Hanya 2 Power Bank per Penumpang yang Diperbolehkan dalam Penerbangan dari Singapura, Mulai Kapan?

18 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Penumpang yang berangkat dari Singapura hanya diperbolehkan membawa maksimal dua power bank per orang di dalam penerbangan.Otoritas Penerbangan Sipil Singapura (CAAS) mengatakan, pembatasan baru ini akan diterapkan mulai 15 April.

Melansir AsiaOne, Senin (6/4/2026), penumpang yang membawa lebih dari dua power bank diharuskan meninggalkannya sebelum penerbangan, demikian pernyataan tersebut. Menyusul pembatasan baru ini, power bank tidak boleh diisi daya di dalam pesawat dan dilarang keras dibawa dalam bagasi terdaftar.

Sebaliknya, power bank hanya boleh dibawa dalam bagasi kabin. Hal ini untuk memungkinkan penanganan insiden yang melibatkan power bank selama penerbangan tanpa penundaan.

Power bank, juga dikenal sebagai power pack atau baterai portabel, adalah perangkat portabel yang dirancang terutama untuk memasok daya ke peralatan lain. Mulai 15 April 2026, power bank dengan kapasitas Watt-jam tidak lebih dari 100 Watt-jam (Wh)/mAh, atau sekitar 27.000 mAh, diperbolehkan.

Sementara itu, power bank dengan kapasitas lebih dari 100 Wh, tapi tidak melebihi 160 Wh, harus mendapatkan persetujuan dari maskapai penerbangan. Perangkat tersebut juga harus dilindungi secara individual dari korsleting dengan cara menempelkan selotip pada terminal yang terbuka atau menempatkan setiap unit dalam kantong plastik atau kantong pelindung terpisah.

Pihak berwenang telah menyarankan penumpang mengomunikasikan dengan maskapai penerbangan masing-masing mengenai lokasi penyimpanan power bank yang tepat di kabin pesawat, karena kebijakan penyimpanan dapat berbeda antarmaskapai penerbangan.

Larangan di Jepang

Sementara itu, Jepang segera melarang penggunaan power bank di dalam pesawat penumpang. Kementerian Pertanahan, Infrastruktur, Transportasi, dan Pariwisata negara itu tengah berupaya memberlakukan larangan penggunaan tersebut, bersamaan dengan pembatasan baru mengenai jumlah baterai portabel yang dapat dibawa penumpang ke dalam pesawat.

Melansir Nikkei, 19 Februari 2026, Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO) telah melarang pengisian daya baterai portabel di pesawat. Pihaknya juga sedang mempertimbangkan untuk merekomendasikan larangan penuh terhadap penggunaannya.

Kementerian Jepang berencana menerbitkan amandemen legislatif dengan batasan yang lebih ketat terhadap penggunaan baterai portabel di dalam pesawat paling cepat pada April 2026. Aturan yang diperketat ini berlaku untuk pesawat yang dioperasikan maskapai yang memiliki penerbangan berangkat dari atau tiba di Jepang.

Berkomunikasi dengan Maskapai Penerbangan

Kementerian negara itu mengatakan telah mulai menjelaskan perubahan tersebut pada maskapai penerbangan. Baterai berkapasitas tinggi yang melebihi 160 watt-jam akan tetap dilarang. Untuk baterai berkapasitas 160 watt-jam atau kurang, penumpang akan dibatasi hingga dua unit per orang.

Aturan saat ini melarang baterai portabel dalam bagasi terdaftar. Untuk bagasi kabin, penumpang diperbolehkan membawa hingga dua baterai dengan kapasitas antara 100 watt-jam dan 160 watt-jam, sedangkan baterai di bawah 100 watt-jam tidak dibatasi.

Baterai portabel, yang ditenagai sel lithium-ion, banyak digunakan sebagai perangkat pengisi daya untuk ponsel pintar dan tablet. Namun, sel lithium-ion sensitif terhadap kerusakan akibat benturan dan panas. Banyak insiden terjadi akibat sel tersebut mengeluarkan asap atau terbakar.   

Insiden terkait Power Bank

Menurut laporan Institut Teknologi dan Evaluasi Nasional Jepang, terdapat 123 kecelakaan terkait baterai ponsel pada 2024, meningkat 160 persen dari 47 kecelakaan tahun 2020. Banyak insiden melibatkan perangkat yang terbakar saat digunakan untuk mengisi daya ponsel pintar.

Pada Januari 2025, sebuah pesawat yang dioperasikan maskapai penerbangan Air Busan terbakar di Bandara Internasional Gimhae di Busan, Korea Selatan. Baterai ponsel dianggap sebagai penyebab kejadian tersebut. Pada Oktober tahun lalu, baterai ponsel di penerbangan ANA dari Naha di Okinawa ke Bandara Haneda di Tokyo dilaporkan mengeluarkan asap.

Insiden serupa juga terjadi di kereta api. Pada Juli 2026, baterai ponsel terbakar di dalam gerbong kereta di jalur Yamanote yang ramai di Tokyo, melukai lima orang.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |