Korea Selatan Aktifkan Kembali Jalur Kereta Wisata Perdamaian Setelah 6 Tahun Ditangguhkan

17 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Kementerian Unifikasi Korea Selatan mengumumkan pada Kamis, 9 April 2026, bahwa layanan kereta wisata reguler antara Stasiun Seoul dan Stasiun Dorasan akan kembali diaktifkan. Pengumuman itu mengakhiri penangguhan layanan selama lebih dari enam tahun.

Rute kereta yang dinamai 'Kereta Penghubung Perdamaian DMZ' itu akan beroperasi setiap Jumat kedua dan keempat setiap bulan. Kereta itu akan beroperasi di Jalur Gyeongui, melewati Stasiun Imjingang dan memasuki Zona Kontrol Sipil untuk mencapai Stasiun Dorasan, stasiun penumpang paling utara di Korea Selatan dan pemberhentian terakhir sebelum Zona Demiliterisasi.

Mengutip Korea Times, Jumat (10/4/2026), Stasiun Dorasan, yang terletak sekitar 56 kilometer dari Seoul dan 205 kilometer dari Pyongyang, memiliki makna simbolis sebagai titik awal dari mana jalur penghubung ke utara akan dimulai di masa mendatang. Sebuah papan di stasiun tersebut bertuliskan, "Ini bukan stasiun terakhir dari Selatan, tetapi stasiun pertama menuju Utara."

Untuk menandai peristiwa tersebut, pemerintah akan mengadakan upacara bertajuk "Stasiun Dorasan, Menghubungkan Kembali Perdamaian" pada Jumat, 10 April 2026, di Stasiun Seoul dan Stasiun Dorasan. Acara ini akan terdiri dari tiga segmen: upacara keberangkatan di Stasiun Seoul, upacara pembukaan kembali di Stasiun Dorasan, dan kunjungan wisata perdamaian ke Camp Greaves, bekas pangkalan militer AS di dekat DMZ yang telah diubah menjadi fasilitas budaya dan pendidikan.

Sekitar 260 peserta diperkirakan akan hadir, termasuk anggota Majelis Nasional, pembelot Korea Utara, anggota keluarga yang terpisah, mahasiswa internasional, perwakilan pemuda, dan pemimpin masyarakat.

Korea Utara Dilaporkan Bangun Tembok di Perbatasan

Kereta wisata DMZ mulai beroperasi pada Mei 2014 dan dihentikan sementara pada 2019. Layanan secara resmi dihentikan pada Desember 2023, dengan peluncuran pada Jumat lalu mewakili iterasi baru layanan tersebut dengan nama baru.

Sementara, hubungan Korea Utara dan Korea Selatan masih terus tegang. Pada 2024, BBC melaporkan bahwa Korea Utara membangun apa yang diyakini sebagai tembok di sejumlah tempat dekat perbatasannya dengan Korea Selatan. 

Gambar satelit yang dianalisis oleh BBC Verify menunjukkan bahwa ada pembukaan lahan di dalam Zona Demiliterisasi (DMZ) sisi Korea Utara. Kegiatan Korea Utara baru-baru ini tidak biasa, menurut para ahli, dan terjadi pada saat meningkatnya ketegangan antara kedua negara.

DMZ adalah zona penyangga selebar empat kilometer antara Korea Utara dan Korea Selatan, yang secara teknis masih berperang karena belum pernah menandatangani perjanjian damai. DMZ dibagi menjadi dua, dengan dikendalikan oleh negara masing-masing.

Analisis Pakar Militer soal Tembok di Perbatasan Korea Utara

"Saat ini kami hanya bisa berspekulasi bahwa Korea Utara berupaya memperkuat kehadiran militer dan benteng pertahanannya di sepanjang perbatasan," kata Shreyas Reddy, koresponden situs spesialis Korea Utara, NK News, yang berbasis di Seoul, seperti dilansir BBC, Jumat, 21 Juni 2024.

Tanggal pasti dimulainya pembangunan tidak jelas karena kurangnya citra resolusi tinggi sebelumnya di daerah tersebut. Namun, struktur itu tidak terlihat pada gambar yang diambil pada November 2023.

"Penilaian pribadi saya adalah bahwa ini adalah pertama kalinya mereka membangun penghalang dalam arti memisahkan tempat satu sama lain," kata pakar militer dan pertahanan di Asan Institute for Policy Studies di Seoul Uk Yang kepada BBC.

"Pada 1990-an, Korea Utara membangun tembok anti-tank untuk menghalangi gerak maju tank jika terjadi perang. Namun baru-baru ini, Korea Utara telah membangun tembok setinggi 2-3m, dan tembok tersebut tidak terlihat seperti tembok anti-tank."

Uk Yang menambahkan, "Bentuk dindingnya menunjukkan bahwa dinding tersebut bukan sekadar penghalang (untuk tank), namun dimaksudkan untuk membagi suatu area."

Reunifikasi 2 Korea Tak Akan Terwujud?

Perang Korea berakhir pada 1953 dengan gencatan senjata, dengan kedua belah pihak berjanji untuk tidak melakukan tindakan permusuhan apa pun di dalam, dari, atau terhadap DMZ. Meskipun reunifikasi tampaknya tidak mungkin terjadi selama bertahun-tahun, hal ini selalu menjadi tujuan yang dinyatakan para pemimpin Korea Utara.

Namun pada awal 2024, Kim Jong Un mengumumkan bahwa negaranya tidak akan lagi mengejar ambisi tersebut. Beberapa ahli menyebut pernyataan tersebut 'belum pernah terjadi sebelumnya' dan melihat adanya perubahan kebijakan yang signifikan ketika Kim Jong Un menyebut Korea Selatan sebagai 'musuh utama' pada awal tahun ini.

Sejak itu, Korea Utara juga mulai menghapus simbol-simbol yang mewakili persatuan kedua negara, seperti menghancurkan monumen dan menghapus referensi reunifikasi di situs web pemerintah.

"Korea Utara sebenarnya tidak membutuhkan lebih banyak penghalang untuk mencegah serangan dari Korea Selatan, namun dengan mendirikan penghalang perbatasan ini, Korea Utara memberikan sinyal bahwa mereka tidak ingin melakukan reunifikasi," kata kepala Kajian Eropa dan Internasional di Universitas Kings London Ramon Pacheco Pardo.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |