Studi: 7 Persen Populasi Orang Utan Tapanuli Mati karena Banjir Bandang Sumatera

14 hours ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Masih ingat dengan temuan bangkai orang utan Tapanuli remaja di tumpukan gelondongan kayu yang terbawa hanyut banjir bandang di Sumatera Utara, pada Desember 2025? Itu salah satu bukti nyata bagaimana bencana tidak hanya merugikan manusia, tapi juga makhluk hidup lainnya yang bahkan berstatus terancam punah.

Laporan terbaru yang dirilis pada Rabu, 10 Juni 2026, menyebutkan setidaknya tujuh persen dari total populasi orang utan Tapanuli, atau sekitar 58 individu, musnah akibat bencana banjir dan tanah longsor di Sumatera, akhir tahun lalu. Mayoritas spesies orang utan itu berdiam di sekitar Hutan Batang Toru di Sumatera Utara dengan jumlah di alam liar diperkirakan mencapai 800 primata berdasarkan data 2016.

Mengutip AsiaOne, Kamis (11/6/2026), laporan itu disusun bersama oleh Borneo Futures yang berbasis di Brunei, World Weather Attribution, dan Universitas Liverpool John Moores. Mereka menganalisis citra satelit kerusakan di Blok Barat Batang Toru dan catatan sejarah populasi orang utan di sana dalam penyusunan laporan.

Mereka tidak mensurvei bagian lain dari hutan tersebut yang berarti jumlah orang utan yang tewas bisa lebih tinggi. Studi tersebut menyebutkan perubahan iklim yang disebabkan oleh manusia kemungkinan telah meningkatkan intensitas dan frekuensi curah hujan ekstrem di sekitar Selat Malaka, sehingga meningkatkan risiko kerusakan habitat orangutan Tapanuli.

Populasi Orang Utan Tapanuli Terancam Terus Menurun

Erik Meijaard dari Borneo Futures, penulis utama studi tersebut, mengatakan bahwa hujan lebat telah membasahi tanah sedemikian rupa sehingga sebagian besar lereng bukit di hutan primer runtuh dalam tanah longsor yang bergerak cepat.

"Jika Anda terjebak sebagai orang utan... jika ada sesuatu yang jatuh dengan kecepatan tinggi, peluang untuk bertahan hidup akan sangat minim, jadi ini menjadi kekhawatiran yang nyata," katanya.

"Tingkat kehilangan ini sangat besar untuk spesies dengan total populasi yang sangat kecil. Ketika dikombinasikan dengan tekanan yang sedang berlangsung seperti degradasi habitat dan konflik manusia-satwa liar, hal ini semakin meningkatkan urgensi untuk menerapkan dan menyediakan sumber daya yang memadai untuk rencana aksi spesies yang terkoordinasi," tambah Meijaard.

Panut Hadisiswoyo, peneliti lainnya, mendesak pemerintah Indonesia untuk bekerja sama dengan LSM dan para peneliti untuk mencegah penurunan lebih lanjut populasi orang utan Tapanuli.

"Kita dapat meminimalkan perburuan liar dan kemudian jumlahnya mungkin dapat distabilkan," katanya, menambahkan bahwa semua pihak harus memperhatikan penggunaan lahan yang buruk, yang juga berkontribusi pada penurunan populasi.

Kerusakan Lahan Hutan Batang Toru

Sebelumnya kepada BBC, dikutip Desember 2025, Meijaard menyebutkan 4.800 hektare hutan di lereng gunung terlihat hancur akibat tanah longsor. Namun mengingat sebagian citra satelit tertutup awan dalam pengamatan awal, ia memperkirakan luas kerusakan bisa jauh lebih besar, bahkan bisa mencapai 7.200 hektare.

"Area-area ini tampak seperti tanah kosong di citra satelit, padahal dua minggu lalu masih berupa hutan primer. Hancur total. Banyak petak seluas beberapa hektar yang benar-benar gundul. Pasti mengerikan sekali kondisi hutan saat itu," kata dia.

Ia melanjutkan, "Area yang hancur tersebut diperkirakan dihuni sekitar 35 orang utan, dan mengingat dahsyatnya kerusakan, bukan hal mengagetkan jika semuanya mati. Itu merupakan pukulan besar bagi populasi (hewan ini)." 

Profesor Mejjard juga mengaku telah melihat foto mayat orang utan mati yang ditemukan oleh relawan. "Yang membuat saya kaget, adalah semua daging di wajahnya telah terkoyak... Jika beberapa hektaer hutan longsor besar-besaran, bahkan orangutan yang kuat pun tak berdaya dan hanya akan hancur berkeping-keping," kata dia. 

Spesies Orang Utan Endemik Indonesia

Orang utan Tapanuli (Pongo tapanuliensis) merupakan spesies orang utan endemik Indonesia ketiga yang ditemukan. Karena statusnya terancam punah, beragam pihak, termasuk Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) meminta pemerintah menyelamatkan satwa langka tersebut, begitu pula dengan warga sekitar.

Mengutip kanal Regional Liputan6.com, Direktur Eksekutif Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi) Sumut Dana Tarigan, di Medan, mengatakan pemerintah dan warga harus mengawasi ekstra ketat perburuan orangutan yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dan mencari keuntungan dari satwa yang dilindungi.

"Perbuatan warga yang tidak mendukung pelestarian orangutan Tapanuli itu, harus diantisipasi dan bila perlu menangkap pelaku perburuan liar tersebut dan menyerahkan ke pihak kepolisian," ujar Dana, seperti dilansir Antara, Kamis, 16 November 2017.

Orangu Utan Tapanuli dinobatkan sebagai spesies orang utan ketiga, setelah Pongo pygmaeus (orang utan Kalimantan) dan Pongo abelii (orang utan Sumatera). Kehadirannya secara resmi dipublikasikan dalam jurnal internasional Current Biology pada 3 November 2017.

Secara morfologi, ukuran tengkorak dan tulang rahang orang utan Tapanuli lebih kecil dibandingkan dengan kedua spesies lainnya, serta rambut di seluruh tubuhnya lebih tebal dan keriting.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |