Liputan6.com, Jakarta - Masakan yang cepat basi tentu menjadi masalah yang sering dihadapi di dapur. Memahami bahan yang bikin masakan cepat basi sangat penting untuk menjaga kualitas serta keamanan pangan yang kita konsumsi sehari-hari. Dengan mengetahui faktor-faktor pemicunya, kita dapat mengambil langkah pencegahan yang tepat untuk memperpanjang usia simpan makanan.
Beberapa jenis makanan memang memiliki kecenderungan untuk lebih cepat rusak dibandingkan yang lain. Hal ini seringkali berkaitan erat dengan kandungan nutrisi, kadar air, serta cara pengolahan dan penyimpanannya. Oleh karena itu, penting untuk mengenali bahan yang bikin masakan cepat basi agar tidak terjadi pemborosan dan makanan tetap layak dikonsumsi.
Penyebab utama makanan cepat basi adalah kontaminasi bakteri, jamur, atau ragi. Selain itu, penyimpanan yang salah, paparan cahaya berlebihan, atau suhu kulkas yang tidak dingin juga menjadi faktor pemicu lainnya. Mikroorganisme ini dapat masuk ke dalam makanan melalui berbagai cara, kemudian berkembang biak dan mengubah karakteristik makanan. Berikut Liputan6.com ulas lengkapnya melansir dari berbagai sumber, Senin (30/03/2026).
1. Santan
Santan dikenal sebagai salah satu bahan masakan yang sangat cepat basi dan tidak awet. Hal ini disebabkan oleh kandungan lemak dan air di dalamnya. Kombinasi ini menjadikannya media yang sangat ideal bagi pertumbuhan bakteri dan berbagai mikroorganisme lainnya. Mikroba sangat menyukai lingkungan yang kaya nutrisi dan kelembapan seperti santan untuk berkembang biak dengan cepat.
Proses memasak yang tidak tepat juga dapat mempercepat pembusukan santan. Santan yang tidak dimasak hingga benar-benar matang atau pecah saat dimasak akan lebih rentan basi. Kualitas santan yang tidak segar sejak awal atau terlalu sering mengaduk hidangan bersantan juga dapat memengaruhi ketahanannya. Penyimpanan santan yang salah setelah dimasak juga menjadi pemicu utama.
Santan yang dibiarkan terlalu lama di suhu ruangan akan cepat teroksidasi dan basi. Penting untuk segera mendinginkan santan setelah dimasak dan menyimpannya dalam wadah tertutup rapat di kulkas. Langkah ini bertujuan untuk menekan aktivitas mikroorganisme dan menjaga santan tetap segar lebih lama.
2. Makanan Berkuah dan Berprotein Tinggi
Makanan berkuah cenderung lebih cepat basi karena kandungan airnya yang tinggi. Air merupakan komponen esensial bagi kehidupan mikroorganisme, sehingga makanan dengan kadar air tinggi menyediakan lingkungan yang sangat mendukung pertumbuhan bakteri dan jamur. Terutama pada kaldu atau air rebusan daging, kandungan protein yang tinggi di dalam air juga menjadi sumber nutrisi melimpah bagi bakteri.
Selain itu, makanan yang kaya protein seperti daging, ikan, dan produk olahan susu, juga sangat rentan terhadap pembusukan. Protein adalah nutrisi penting yang dibutuhkan bakteri untuk berkembang biak. Ketika bakteri memecah protein, mereka menghasilkan zat-zat yang menyebabkan bau tidak sedap dan perubahan tekstur pada makanan.
Contohnya, kaldu seafood sangat cepat basi karena protein ikan merupakan sumber nitrogen yang kaya bagi bakteri pembusuk. Beberapa contoh makanan berkuah dan berprotein tinggi yang cepat basi antara lain nasi yang sudah dimasak, saus kental (gravy), dan krim kocok. Nasi yang dimasak dapat mengandung bakteri Bacillus cereus yang menghasilkan toksin tahan panas jika dibiarkan pada suhu ruangan.
3. Makanan dengan Kadar Air Tinggi dan Olahan yang Tidak Tepat
Makanan dengan kadar air tinggi secara umum, seperti buah-buahan, sayuran, dan keju lunak, memiliki umur simpan yang lebih pendek. Kelembapan yang tinggi pada makanan ini menyediakan kondisi optimal bagi jamur dan bakteri untuk berkembang biak dengan cepat. Misalnya, keju lunak seperti Brie atau ricotta memiliki kadar air yang lebih tinggi dibandingkan keju keras, sehingga lebih cepat ditumbuhi jamur dan bakteri.
Proses pengolahan yang tidak tepat, seperti memotong atau mengupas bahan makanan, dapat mempercepat pembusukan. Ketika makanan dipotong, lapisan pelindung alaminya rusak. Permukaan bagian dalam yang kaya nutrisi dan kelembapan terpapar langsung ke udara dan mikroorganisme, mempercepat proses basi.
Paparan ini memicu oksidasi dan aktivitas enzim yang menyebabkan perubahan warna dan tekstur, serta memberikan akses mudah bagi bakteri untuk mengkontaminasi. Penanganan yang tidak higienis juga menjadi faktor penting yang membuat masakan cepat basi. Kontaminasi dapat terjadi melalui tangan yang kotor, peralatan dapur yang tidak bersih, atau wadah penyimpanan yang tidak kedap udara.
Mikroorganisme dari lingkungan sekitar dapat dengan mudah berpindah ke makanan yang sudah dimasak, terutama jika makanan tersebut tidak mengandung pengawet. Oleh karena itu, kebersihan adalah kunci utama dalam menjaga keawetan masakan.
Mikroorganisme dan Lingkungan
Pembusukan makanan sebagian besar disebabkan oleh aktivitas mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan ragi. Mikroorganisme ini memanfaatkan bahan makanan sebagai sumber energi untuk tumbuh dan berkembang biak. Mereka menghasilkan zat-zat yang mengubah warna, tekstur, bau, dan rasa makanan, menjadikannya tidak layak konsumsi.
Bakteri patogen seperti Salmonella dan E. coli dapat menyebabkan penyakit bawaan makanan yang serius. Sementara itu, bakteri pembusuk seperti Pseudomonas dan Lactobacillus secara langsung menyebabkan makanan membusuk. Kontaminasi ini bisa berasal dari udara, tangan, peralatan dapur, atau bahkan dari bahan makanan itu sendiri.
Faktor lingkungan juga berperan besar dalam mempercepat pembusukan makanan. Suhu penyimpanan yang tidak tepat, terutama berada dalam “zona bahaya suhu” antara 4°C hingga 60°C, sangat mendukung pertumbuhan mikroorganisme. Paparan udara dan oksigen dapat memicu proses oksidasi yang merusak nutrisi dan mempercepat pertumbuhan mikroorganisme.
Kelembapan berlebih juga menciptakan lingkungan ideal bagi jamur dan bakteri untuk berkembang biak. Selain itu, reaksi kimia dan kerusakan fisik pada makanan juga berkontribusi pada pembusukan. Enzim alami dalam makanan dapat menyebabkan perubahan warna, rasa, dan tekstur, seperti pencoklatan pada apel yang dipotong, yang membuka jalan bagi mikroba.
Tips Membuat Makanan Awet dan Tidak Cepat Basi
Untuk membuat makanan lebih awet dan tidak cepat basi, penting untuk mengontrol suhu penyimpanan dengan benar. Makanan dingin harus disimpan di bawah 4°C, sementara makanan beku pada 0°C atau lebih rendah untuk menghambat pertumbuhan bakteri secara efektif. Setelah dimasak, biarkan makanan mendingin terlebih dahulu sebelum dimasukkan ke dalam kulkas, karena uap panas dapat meningkatkan kelembapan dan membuat kulkas bekerja lebih keras.
Penggunaan wadah yang tepat juga krusial dalam menjaga keawetan makanan. Simpan makanan dalam wadah kedap udara untuk mencegah paparan bakteri dari udara luar dan mengurangi risiko kontaminasi silang antar makanan. Memisahkan makanan mentah dan matang juga penting untuk menghindari kontaminasi silang yang dapat mempercepat pembusukan.
Selain itu, menjaga kebersihan selama proses pengolahan dan penyimpanan sangat penting. Pastikan tangan dan peralatan dapur bersih sebelum mengolah makanan. Metode pengawetan lain seperti pengeringan, pengasinan, atau pengalengan juga dapat memperpanjang umur simpan makanan dengan mengurangi kadar air atau menciptakan lingkungan yang tidak mendukung pertumbuhan mikroba.
FAQ
- Apa penyebab utama makanan cepat basi? Penyebab utama makanan cepat basi adalah pertumbuhan mikroorganisme seperti bakteri, jamur, dan ragi.
- Mengapa santan cepat basi? Santan cepat basi karena kandungan lemak dan airnya yang tinggi, menjadikannya media ideal bagi pertumbuhan bakteri.
- Apakah makanan berkuah lebih cepat basi? Ya, makanan berkuah lebih cepat basi karena kandungan airnya yang tinggi mendukung pertumbuhan bakteri.
- Bagaimana suhu memengaruhi pembusukan makanan? Suhu antara 4°C hingga 60°C adalah “zona bahaya” di mana bakteri tumbuh paling cepat, mempercepat pembusukan makanan.
- Apakah memotong makanan mempercepat pembusukan? Ya, memotong makanan merusak lapisan pelindung alaminya, mengekspos permukaan ke udara dan bakteri, sehingga mempercepat pembusukan.
- Bagaimana cara menyimpan makanan agar tidak cepat basi? Simpan makanan dalam wadah kedap udara di kulkas dengan suhu di bawah 4°C, dan dinginkan makanan panas sebelum disimpan.
- Apakah makanan yang sudah basi aman dikonsumsi? Tidak, makanan yang sudah basi tidak aman dikonsumsi karena dapat menyebabkan keracunan makanan dan masalah kesehatan lainnya.

:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5541685/original/024070800_1774877508-WhatsApp_Image_2026-03-30_at_19.29.54.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5541436/original/021411000_1774862780-miss_grand_thailand.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5541468/original/085666400_1774864155-Martabak_San_Fransisco_-_Addy_Soebarkah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5541397/original/002017400_1774861453-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5494384/original/045802400_1770286255-Dendeng_Daging_Sapi_Balado.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5541467/original/083535900_1774864135-WhatsApp_Image_2026-03-30_at_10.26.45.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5454323/original/048837600_1766556633-Nasi_Kotak_Natal.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5541126/original/096394500_1774853102-Gemini_Generated_Image_d5q4sud5q4sud5q4.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5541368/original/017566700_1774860290-cropped-c4a7acb7-f538-43d0-9d09-c220189d7c1b.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5541325/original/060742800_1774859450-kelas_ekonomi.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5541275/original/073084600_1774857577-cropped-443ed565-6a9b-4270-b0e0-cdad6980a4c0.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3965449/original/057909500_1647484025-charlesdeluvio-9A_n4yg32so-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5537990/original/012915700_1774497603-035389600_1436945386-makanan-1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5513408/original/071378500_1772012165-WhatsApp_Image_2026-02-25_at_16.10.17.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5530951/original/042364900_1773515230-unnamed-34.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5541034/original/082494500_1774847029-cropped-de4ed987-32ab-4e96-88af-6f7c16cba04f.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5540837/original/014904500_1774838300-WhatsApp_Image_2026-03-30_at_08.34.19.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5540892/original/056234400_1774841444-Curdled_curry_with_chicken_and_santan.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5540868/original/051397500_1774839257-cropped-b173abac-eaeb-4e98-986f-499b9d8b9e68.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5540835/original/092446000_1774837526-cropped-be624a31-a9b2-4ce3-a447-0658b3e74f05.jpg)










:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5161764/original/086600400_1741847570-1741841423969_salah-satu-faktor-eksternal-penyebab-pelanggaran-ham-adalah.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5286401/original/022817500_1752741530-pexels-nadin-sh-78971847-12288356.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5432085/original/094521500_1764755867-Vidio_Guideline_2025_NON-SPORTS_IGF_-_Horizontal_-_arya.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3227420/original/074506300_1599119114-20200903-Kuala-Lumpur-3.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5428558/original/097011800_1764549830-SnapInsta.to_588298374_18542978182059174_8357170256040915428_n.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5441754/original/040472300_1765517078-One_Piece_-_The_Davy_Back_Fight_Arc_-_Main_KV_-_Poster_KV_Master_Landscape.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5447615/original/067533700_1765959670-cgr_bdy.jpeg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5124986/original/034186300_1738911365-Depositphotos_747789088_L.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5431671/original/012450200_1764744760-Premier_League_2025-26_ATK_BOLA__8_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3513012/original/025088600_1626429232-kevin_hackert.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5454684/original/003885500_1766567888-Ilustrasi_perayaan_tahun_baru_2026_di_Jakarta.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/3533246/original/091243000_1628240946-Jule1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5444308/original/050763000_1765775522-Screenshot__1255_.png)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5458201/original/031493700_1767074270-zhang_zhehan1.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5439070/original/061485400_1765347758-ATK_UEL_2025_MATCH_JADWAL__4_.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5447967/original/063026100_1765971919-Screenshot_2025-12-17_180423.png)
:strip_icc():format(jpeg):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,45,600,0)/kly-media-production/medias/5406057/original/038711200_1762509412-Puteri_Indonesia_Pariwisata.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5430351/original/009349300_1764661301-Budapest.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5438132/original/053417700_1765272847-ATK_BOLA_LALIGA_MW_16.jpg)
:strip_icc():format(jpeg)/kly-media-production/medias/5451328/original/014531400_1766285850-florian-wehde--y3sidWvDxg-unsplash.jpg)