Ajak Anak Pilah Sampah Lewat Karakter Animasi Nussa dan Rarra

7 hours ago 5

Liputan6.com, Jakarta - Membangkitkan kesadaran pilah sampah harus dimulai sejak dini. Caranya bisa beragam, termasuk menggunakan karakter animasi Nussa dan Rarra untuk mengedukasi anak. Cara itulah yang diterapkan di Jakarta Future Festival (JFF) for Kids 2026 akhir pekan lalu.

"Nussa dan Rarra sudah lama menjadi bagian dari kehidupan keluarga Indonesia. Karakter yang dekat bisa menjadi jembatan yang jauh lebih efektif untuk menyampaikan pesan-pesan penting kepada anak-anak, termasuk soal lingkungan," kata Anggia Kharisma, Chief of Content Officer Visinema Studios, tentang alasannya menggunakan karakter tersebut.

Nussa dan Rarra hadir sejak 2018. Karakter kakak beradik itu dekat dengan penontonnya lewat cerita-cerita keseharian kebanyakan anak Indonesia.

"Maka, ketika Nussa yang mengajak pilah sampah, rasanya seperti teman yang bilang, 'Eh, ayo pilah sampah bersama!'. Yang kami saksikan di JFF memperkuat keyakinan itu, anak-anak tidak merasa sedang diajarkan, mereka merasa sedang bermain bersama teman," sambung Anggia.

Lewat Aktivitas Pilah Sampah Bersama Nussa, anak-anak yang duduk di sekolah dasar diajak memahami bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari langkah sederhana. Melalui aktivitas interaktif, peserta dikenalkan pada tiga kategori sampah yang menjadi dasar pemisahan dari rumah, yaitu sampah organik, anorganik, dan daur ulang.

Pendekatan tersebut juga memperkuat pemahaman bahwa pemilahan sampah perlu dimulai dari sumbernya, yaitu rumah tangga. Ketika anak-anak memahami ke mana sampah seharusnya dibuang dan mengapa pemilahan penting dilakukan, mereka akan menghafal aturan dan mulai membangun kebiasaan yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari bersama keluarga.

Ajari Anak dan Orangtua Sekaligus

Selain mendengar materi tentang jenis-jenis sampah, mereka langsung pegang dan pilah sampah sendiri. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan, bahkan banyak anak yang enggan meninggalkan area aktivitas setelah sesi berakhir.

Orangtua yang menemani juga mendapatkan edukasi yang sama. Pengalaman tersebut bisa menjadi bahan diskusi mereka di perjalanan pulang. Bagi orangtua, kebiasaan baru ini harus dimulai dari rumah, dan anak-anak perlu ikut terlibat dari awal.

"Kalau dari kecil anak sudah terbiasa memilah sampah, itu nilai yang akan mereka bawa seumur hidup. Dan kalau prosesnya menyenangkan, apalagi ada Nussa dan Rarra yang menemani, kemungkinan besar mereka akan ingat, dan mau melakukannya lagi di rumah," jelas Herry B. Salim, CEO Visinema Studios.

Gerakan Bali 100 Persen Pilah Sampah

Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) bersama Pemerintah Provinsi Bali mendeklarasikan Gerakan Bali 100 Persen Memilah Sampah pada 10 Juni 2026. Dengan deklarasi tersebut, seluruh warga Bali wajib memilah sampah dari sumbernya mulai 1 Juli 2026, mencakup sektor rumah tangga, banjar, pasar, hotel, hingga perkantoran.

Menteri Lingkungan Hidup (Menteri LH) Jumhur Hidayat menyatakan penetapan Bali sebagai model percontohan nasional pemilahan sampah didorong keberhasilan pelarangan pembuangan sampah organik ke TPA Suwung sejak 1 April 2026. Menurut Jumhur, shock therapy itu secara drastis sukses memangkas volume sampah hingga 60 persen di kawasan Denpasar dan Badung hanya dalam hitungan minggu.

Jumhur pun mengapresiasi kepatuhan warga Bali dalam memilah sampah, mencapai 87 persen dari total penduduk. Ia juga menyebut distribusi lebih dari 100 ribu unit komposter yang didistribusikan pemerintah daerah efektif menangani persoalan sampah.

Kolaborasi Pemerintah dan Masyarakat Adat

Ia menegaskan keberhasilan itu tidak lepas dari integrasi kebijakan dengan kearifan lokal. Selain arahan nasional, pelibatan unsur budaya dan religi melalui peran desa adat, awig-awig, dan pararem menjadi fondasi utama dalam menjaga kelestarian lingkungan secara berkelanjutan.

"Intinya saya bahagia karena ternyata pimpinan pemerintahan di Bali, mulai dari gubernur, bupati, wali kota hingga ke bawah semakin hari semakin hari semakin baik dalam pengelolaan lingkungan termasuk sampah," kata Jumhur seusai Rapat Koordinasi Tingkat Tinggi se-Sarbagita di Denpasar, mengutip rilis KLH, Kamis (11/6/2026).

Menanggapi arahan tersebut, Gubernur Bali, I Wayan Koster menyerukan seluruh masyarakat Bali menaati arahan tersebut. Pihaknya akan terus berkolaborasi dengan KLH dan masyarakat adat untuk memperkuat sanksi adat bagi pelanggar aturan.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |