Berbagai Bandara di AS Dilanda Antrean Panjang Penumpang, Donald Trump Ancam Kerahkan Agen ICE

6 hours ago 9

Liputan6.com, Jakarta - Nyaris semua bandara di AS (Amerika Serikat) dilanda antrean panjang calon penumpang pesawat akibat kekurangan petugas keamanan bandara. Hal itu menyusul perang urat syaraf antara Partai Republik dan Partai Demokrat menyangkut pendanaan Departemen Keamanan Dalam Negeri (DHS) dan berdampak pada gaji para petugas keamanan bandara.

Bahkan, Administrasi Keamanan Transportasi (TSA) memperingatkan operasional bandara bisa berhenti sama sekali karena banyak petugas keamanan yang absen, bahkan mengundurkan diri.

"Bukan berlebihan untuk mengatakan bahwa kita mungkin harus benar-benar menutup bandara, terutama bandara yang lebih kecil, jika tingkat ketidakhadiran meningkat,” kata penjabat wakil administrator TSA, Adam Stahl, pada Selasa, 17 Maret 2026, dikutip dari CNN, Minggu (22/3/2026).

Meskipun TSA secara teknis tidak berwenang menutup bandara secara sepihak, penumpang dan awak pesawat harus diperiksa sebelum pesawat dapat lepas landas. Jika tidak ada yang melakukan itu, pesawat tidak dapat terbang.

"Kami membuat keputusan ini berdasarkan bandara per bandara," kata Stahl kepada CNN pada Rabu, 18 Maret 2026. "Seiring berjalannya waktu, petugas TSA kami, selama mereka tidak dibayar, mereka akan terus absen, mereka tidak mampu untuk datang, dan mereka akan berhenti sama sekali."

Ini adalah efek berantai terbaru dari terhentinya pendanaan untuk DHS selama sebulan. Demokrat dan Republik berada dalam kebuntuan dalam pertarungan mengenai reformasi imigrasi.

Para pekerja TSA tidak menerima gaji selama penutupan berlangsung hingga departemen tersebut dibuka kembali. Para pemimpin serikat pekerja mengatakan beberapa pekerja TSA mengundurkan diri, dan banyak lainnya mengambil cuti mendadak karena mereka tidak mampu membeli bensin atau biaya penitipan anak yang dibutuhkan untuk pergi bekerja.

Petugas Keamanan Bandara Absen hingga Mengundurkan Diri karena Tak Digaji

Lebih dari sepertiga staf TSA di Bandara Internasional Hartsfield-Jackson Atlanta tidak hadir pada Rabu, 18 Maret 2026, dan lebih dari setengah pekerja TSA di Bandara Hobby Houston tidak datang bekerja Jumat, pekan sebelumnya. Bandara-bandara tersebut kemungkinan besar tidak akan berisiko ditutup karena banyaknya lalu lintas penumpang yang mereka tangani.

"Ini semua tentang memprioritaskan," kata John Pistole, mantan administrator TSA di bawah pemerintahan Obama. "Jika saya masih menjadi administrator, yang akan saya minta adalah data jumlah penumpang harian dan mingguan, dan benar-benar melihat data tersebut serta jumlah staf yang dibutuhkan," sambungnya.

TSA belum menghentikan semua pemeriksaan di bandara mana pun selama penutupan pemerintahan, dan para ahli mengatakan mereka akan menggunakan setiap opsi lain yang memungkinkan sebelum melakukannya. Di Bandara Internasional Philadelphia, tiga dari tujuh pos pemeriksaan ditutup pada Rabu pekan ini 'untuk membantu mengoptimalkan operasi'. Semua gerbang dapat diakses dari pos pemeriksaan mana pun, tetapi mungkin memerlukan jalan kaki yang lebih jauh.

Strategi Terekstrem Atasi Kekacauan di Bandara

TSA secara rutin mengoperasikan Pasukan Penempatan Nasional (National Deployment Force) yang terdiri dari petugas pemeriksa yang secara sukarela dikirim ke bandara yang kekurangan staf, tetapi Stahl mengatakan mereka telah sepenuhnya kehabisan personel. Dalam skenario yang lebih ekstrem, bandara-bandara besar dapat menarik petugas dari bandara-bandara kecil di dekatnya untuk menjaga agar pemeriksaan tetap berjalan di terminal-terminal besar.

"Menurut saya, apa yang dikatakan Stahl adalah jika kekurangan staf terus berlanjut, staf akan ditarik dari bandara yang lebih kecil untuk mengisi bandara yang lebih besar agar sistem transportasi tidak sepenuhnya terganggu," kata Keith Jeffries, mantan direktur keamanan federal di Bandara Internasional Los Angeles dan wakil presiden K2 Security Screening Group saat ini.

Bandara yang tetap buka dengan staf terbatas akan mengalami peningkatan waktu tunggu, kata Pistole. Prosedur pemeriksaan seperti penggeledahan badan juga dapat menimbulkan masalah jika tidak ada cukup staf dengan jenis kelamin tertentu.

"Mungkin waktu tunggu yang lebih lama, tetapi bukan penutupan bandara," kata sumber kepada CNN. "Pada saat yang sama, bandara tidak akan pernah mengkompromikan standar keamanan."

Donald Trump Ancam Kerahkan Agen ICE

Sementara pada Sabtu, 21 Maret 2026, Presiden AS Donald Trump mengancam akan mengerahkan agen Imigrasi dan Bea Cukai (ICE) ke bandara-bandara AS pada Senin, 23 Maret 2026, jika kesepakatan tidak tercapai untuk mendanai DHS karena para pekerja Administrasi Keamanan Transportasi (TSA) tidak dibayar dan gangguan perjalanan meningkat.

"Jika Demokrat tidak mengizinkan Keamanan yang Adil dan Tepat di Bandara kita, dan di tempat lain di seluruh Negara kita, ICE akan melakukan pekerjaan jauh lebih baik daripada yang pernah dilakukan sebelumnya!" tulis presiden di Truth Social.

"Saya berharap dapat mengerahkan ICE pada Senin, dan telah memberi tahu mereka untuk, ‘BERSIAPLAH.’ TIDAK ADA LAGI MENUNGGU, TIDAK ADA LAGI PERMAINAN!"

Para anggota parlemen berupaya mencapai kesepakatan untuk membuka kembali Departemen Keamanan Dalam Negeri. Tetapi meskipun mereka ingin mencapai kesepakatan dalam minggu depan sebelum Kongres meninggalkan kota untuk reses musim semi yang panjang, resolusi masih belum pasti.

Tidak jelas fungsi apa yang akan dilakukan agen ICE karena mereka tidak terlatih dalam pemeriksaan keamanan bandara. "Untuk menjadi petugas TSA, petugas bersertifikat, agar mampu melakukan pemeriksaan membutuhkan waktu berminggu-minggu dan berbulan-bulan," kata George Borek, seorang petugas TSA Atlanta dan perwakilan serikat pekerja, kepada CNN. "Presiden dapat meminta mereka datang ke sana, tetapi saya tidak melihat bagaimana itu membantu kita melewati periode waktu ini."

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |