Dampak Gencatan Senjata Iran dan AS terhadap Penerbangan di Timur Tengah

6 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Setelah berminggu-minggu pertempuran, Amerika Serikat (AS) mengklaim Iran sepakat untuk gencatan senjata selama dua minggu. Konflik dimulai ketika AS dan Israel melancarkan serangan terhadap target-target Iran, yang memiliki berbagai dampak di luar bidang militer.

Penerbangan adalah salah satu sektor yang terdampak paling parah, dengan bandara-bandara utama di Timur Tengah hampir lumpuh, melansir Simple Flying, Kamis (9/4/2026). Di seluruh dunia, maskapai penerbangan juga merasakan dampak krisis ini karena kenaikan harga bahan bakar, yang terjadi akibat gangguan pasokan minyak.

Gencatan senjata ini diharapkan akan memberi sedikit keringanan di bidang ini, dengan BBC melaporkan bahwa Selat Hormuz akan dibuka kembali untuk lalu lintas pelayaran. Namun, beberapa pemangku kepentingan utama di sektor penerbangan tetap skeptis terhadap potensi keringanan yang akan benar-benar diberikan gencatan senjata tersebut.

Conde Nast Traveller memperkirakan maskapai penerbangan di kawasan ini akan meningkatkan jumlah penerbangan dalam waktu dekat, tanpa indikasi perubahan jadwal dari maskapai, seperti Emirates, Etihad Airways, dan Qatar Airways.

Alasan utama di balik ini adalah bahwa gencatan senjata, untuk saat ini, hanya bersifat sementara. Wilayah udara juga tetap terbatas, dan banyak negara belum mengubah peringatan perjalanan untuk kawasan tersebut.

Dalam beberapa minggu terakhir, tiga maskapai penerbangan besar Timur Tengah telah menambah jadwal penerbangan mereka. Emirates kini berada pada 70 persen dari tingkat sebelum perang, dengan pesaingnya dari UEA, Etihad, tidak jauh tertinggal di angka 65 persen.

Rencana Jangka Panjang

Sementara itu, Qatar Airways tertinggal di angka 40 persen. Peningkatan bertahap ini mencerminkan ketidakpastian konflik modern, sehingga fakta bahwa gencatan senjata tidak diharapkan menghasilkan peningkatan besar dalam jangka pendek bukanlah hal yang mengejutkan.

Alasan utama di balik ini adalah maskapai-maskapai ini telah merencanakan dalam jangka panjang sebagai respons terhadap konflik. Hal ini mungkin paling baik diilustrasikan Qatar Airways, yang telah menghentikan operasional kedelapan pesawat Airbus A380-nya.

Pesawat-pesawat ini akan tetap tidak beroperasi sepanjang April dan Mei, dengan jadwal kembali beroperasi pada Juni, menurut pengumuman terakhir. Beralih dari armada ke jaringan penerbangannya, penangguhan jaringan Qatar Airways juga diberlakukan dalam jangka panjang.

Penangguhan Penerbangan

Qatar Airways telah menangguhkan sementara 64 rute hingga setidaknya Mei atau Juni. Pun Emirates yang telah menghapus A380 dari 15 rute karena kurangnya permintaan.

Meski demikian, ada tanda-tanda bantuan yang lebih cepat di tempat lain, dan mungkin bukan di tempat yang Anda duga akan muncul jika terjadi gencatan senjata. Secara khusus, diperkirakan bahwa jeda dalam pertempuran akan menyebabkan tanda-tanda pemulihan di India.

CNBC melaporkan bahwa saham maskapai penerbangan India IndiGo telah meningkat nilainya sebesar 11 persen sebagai akibat dari gencatan senjata AS-Iran yang baru ditandatangani. Ini menunjukkan berkurangnya tekanan pada penerbangan India secara keseluruhan.

Meski tidak secara langsung terdampak konflik dalam beberapa minggu terakhir, maskapai penerbangan negara tersebut telah menderita karena harus mengambil rute yang lebih panjang di sekitar wilayah udara yang sekarang tidak dapat digunakan.

Dibayangi Rencana Pembatalan Penumpang

Lebih lanjut, Timur Tengah adalah pasar utama bagi maskapai penerbangan India, dengan hingga 350 penerbangan biasanya dioperasikan setiap hari di rute tersebut. Jumlah ini turun menjadi 80-90 pada Maret, tapi sekarang, mungkin akan meningkat.

Sebelumnya dilaporkan bahwa maskapai penerbangan telah dibayangi rencana pembatalan perjalanan oleh para calon penumpang buntut konflik di Timur Tengah. Mengutip Korea Times, 23 Maret 2026, semakin banyak pelancong di Korea Selatan yang mempertimbangkan kembali atau membatalkan perjalanan ke luar negeri karena harga tiket pesawat naik.

Salah satunya seorang pelancong yang berencana mengunjungi Spanyol untuk berbulan madu pada September tahun ini. Ia melihat perkiraan biaya perjalanannya melonjak dari 1,6 juta won (hampir Rp18 juta) menjadi 2,4 juta won (hampir Rp27 juta). Lonjakan itu mendorongnya untuk mempertimbangkan kembali perjalanan tersebut. 

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |