Terdampak Banjir Bandang Sumatera: Rumah Tjong A Fie Kini Bersih dari Lumpur, Makam Kesultanan Langkat Masih Terendam Air

1 month ago 56

Liputan6.com, Jakarta - Banjir bandang Sumatera yang melanda berbagai kota/kabupaten di Sumatera Utara berdampak pada sejumlah cagar budaya. Tiga di antaranya adalah Masjid Azizi dan Makam Kesultanan Langkat di Kabupaten Langkat, serta Rumah Tjong A Fie yang berlokasi di Kota Medan. Salah satu ikon wisata itu kebanjiran pertama kali dalam 135 tahun sejarah rumah itu berdiri. 

Dalam keterangan tertulis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, Minggu, 7 Desember 2025, Dwi Fajariyatno, Pamong Budaya Ahli Muda Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah II, banjir terjadi lantaran posisi rumah Tjong A Fie lebih rendah dibandingkan jalan raya. Air pun melimpas masuk hingga lantai 1 bangunan yang berstatus Cagar Budaya Peringkat Nasional itu.

Akibatnya, dinding bangunan semakin lembab, kayu keropos, dan warna lantai terdegradasi. Sejauh ini, juru pelihara dan petugas sudah berhasil membersihkan lumpur.  Tim Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah II Sumatra Utara juga terus mengobservasi lapangan terkait dampak yang terjadi setelah banjir di Rumah Tjong A Fie untuk menentukan skala prioritas penanganan selanjutnya.

Kondisi lebih parah dialami Masjid Azizi dan Makam Kesultanan Langkat yang hingga kemarin masih terendam air. Begitu pula dengan sebagian besar akses jalan menuju dua cagar budaya itu sehingga proses pemulihan dan survei dilaksanakan secara bertahap.

Air Merendam Masjid Azizi dan Kompleks Makam

Berdasarkan laporan Juru Pelihara Bangunan Cagar Budaya Masjid Azizi, As’ari, Masjid Azizi mengalami kerusakan di sejumlah titik, terutama di bagian pagar masjid. Kerusakan tersebut diakibatkan oleh arus kencang banjir hingga merobohkan pagar masjid dan membawa air hingga ke dalam masjid.

Bagian pagar masjid yang rusak kurang lebih sepanjang 24 meter, terdiri terdiri dari enam blok dengan masing-masing blok sepanjang empat meter. Laporan tersebut diketahui setelah air yang menggenangi Masjid Azizi mulai surut. Kini, seluruh lantai masjid masih ditutupi lumpur.

Penanganan awal sudah dilakukan untuk memulihkan kondisi Masjid Azizi dan Makam Kesultanan Langkat, yakni dengan membersihkan lumpur dan sisa air yang menggenangi kompleks masjid dan akan ditimbun tanah pada gundukan makam. Sementara, areal pekarangan masjid masih terendam banjir sehingga belum dapat dibersihkan secara maksimal.

Keunikan Masjid Azizi sebagai Cagar Budaya

Masjid Azizi merupakan Cagar Budaya Tingkat Provinsi yang berada di Kecamatan Tanjung Pura, Kabupaten Langkat, Sumatera Utara, yang tetap difungsikan sebagai tempat ibadah. Arsitektur Masjid Azizi memadukan berbagai gaya, seperti Melayu, Arab, India, Persia, Turki, dan Eropa, dengan ciri khas warna kuning dan memiliki 21 kubah serta menara setinggi sekitar 60 meter. Terdapat juga kompleks makam Kesultanan Langkat di area masjid yang kerap diziarahi masyarakat sekitar.

Tim Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah II Sumatra Utara terus berkoordinasi dengan juru pelihara di lokasi untuk meminimalisir kerusakan sekaligus mempercepat pemulihan kedua cagar budaya tersebut. Baik Rumah Tjong A Fie maupun Masjid Azizi -beserta kompleks makamnya- termasuk dalam 43 cagar budaya yang tercatat oleh Kementerian Kebudayaan sebagai terdampak banjir bandang Sumatera.

Khusus di Sumatera Utara, ada tujuh cagar budaya yang terdampak. Dua lainnya berada di Sumatera Barat, dan 34 cagar budaya sisanya berada di Aceh.

Skala Kerusakan Cagar Budaya Terdampak Banjir Sumatera

"Jumlahnya cukup banyak juga, terutama itu di cagar-cagar budaya yang lokasinya relatif dekat dengan sungai. Memang di masa lalu kan sungai itu juga bagian dari pusat kehidupan, pusat peradaban," kata Menbud Fadli Zon dalam jumpa pers di Jakarta, Kamis, 4 Desember 2025.

Ia menambahkan bahwa sebagian besar cagar budaya terdampak sepintas mengalami kerusakan ringan dan sedang. Hanya ada beberapa yang mengalami rusak parah, terutama karena terendam lumpur yang tebal.

"Yang berat ini nanti kita, melalui sarana dan prasarana dari Kementerian Kebudayaan, dengan anggaran yang ada, kita akan coba untuk melakukan intervensi dan juga menganggarkannya sebagai prioritas untuk perbaikan sarana dan prasarana tersebut," ujarnya. 

Kalau pun dana perbaikannya tidak cukup, pihaknya akan berbicara dengan Kementerian Keuangan dan Sekretariat Negara (Setneg) agar memprioritaskan perbaikan cagar budaya yang rusak berat. "Kalau ringan, mungkin bisa kita antisipasi lebih mudah dengan yang ada," imbuh Fadli.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |