Bikin Perjanjian Pranikah, Benarkah Tanda Kurang Percaya pada Pasangan?

9 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Perjanjian pranikah mulai menjadi bagian dari percakapan pasangan yang tengah mempersiapkan pernikahan. Selama ini, dokumen tersebut kerap dikaitkan dengan pasangan yang memiliki kekayaan besar atau kondisi finansial kompleks.

Namun, pandangan itu perlahan bergeser seiring semakin terbukanya pembicaraan tentang persiapan pernikahan yang tidak hanya menyangkut pesta dan hari bahagia, tapi juga kehidupan setelahnya.

Pernikahan menyatukan dua individu dengan latar belakang, pengalaman, serta kondisi ekonomi yang bisa berbeda. Sebagian pasangan mungkin sudah memiliki aset sebelum menikah, sementara yang lain memulai kehidupan bersama dengan kondisi finansial sederhana.

Perbedaan tersebut membuat kebutuhan terhadap perjanjian pranikah tidak bisa disamaratakan. Kini, perjanjian ini semakin dipandang relevan bagi pasangan dengan beragam kondisi ekonomi, bukan hanya mereka yang memiliki kekayaan dalam jumlah besar, melansir Fidelity, Selasa (15/9/2026).

Pembahasan mengenai perjanjian pranikah juga tidak selalu berarti pasangan sedang memikirkan kemungkinan buruk dalam hubungan. Sebaliknya, percakapan tersebut dapat menjadi ruang untuk membicarakan kepemilikan aset, tanggung jawab finansial, hingga ekspektasi masing-masing sebelum resmi hidup bersama.

Keterbukaan dalam membahas persoalan finansial dapat membantu pasangan memahami posisi satu sama lain. Dari sana, mereka bisa menentukan kesepakatan yang dianggap adil dan sesuai dengan kondisi bersama.

Pada akhirnya, keputusan membuat perjanjian pranikah kembali kepada kebutuhan setiap pasangan. Dokumen ini dapat menjadi salah satu bagian dari persiapan membangun rumah tangga secara lebih matang dan terencana.

Membuka Percakapan tentang Uang

Membicarakan uang sebelum menikah bukan selalu percakapan yang mudah. Perbedaan pendapatan, kebiasaan mengelola keuangan, utang, tabungan, hingga aset pribadi dapat memunculkan sudut pandang berbeda di antara pasangan.

Penyusunan perjanjian pranikah bisa menjadi momentum untuk membahas persoalan tersebut secara terbuka. Pasangan dapat mendiskusikan kepemilikan aset, utang, tabungan, pendapatan, rumah, hingga rencana keuangan setelah menikah.

Pembicaraan ini tidak selalu berarti salah satu pihak sedang memikirkan kemungkinan hubungan berakhir. Keterbukaan mengenai kondisi finansial justru dapat membantu pasangan memahami posisi dan harapan masing-masing sebelum mengambil keputusan besar.

Lebih jauh, perjanjian pranikah dapat membuka dialog mengenai rencana kehidupan bersama. Topiknya bisa mencakup rencana memiliki anak, persiapan masa pensiun, hingga tanggung jawab merawat anggota keluarga.

Dengan komunikasi yang terbuka, pasangan dapat membangun kesepakatan yang lebih realistis dan sesuai kebutuhan.

Lebih dari Sekadar Melindungi Aset

Perjanjian pranikah tidak hanya membahas kekayaan yang telah dimiliki sebelum pernikahan. Kesepakatan ini juga dapat menjadi bagian dari perencanaan menghadapi perubahan kondisi finansial yang mungkin muncul selama kehidupan bersama.

Setiap pasangan membawa kondisi dan tanggung jawab berbeda ke dalam rumah tangga. Tabungan, investasi, bisnis, warisan, hingga kewajiban finansial terhadap keluarga menjadi sejumlah hal yang dapat dibicarakan sejak awal.

Pembahasan tersebut membantu pasangan memahami hak, kepemilikan, serta tanggung jawab masing-masing. Kehidupan setelah menikah pun dapat membawa perubahan besar.

Salah satu pihak mungkin memilih mengurangi pekerjaan atau berhenti sementara untuk mengasuh anak maupun merawat anggota keluarga. Sementara itu, pasangan lainnya bisa tetap menjadi pencari nafkah utama.

Situasi seperti ini menunjukkan pentingnya membicarakan berbagai kemungkinan sebelum pernikahan. Perjanjian pranikah dapat menjadi ruang bagi pasangan untuk menyusun kesepakatan yang mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan keduanya.

Tanpa Membuat Hubungan Terasa Transaksional

Membicarakan perjanjian pranikah sebaiknya dilakukan bersama pasangan sebelum berkonsultasi dengan pengacara. Percakapan awal memberi kesempatan bagi kedua pihak untuk memahami alasan, kebutuhan, serta harapan masing-masing sebelum masuk ke tahap penyusunan kesepakatan.

Waktu juga perlu diperhatikan. Pembahasan idealnya dimulai jauh sebelum hari pernikahan agar pasangan memiliki ruang untuk berdiskusi tanpa merasa terburu-buru atau berada di bawah tekanan.

Dengan pendekatan tersebut, perjanjian pranikah tidak hanya membahas "apa yang menjadi milikku dan milikmu," tapi juga bagaimana pasangan ingin membangun kehidupan bersama. Kesepakatan ini dapat menjadi bagian dari persiapan rumah tangga, bukan sekadar langkah untuk menghadapi kemungkinan hubungan berakhir.

Seiring berjalannya pernikahan, perubahan besar dalam kehidupan juga mungkin terjadi. Karena itu, pasangan dapat meninjau kembali kesepakatan yang telah dibuat jika diperlukan, dengan tetap mengikuti ketentuan hukum yang berlaku.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |