Kisah Satiyah Sang Juru Masak Andalan Keluarga BJ Habibie dan Ainun

15 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Jika keluarga Presiden Sukarno punya Sarinah sebagai pengasuh yang paling berjasa, keluarga BJ Habibie dan Ainun punya Satiyah. Perempuan kelahiran 1971 itu menjadi juru masak andalah keluarga presiden ke-3 Republik Indonesia sejak 1987. Artinya, hampir 40 tahun ia melayani kebutuhan pangan keluarga sang teknokrat dengan segala ceritanya.

"Dulu main ke sini, ada kakak main ke sini. Terus aku ditawarin (kerja di rumah BJ Habibie). Tapi karena aku merasa masih kecil, enggak mau (awalnya), masih pengen main. Enggak kepikiran bahwa saya pengen kerja dan tinggal di sini," tutur perempuan asal Cilacap, Jawa Tengah itu, ditemui di sela tur Habibie Legacy Experience di Jakarta, beberapa waktu lalu.

Tanpa detail lebih lanjut, Satiyah akhirnya 'bergabung' dengan keluarga Habibie. Ia langsung bertugas mengelola dapur. Dengan pengalaman yang minim, ia mengaku diajari langsung sang nyonya rumah, tak lain Ainun Habibie. Salah satunya adalah sayur lodeh.

"Jadi, setiap masak itu harus ada sayur lodeh," kata Satiyah.

Resep awal diajarkan Ainun, tapi Satiyah mengembangkannya dengan menambah cita rasanya sendiri. Hanya saja, resep dasar, yakni mengganti santan dengan susu dan krimer, tetap dipertahankan. "Soalnya Pak Habibie enggak suka santan. Dia sukanya makanan yang sehat," ucapnya.

Keluarga Habibie juga menyukai tumis kangkung dan labu siam. Begitu pula dengan tempe dan tahu goreng. Yang tak boleh ketinggalan lagi di meja makan adalah sambal. Lantaran preferensi rasa antara Habibie dan Ainun berbeda, dengan Habibie cenderung suka gurih dan asin, sedangkan Ainun lebih manis, Satiyah sampai menghidangkan dua jenis sambal di atas meja.

"Jadi rasanya ada yang manis satu, satu lagi (gurih)," sambungnya.

Kuasai Dapur Keluarga Habibie

Ada lagi kebiasaan makan Habibie semasa hidup yang dibagikan Satiyah. Ia mengungkapkan bahwa setiap Jumat, mantan Menristek itu selalu minta dibikinkan bubur manado. "Mungkin karena semuanya ada di situ. Sayuran masuk semua, ada karbohidratnya," ujar Satiyah.

Habibie juga suka meminum kopi hitam yang dihidangkan setiap pagi. Jenisnya tak terbatas pada biji kopi tertentu, bahkan kopi bubuk instan yang diproduksi massal pun diminumnya.

Kopi itu diminumnya bersama menu sarapan pagi itu. Biasanya, ia menyantap roti yang diberi selai atau butter atau bubur ayam yang mengenyangkan. "Karena lupa, Pak Habibie dulu pernah balik lagi ke rumah untuk mengambil kopinya," tutur Satiyah, mengingatkan pada salah satu adegan di film Habibie dan Ainun.

Ia juga mengenang masa disuruh memasak dalam jumlah besar untuk menjamu tamu yang datang ke rumah Habibie. Jumlahnya sekitar 70--75 orang. Ia diminta memasak nasi liwet dan lauknya, khususnya sayur labu siam kesukaan Habibie. Semua dikerjakannya sendirian.

"Kalau saya ada yang (bantuin) jadi malah repot," celotehnya.

Pesan Habibie untuk Satiyah soal Resep Keluarganya

Meski menguasai dapur, Ainun sebagai nyonya rumah dan Habibie sebagai kepala rumah tangga sesekali mengajari Satiyah. Bahkan dalam satu waktu, ia dipesankan khusus oleh Habibie soal resep keluarganya. "Jadi, resep itu jangan dikasih orang katanya. Nggak boleh," kata Satiyah.

Karena itu, ia hanya memberikan contoh masakan keluarga Habibie untuk dibedah sendiri oleh Plataran Catering Services. Perusahaan katering itu dipercaya Wisma Habibie dan Ainun untuk menjamu tamu tur Habibie Legacy Experience ataupun acara spesial lain yang digelar di tempat itu.

Menu sayur lodeh dimasukkan sebagai menu pembuka. Dihidangkan di dalam batok kelapa muda yang daging kelapanya begitu lembut. Coorporate Chef Plataran Indonesia, Reiyan, menjelaskan pihaknya berusaha menyajikan makanan rumahan itu naik kelas dengan menerapkan teknik memasak profesional.

Daftar menu juga memasukkan sate domba gulai kota kembang yang diolah dengan teknik confit dan braised dengan bumbu gulai. Tak ketinggalan dengan iga sapi saus soto betawi yang terinspirasi dari soto betawi andalan Satiyah. "Jadi memang tetap ada sentuhan dari kita yang profesional yang terinspirasi dari masakan rumahan," tutur Reiyan.

Setia hingga Akhir

Selepas kepergian Habibie dan Ainun selamanya, dapur kini menjadi tanggung jawab Satiyah sepenuhnya. Terlebih, anak sulung Habibie, Ilham Akbar Habibie, memintanya tetap tinggal dan memasakkan keluarganya makanan dari resep-resep yang sudah ada.

Di sisi lain, Satiyah merasa keluarga itu seperti keluarganya sendiri. Ia mengaku sering curhat pada Ainun semasa masih hidup tentang banyak hal. Bahkan, Ainun berperan dalam mendekatkannya dengan suaminya saat ini.

Ia mengenang saat itu, pria yang menjadi suaminya kini mendekatinya untuk diperistri. Ia awalnya ragu karena merasa tidak terlalu menyukai pria yang juga bekerja untuk keluarga Habibie sebagai asisten pribadi Habibie. Satiyah muda yang galau lalu mencurahkan kegelisahannya pada Ainun.

"Kata Bu Ainun, coba bawa ke sini, saya pengen ngomong. Terus diseleksi bener sama ibu. Lalu ibu bilang orangnya baik kok. Dia rajin shalat. Direstui, akhirnya menikah," tuturnya.

Kini pernikahan Satiyah dan suaminya sudah berjalan 32 tahun. Ia berharap pernikahannya bisa selanggeng Habibie dan Ainun yang dinilai romantis hingga maut memisahkan.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |