Upaya Putus Asa Jepang Pinjam Panda dari China Jelang Kepulangan 2 Panda Terakhir

1 week ago 30

Liputan6.com, Jakarta - Diplomasi panda antara Jepang dan China dibayangi ketidakpastian seiring ketegangan politik antara kedua negara. Dengan waktu tinggal si kembar Lei Lei dan Xiao Xiao yang tinggal beberapa minggu lagi hingga akhir Januari 2026, sejumlah pecinta panda di negeri sakura khawatir mereka tidak akan bisa mendapatkan peminjaman hewan ikon nasional China di masa mendatang.

Krisis panda yang terjadi dipicu pernyataan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi soal kemungkinan Jepang membela Taiwan dalam keadaan darurat. Kata-katanya memancing kemarahan Tiongkok dan diyakini akan memengaruhi proses peminjaman panda ke kebun binatang Jepang.

Meski begitu, upaya untuk mendapatkan pinjaman panda kembali tetap diusahakan sejumlah pihak. Mengutip Kyodo News, Selasa (30/12/2025), seorang pejabat dari Biro Konstruksi Pemerintah Metropolitan Tokyo yang mengawasi Kebun Binatang Ueno, tempat sepasang panda kembar itu tinggal, bermaksud meminta pinjaman panda baru.

"Kami berkomunikasi dengan Asosiasi Konservasi Satwa Liar Tiongkok -- bukan pemerintah Tiongkok -- untuk tujuan perlindungan dan penelitian satwa liar," kata pejabat itu. "Saya tidak tahu seberapa besar aspek politik yang terlibat."

Dukungan mengusahakan peminjaman panda dari China juga datang dari sektor swasta. "Panda adalah utusan perdamaian antara Jepang dan Tiongkok," kata Yukinori Yokomi, sekretaris jenderal Asosiasi Persahabatan Jepang-Tiongkok, yang telah berfungsi sebagai jembatan antara kedua negara. "Kami sangat khawatir karena acara pertukaran antara Jepang dan Tiongkok semakin berkurang."

Sejarah Peminjaman Panda dari China ke Jepang

Asa Jepang mendapatkan peminjaman panda dari China di tengah ketegangan hubungan merujuk pada situasi pada 2011. Saat itu, hubungan bilateral kedua negara dingin, tetapi China tetap mengizinkan Ri Ri dan Shin Shin pergi ke Jepang.

Diplomasi panda antara Jepang dan China dimulai sejak 1972. Negeri tirai bambu saat itu menghadiahkan sepasang panda kepada Jepang setelah normalisasi hubungan bilateral pasca-Perang Dunia II.

Sejak itu, angka kunjungan ke kebun binatang yang ditinggali panda meningkat. Kang Kang dan Lan Lan, panda raksasa pertama yang tiba di Jepang, membantu menarik rekor 7.640.000 pengunjung pada 1974, menurut Kebun Binatang Ueno di Tokyo.

Panda di Kebun Binatang Ueno memicu kegilaan di seluruh negeri dan munculnya generasi pecinta panda di Jepang, yang menyebabkan peminjaman panda ke fasilitas lain seperti Adventure World di Shirahama, Prefektur Wakayama, Jepang barat, dan Kebun Binatang Oji, di Kobe. Namun pada 1984, panda diklasifikasikan di bawah Konvensi Perdagangan Internasional Spesies Hewan dan Tumbuhan Liar yang Terancam Punah, yang dikenal sebagai "Konvensi Washington," dan perdagangan internasional untuk tujuan komersial dilarang.

Perkembangbiakan Panda di Jepang

Kebun Binatang Ueno menghadapi krisis pada 2000-an. Ling Ling, seekor panda jantan yang telah tinggal di sana sejak 1992, mati pada April 2008, sehingga tidak ada lagi hewan tersebut di kebun binatang. Rasa kehilangan yang dirasakan oleh para pejabat kebun binatang dan penduduk setempat sangat terasa.

Namun, setelah kampanye yang dilakukan oleh pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya, panda jantan dan betina Ri Ri dan Shin Shin tiba di Jepang pada 2011. Anak mereka, Shan Shan, lahir pada 2017, sebelum saudara-saudaranya Lei Lei dan Xiao Xiao -- masing-masing betina dan jantan -- lahir pada 2021.

Berdasarkan Konvensi Washington, panda-panda tersebut diklasifikasikan ulang sebagai "pinjaman" ke Jepang untuk tujuan pengembangbiakan dan penelitian. Tiongkok tetap memiliki kepemilikan atas panda-panda tersebut dan mereka pada akhirnya harus dikembalikan.

Perpisahan dengan hewan-hewan tersebut membuat banyak orang Jepang sedih. Shan Shan kembali ke Tiongkok pada 2023, diikuti oleh Ri Ri dan Shin Shin pada 2024. Di Adventure World, tiga panda termasuk Eimei kembali pada 2023, dengan total empat panda yang kembali tahun tersebut.

Warga Jepang Diliputi Kesedihan

Seorang pria berusia 42 tahun dari Prefektur Kyoto yang mengunjungi Taman Ueno pada November 2025 mengatakan, "Panda adalah hewan istimewa yang menenangkan pikiran hanya dengan melihatnya. Meskipun saya memahami kompleksitas hubungan diplomatik Jepang-Tiongkok, saya berharap mereka tetap berada di Ueno demi anak-anak yang menantikan untuk melihat mereka."

Ketika ditanya bagaimana perasaannya tentang Jepang yang tidak lagi memiliki panda, putri pria itu yang berusia 5 tahun, yang sedang memeluk boneka panda, menjawab, "Saya akan sedih jika panda-panda lucu itu menghilang."

Sementara itu, Tiongkok mendesak warganya untuk tidak bepergian ke Jepang dengan alasan memburuknya keamanan publik. "Jika ketegangan antara Jepang dan Tiongkok berlanjut, Tiongkok mungkin akan menahan diri dari pinjaman baru, dan panda mungkin tidak akan lagi terlihat di Jepang," kata seorang ahli Tiongkok seperti dikutip oleh surat kabar Tiongkok Beijing Daily. Para komentator menyebutnya sebagai "sanksi panda."

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |