Arca Shiva Abad 13 dan Prasasti Damalung Segera Kembali ke Pangkuan Indonesia dari Belanda

11 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Proses repatriasi benda-benda bersejarah dari Belanda ke Indonesia kembali berlanjut. Terbaru, Kementerian Kebudayaan mengumumkan dua artefak, yakni Arca Shiva abad 13 dari Jawa Timur dan Prasasti Damalung abad 15 dari Jawa Tengah, akan segera kembali ke Tanah Air setelah lama berada di Belanda.

Dalam siaran pers yang diterima Lifestyle Liputan6.com, Rabu (8/4/2026), kesepakatan pengembalian ditandatangani pada 31 Maret 2026 di Den Haag antara Duta Besar RI untuk Belanda, Laurentius Amrih Jinangkung, dan Direktur Jenderal Kebudayaan dan Media Belanda, Youssef Louakili. Artefak tersebut sebelumnya menjadi bagian koleksi Wereldmuseum Amsterdam dan Wereldmuseum Leiden.

Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon menegaskan bahwa momen ini merupakan lebih dari sekadar pengembalian benda bersejarah. "Ini adalah pemulihan memori kolektif bangsa dan langkah nyata menuju rekonsiliasi sejarah. Warisan budaya harus kembali kepada masyarakat yang menjadi pemiliknya," ujar Menbud.

Sementara itu, mengutip laman Semarang Gallery, Prasasti Damalung merupakan salah satu artefak tulis yang menunjukkan keberadaan Gunung Merbabu sebagai Puja Mandala. Damalung dalam prasasti yang tercatat dibuat pada 1450 Masehi itu merujuk pada nama tua dari Gunung Merbabu.

Gunung Damalung saat itu ditempatkan sebagai sumber kehidupan dan ilmu pengetahuan dengan memuja Sakti Siwa, Sri Saraswati. Hal itu tercantum pada terjemahan baris pertama Prasasti Damalung yang berbunyi, "Terpujilah Saraswati, Terpujilah Maha Gunung Merbabu, sumber kehidupan dunia."

Prasasti Damalung ditemukan di perkebunan warga Dusun Ngadoman, Kabupaten Semarang. Sejak 1872, prasasti itu dibawa ke Leiden dan baru akan dipulangkan hampir dua abad kemudian.

Tren Positif Upaya Repatriasi Indonesia

Pengembalian kedua artefak itu, sambung Fadli, memperkuat tren positif kerja sama Indonesia–Belanda di bidang kebudayaan, menyusul keberhasilan pemulangan fosil Manusia Jawa (Java Man) pada 2025 setelah lebih dari satu abad berada di luar negeri. Saat ini, proses pengiriman artefak tengah berlangsung dan akan diserahkan kepada Museum Nasional Indonesia setibanya di Indonesia.

Sebelumnya di sela jumpa pers Dana Indonesia Raya di Jakarta, pekan lalu, Menbud mengungkapkan bahwa proses repatriasi koleksi Dubois masih terus berlanjut setelah empat benda masterpiece koleksi itu tiba di Indonesia sejak akhir tahun lalu. Prosesnya memakan waktu panjang lantaran ada 28.130 item fosil dengan berbagai ukuran yang harus dikemas dan dikirim balik ke Indonesia.

"Mungkin membutuhkan 6--8 kontainer karena ada 28.130 item fosil dan ini mungkin akan tiba pada bulan Juli, Agustus atau September," ujar Fadli.

Repatriasi Benda Bersejarah dari Amerika Serikat

Selain dari Belanda, Indonesia juga menantikan repatriasi benda budaya lainnya dari Amerika Serikat yang disebut Fadli akan dikirim pada bulan ini. Hanya saja, ia tidak mendetailkan artefak yang dimaksud.

"Ada macam-macam yang disita dari District Attorney of New York," kata Fadli seraya menyatakan upaya repatriasi dilakukan bekerja sama dengan Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia.

"Kita juga terus meminta ke pihak Belanda dan juga dari negara-negara lain repatriasi benda-benda budaya yang secara provenance, asal-usulnya memang diperoleh secara tidak sah, termasuk pada masa-masa kolonialisme," sambung dia. Pemerintah Indonesia menegaskan akan terus memperjuangkan pemulangan warisan budaya lainnya di luar negeri, sekaligus membuka kolaborasi riset internasional dan memastikan akses publik yang luas untuk edukasi dan penguatan jati diri bangsa.

Selain repatriasi, ia juga menyoroti pentingnya appraisal benda-benda budaya atau artefak-artefak bersejarah agar dipahami betapa berharganya hal itu bagi Indonesia.

Masih Belum Ada Taksiran Nilai Benda-benda Bersejarah Indonesia

Fadli Zon menyatakan sejauh ini, belum ada benchmark yang sudah dibuat karena hal itu membutuhkan keahlian tinggi. "Misalnya harga Candi Borobudur berapa, value-nya berapa, kan susah itu menilai," kata dia.

"Kayaknya saking susahnya menaksir candi, harganya hanya dicatat satu rupiah. Bayangkan. Ini sistem kita belum sampai ke sana," sambungnya lagi.

Proses menuju hal itu masih panjang. Pihaknya saat ini masih fokus pada proses registrasi, verifikasi lokasi, dan seterusnya terkait koleksi benda bersejarah yang dimiliki di berbagai museum di Indonesia.

"Museum nasional misalnya, punya 194 ribu koleksi, dan juga museum-museum lagi. Begitu juga dengan institusi cagar budaya, termasuk aset-aset yang kita repatriasi," ujar Fadli.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |