Diet Gagal Melulu? Catat 6 Alasannya, Termasuk Kesalahan soal Makanan Sehat

7 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Diet kerap kali muncul saat seseorang menyusun resolusi menyambut tahun baru, terutama untuk menurunkan berat badan. Bagaimana tidak, momen pergantian tahun memang terasa sangat pas untuk memulai kebiasaan baru, bukan? Tapi sayangnya, seringkali diet gagal total dan hanya berujung jadi "tradisi" untuk menyambut tahun baru. 

Apa Anda termasuk orang yang menuliskan "diet" dalam resolusi tahun 2026 ini? Yuk simak enam alasan ketidakberhasilan diet, yang mungkin tak Anda sadari selama ini. 

1. Asal Ikut-ikutan Orang Lain

Dilansir dari BBC pada Minggu (11/1/2026), ahli gizi Sophie Medlin mengungkap bahwa salah satu alasan mengejutkan kegagagalan diet adalah asal ikut-ikutan saja dengan program diet orang lain. Padahal, pengaturan makanan yang dilakukan seseorang, bisa jadi tak berhasil pada orang lain, tergantung dari kondisi fisik hingga gaya hidup mereka.

"Kita semua memiliki genetika dan gaya hidup yang berbeda, yang berarti kita tidak mungkin terlihat sama,” kata dia.

Karena itu, Sophie mewanti-wanti bahwa strategi paling efektif untuk penurunan berat badan jangka panjang dan kesehatan jantung adalah pola makan sehat yang sesuai dengan preferensi makanan dan gaya hidup Anda sendiri.

Tahu merupakan makanan sehat tinggi protein yang tak bisa diabaikanjika menyangkut manfaatnya terhadap kesehatan. Bukan hanya rendah kalori dan tinggi serat sehingga sangat baik untuk menu diet menurunkan berat badan, makan tahu juga bisa mencegah pe...

2. Salah Pilih Makanan

Matthew Weiner direktur bedah bariatrik dan direktur medis telemedisin di Tucson Medical Center menyampaikan bahwa seseorang sangat mungkin bisa menurunkan sekitar 10 persen dari total berat badan hanya dengan mengurangi makan. Namun bila ingin memangkas bobot badan lebih dari itu, yang harus diatur adalah jenis makanan yang masuk perut.

Yang terjadi, ada orang yang mengurangi makan--tapi yang ia santap justru makanan kurang bergizi. "Lebih fokus pada kualitas kalori daripada kuantitasnya," kata Dr Weiner, diwartakan Women's Health Magazine. 

Pilihlah makanan yang memiliki daya kenyang yang lebih besar, sehingga Anda secara alami akan makan lebih sedikit, sehingga penurunan berat badan terus berlanjut.

Keri Gans, RD, penulis buku The Small Change Diet menambahkan,  “Makanan manis dicerna dengan cepat, membuat Anda lapar lebih cepat, dibandingkan dengan makanan yang kaya serat,” katanya. Makanan kaya serat, seperti buah-buahan, sayuran, biji-bijian utuh 100 persen, dan kacang-kacangan, membantu meningkatkan rasa kenyang dan dapat menjadi alat penurunan berat badan.

3. Terlalu Banyak Makan "Makanan Sehat"

Kesibukan yang begitu padat, kadang membuat seseorang tak sempat menyiapkan makanan sendiri yang sesuai dengan pola diet yang direncanakan. Alhasil, makanan berlabel sehat sering jadi solusi.

Hanya saja, karena terlanjur menganggap yang disantap adalah makanan sehat, konsumsinya pun bisa jadi berlebihan--terutama dalam kondisi lapar. 

Dilansir dari situs GWS Medika, ada sejumlah "makanan sehat" yang justru bisa jadi pedang bermata dua jika dikonsumsi dalam jumlah banyak seperti yogurt aneka rasa, keripik buah dan sayur yang menggunakan minyak, jus dalam kemasan, hingga snack bar dan minuman isotonik. 

4. Kurang Minum 

Women's Health mencatat ada sejumlah riset yang menyebut bahwa minum air dapat membantu mengurangi bobot badan. Salah satunya, adalah hasil studi tahun 2014 yang dipublikasikan di Journal of the Academy of Nutrition and Dietetics.

Namun, jangan melepas dahaga dengan minuman manis, ya! Karena hal ini justru hanya menambah kalori yang dikonsumsi 

5. Stres

Hal lain yang bisa mempengaruhi keberhasilan diet, adalah tingkat stres. Kondisi ini bisa membuat seseorang mencari pelepasan dengan makan, dan tekanan mental membuat tidak fokus menghitung kalori atau berolahraga. 

Stress eating, rupanya dipengaruhi juga dengan kortisol yang dikenal sebagai hormon stres. Hal ini berkaitan dengan hidup manusia sejak masa lalu, saat mesti melarikan diri dari bahaya. 

"Saat Anda stres, Anda sangat menginginkan makanan yang mudah dicerna dan melepaskan energi dengan cepat untuk membantu Anda melawan atau melarikan diri dari bahaya, gula dan karbohidrat,  atau yang kita kenal sebagai comfort food," kata Sophie Medlin.

“Tubuh kita tidak mengenali perbedaan antara stres akibat dikejar singa dan stres akibat tenggat waktu di tempat kerja. Responsnya sama: kita melihat peningkatan kortisol yang, antara satu dan lain hal, menyebabkan peningkatan penyimpanan lemak,” kata Dr. Aishah Muhammad kepada BBC. 

6. Kurang Tidur

Ingin menurunkan berat badan tapi masih suka begadang? Nah, coba perbaiki pola tidur Anda! 

Dalam studi yang dipublikasikan di International Journal of Obesity pada 2019, dibahas sebuah riset yang menyertakan hampir 2 ribu peserta. Responden dengan pola tidur lebih ajeg, rupany cenderung lebih berhasil dalam upaya penurunan berat badan mereka selama 12 bulan terakhir. 

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |