kata Jared Everett, yang sedang berlibur di New York bersama istrinya, mengatakan kekacauan tersebut telah menunda penerbangannya pukul 16.30 ke Charlotte selama 40 menit.

"Ini sangat tidak bertanggung jawab dari para anggota parlemen kita yang menempatkan kita dalam posisi ini," kata Everett (53). "Kita pantas mendapatkan yang lebih baik. Mereka bukanlah kelompok orang yang paling fungsional yang pernah kita lihat."

Akibat kekacauan di bandara itu, Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengirimkan agen ICE ke bandara-bandara utama mulai hari ini. Namun, hal itu belum tentu jadi solusi.

Ancaman Donald Trump Kerahkan Agen ICE

Ancaman Trump itu menyusul kebuntuan diskusi antara Partai Republik dan Partai Demokrat terkait pendanaan Departemen Dalam Negeri AS (DHS) yang menyebabkan para pekerja Administrasi Keamanan Transportasi (TSA) tidak dibayar dan gangguan perjalanan meningkat.

"Jika Demokrat tidak mengizinkan Keamanan yang Adil dan Tepat di Bandara kita, dan di tempat lain di seluruh Negara kita, ICE akan melakukan pekerjaan jauh lebih baik daripada yang pernah dilakukan sebelumnya!" tulis presiden di Truth Social, dikutip dari CNN, Minggu, 22 Maret 2026.

"Saya berharap dapat mengerahkan ICE pada Senin, dan telah memberi tahu mereka untuk, ‘BERSIAPLAH.’ TIDAK ADA LAGI MENUNGGU, TIDAK ADA LAGI PERMAINAN!"

Tidak jelas fungsi apa yang akan dilakukan agen ICE karena mereka tidak terlatih dalam pemeriksaan keamanan bandara. "Untuk menjadi petugas TSA, petugas bersertifikat, agar mampu melakukan pemeriksaan membutuhkan waktu berminggu-minggu dan berbulan-bulan," kata George Borek, seorang petugas TSA Atlanta dan perwakilan serikat pekerja, kepada CNN. "Presiden dapat meminta mereka datang ke sana, tetapi saya tidak melihat bagaimana itu membantu kita melewati periode waktu ini."

Peringatan dari TSA

Sebelumnya, TSA memperingatkan operasional bandara bisa berhenti sama sekali karena banyak petugas keamanan yang absen, bahkan mengundurkan diri.

"Bukan berlebihan untuk mengatakan bahwa kita mungkin harus benar-benar menutup bandara, terutama bandara yang lebih kecil, jika tingkat ketidakhadiran meningkat,” kata penjabat wakil administrator TSA, Adam Stahl, pada Selasa, 17 Maret 2026.

Meskipun TSA secara teknis tidak berwenang menutup bandara secara sepihak, penumpang dan awak pesawat harus diperiksa sebelum pesawat dapat lepas landas. Jika tidak ada yang melakukan itu, pesawat tidak dapat terbang.

"Kami membuat keputusan ini berdasarkan bandara per bandara," kata Stahl kepada CNN pada Rabu, 18 Maret 2026. "Seiring berjalannya waktu, petugas TSA kami, selama mereka tidak dibayar, mereka akan terus absen, mereka tidak mampu untuk datang, dan mereka akan berhenti sama sekali."

Ini adalah efek berantai terbaru dari terhentinya pendanaan untuk DHS selama sebulan. Para pekerja TSA tidak menerima gaji selama penutupan berlangsung hingga departemen tersebut dibuka kembali. Para pemimpin serikat pekerja mengatakan beberapa pekerja TSA mengundurkan diri, dan banyak lainnya mengambil cuti mendadak karena mereka tidak mampu membeli bensin atau biaya penitipan anak yang dibutuhkan untuk pergi bekerja.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |