Kuil Wat Arun Bangkok Perketat Aturan untuk Fotografer Lokal Setelah Turis Diteriaki

3 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Wat Arun Ratchawararam Ratchawaramahawihan di Bangkok, Thailand, merilis permintaan maaf menyusul keluhan publik atas perilaku beberapa fotografer lokal. Mereka dituduh mengganggu wisatawan untuk keuntungan pribadi.

Melansir The Thaiger, Jumat, 9 Januiari 2026, mengenakan pakaian tradisional saat mengunjungi kuil semakin populer di kalangan wisatawan lokal dan asing. Wat Arun adalah salah satu lokasi favorit untuk sesi foto berkat menara prang ikonisnya, serta detail dekoratif warna-warni dari potongan-potongan kecil porselen Tiongkok dan kerang bekas.

Tren ini menyebabkan semakin banyaknya toko penyewaan kostum dan jasa fotografi di sekitar kuil. Para operator sering mendekati pengunjung di dalam kompleks kuil untuk mempromosikan layanan mereka.

Namun, untuk mendapatkan hasil foto yang sempurna bagi klien yang membayar, beberapa fotografer dilaporkan telah menyingkirkan kerumunan dari latar belakang, berteriak pada turis untuk minggir, atau meminta pengunjung berhenti berjalan melalui area tertentu, menyebabkan ketidaknyamanan.

Masalah ini mendapat perhatian lebih luas setelah Krisda "Pond" Witthayakhajorndet, pendiri Be On Cloud, membagikan pengalamannya secara daring. Ia mengkritik perilaku para fotografer, mengatakan bahwa hal itu mengganggu wisatawan dan menciptakan suasana negatif.

Krisda  menekankan bahwa kuil tersebut adalah ruang publik dan tidak boleh dieksploitasi untuk kepentingan bisnis pribadi. Banyak warganet berbagi pengalaman serupa di Wat Arun, yang mendorong Kepolisian Pariwisata Thailand untuk turun tangan mengatasi situasi tersebut.

Pernyataan Pihak Kuil Wat Arun

Petugas dilaporkan meningkatkan patroli di kuil tersebut. Mereka juga mengeluarkan peringatan pada fotografer yang kedapatan berperilaku tidak pantas.

Sebagai tanggapan, Wat Arun merilis pernyataan resmi pada Rabu, 7 Januari 2026, yang meminta maaf atas insiden tersebut. Sebagian dari pernyataan itu berbunyi, "Kuil dengan tulus meminta maaf atas gangguan atau rasa tidak nyaman yang mungkin dialami oleh pihak-pihak terkait."

"Kuil juga ingin menyampaikan apresiasi pada mereka yang telah membagikan masalah ini secara publik, karena perspektif mereka telah membantu mencerminkan sudut pandang yang berharga dan berkontribusi pada peninjauan pendekatan kuil dalam mengelola dan merawat lingkungannya dengan cara yang tepat," kata pihak pengelola destinasi wisata populer itu.

Aturan Baru untuk Fotografer di Wat Arun

Pihak kuil juga mengumumkan langkah-langkah baru. Mereka menyatakan bahwa staf kuil akan bekerja sama dengan petugas dari Kantor Polisi Bangkok Yai, pejabat distrik, dan Polisi Pariwisata untuk mengatur layanan fotografi.

Berdasarkan kebijakan baru, fotografer harus menjalani pelatihan tentang tata krama yang benar. Mereka pun harus mengantongi izin resmi sebelum beroperasi di dalam area kuil.

Tantangan praktik wisata tidak hanya digemakan dari Ibu Kota Thailand, namun juga destinasi pulau populer di negara itu: Phuket. Menurut The Nation Thailand, Asosiasi Pariwisata Phuket telah memperingatkan bahwa pariwisata pulau itu sedang melonjak melampaui kapasitas daya tampungnya.

Industri pariwisata Phuket menyerukan pada pemerintah Thailand untuk segera menyelesaikan apa yang mereka sebut sebagai krisis infrastruktur yang semakin dalam. Asosiasi Pariwisata Phuket mengatakan, meski pariwisata dan perluasan kota terus berlanjut dari tahun ke tahun, infrastruktur belum mengimbangi.

Tantangan Terbesar Pariwisata Phuket

Infrastruktur yang ada sekarang belum dapat mendukung skala pertumbuhan pariwisata secara memadai. Asosiasi tersebut mendesak pemerintah beralih dari diskusi ke implementasi, dengan mengatakan bahwa masalah-masalah tersebut telah dibicarakan selama bertahun-tahun tanpa implementasi yang berarti.

Thaneth Tantipiriyakij, Presiden Asosiasi Pariwisata Phuket, mengatakan salah satu tantangan terbesar adalah daya tampung pulau tersebut. Phuket, katanya, dirancang untuk menampung populasi sekitar 400 ribu jiwa.

Kenyataannya, jumlah penduduk di pulau itu jauh lebih tinggi: lebih dari 400 ribu orang tambahan datang untuk mendukung perekonomian. Ada sekitar 130 ribu pekerja migran terdaftar, dan selama periode puncak, jumlah wisatawan dapat mencapai hampir satu juta.

Tingkat tersebut, katanya, melebihi kapasitas yang dapat ditampung Phuket secara wajar—sebuah masalah yang sudah terlihat selama periode Phuket Sandbox. Dia mengatakan, pulau itu sekarang fokus pada menarik wisatawan "berkualitas."

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |