Terbang Tanpa Bagasi, Strategi Pelancong yang Tak Mau Bayar Biaya Ekstra

1 week ago 37

Liputan6.com, Jakarta - Terbang tanpa bagasi belakangan jadi pilihan banyak pelancong untuk menghindari kewajiban membayar biaya ekstra untuk setiap kelebihan bagasi. Salah satunya Rachel Kelly (28), perempuan yang kini menetap di Melbourne, Australia, ketika terbang pindah dari Irlandia, pada Januari tahun ini untuk mengejar karier mengajar.

Ia saat itu diminta membayar 1000 dolar Australia untuk membawa tas tambahan ke dalam penerbangannya yang tentu saja ditolaknya. Ia pun memilih mengirimkan barang-barangnya via kargo secara langsung ke tujuan dan berhasil menghemat 600 dolar Australia dengan cara itu.

"Saya rasa tidak adil untuk mengenakan denda besar kepada orang-orang untuk bagasi seperti bagasi kabin, ketika mereka sudah berada di bandara," kata Rachel, dikutip dari news.com.au, Jumat, 26 Desember 2025 "Saya mengerti bahwa wajar untuk mengenakan biaya untuk bagasi terdaftar, tetapi harganya benar-benar keterlaluan. Itu benar-benar tidak sepadan."

Setelah menetap di Australia, Rachel memiliki filosofi yang sama saat bepergian di dalam negeri. “Jika saya bepergian dengan maskapai seperti Jetstar dengan batas 7 kg, saya akan menyembunyikan tas tangan saya di bawah mantel atau mengenakan tujuh lapis sweater jika perlu agar tidak dikenakan biaya kelebihan bagasi."

Ia melanjutkan, "Saya merasa gugup melakukannya, karena takut ada yang menangkap saya, tetapi terkadang itu harus dilakukan karena saya akan marah jika harus membayar denda karena tas saya melebihi batas berat. Biasanya saya akan mengeluarkan tas saya setelah berada di pesawat."

Pelakunya Mayoritas Milenial dan Gen Z

Rachel tidak sendirian. Menurut survei, hampir satu dari tiga orang telah mengenakan beberapa lapis pakaian untuk menghindari biaya tambahan, dengan pendukung utama tren ini adalah Generasi Z dan Milenial.

Survei berbeda terhadap 1000 pelancong berusia di atas 18 tahun yang dilakukan Send My Bag juga menemukan bahwa hampir setengahnya (48 persen) percaya bahwa maskapai penerbangan sengaja mengambil keuntungan dari kebijakan bagasi yang membingungkan, sementara 37 persen telah membayar hingga 200 dolar Australia untuk biaya kelebihan bagasi dalam 12 bulan terakhir saja.

Maka, ketika saudara laki-laki TikToker Helena P memilih untuk naik penerbangan internasional selama 22 jam tanpa apa pun kecuali headphone peredam suara, ia menyebutnya sebagai "bendera krem". Ia juga menambahkan bahwa itu merupakan bagian dari hak istimewanya sang adik.

3 Cara Terbang Tanpa Bagasi Tambahan

Namun, praktik dari tren ini tidak selalu melibatkan strategi licik atau hak istimewa. Itu bisa sesederhana membawa ponsel dan dompet ke dalam pesawat. Maskapai penerbangan sering mengizinkan dua barang bawaan, jadi ada cukup ruang untuk membawa tas tangan dan laptop Anda.

Tetapi bagi mereka yang menginginkan perasaan kebebasan mutlak, memilih untuk tidak membawa barang bawaan bisa dilakukan dengan berbagai cara. Ada tiga tingkatan tren itu, yakni:

- Pocket People: Memenuhi setiap saku jaket dan celana kargo hingga penuh.

- Delivery Crew: Mengirim barang-barang penting ke tujuan mereka atau meminjam dari teman-teman Anda saat tiba. Meskipun yang terakhir bergantung pada teman-teman yang murah hati yang memiliki ukuran tubuh yang sama dengan Anda.

- Totally Bare: Tanpa tas, hanya barang-barang penting di tangan – misalnya ponsel, pengisi daya, dompet.

Peluang bagi Penyewaan Pakaian

Memanfaatkan fenomena itu, maskapai Japan Airlines meluncurkan layanan penyewaan pakaian oleh wisatawan yang berkunjung ke negeri sakura pada 2023. Layanan bernama Any Wear Anywhere itu memungkinkan penyewa mndapatkan busana sesuai preferensi gaya busana dan berbagai musim yang berbeda. Wisatawan yang memesan dapat menerimanya di hotel saat hari kedatangan.

Dilansir dari CNN, Rabu, 13 September 2023, setelah liburan para penumpang usai, pakaian akan dikembalikan, dicuci, dan didaur ulang untuk digunakan kembali. Layanan yang dinamai Any Wear, Anywhere dijadwalkan beroperasi hingga akhir Agustus 2024.

Japan Airlines mengklaimn bahwa layanan ini dapat mengurangi emisi karbon, dengan mengurangi beban yang diangkut oleh pesawat. Any Wear, Anywhere memperkirakan bahwa dengan adanya layanan tersebut akan menghemat sekitar 22 pon (10 kilogram) bagasi dan sekitar 16,5 pon (7,5 kilogram) penghematan emisi, yang setara dengan menyalakan  pengering rambut 10 menit sehari, selama 78 hari.

"Saya suka jalan-jalan dan pernah bepergian ke banyak negara asing, tapi saya selalu takut menyeret koper atau mencuci pakaian ke luar negeri," kata Miho Moriya, yang mencetuskan ide tersebut dan mengelola Any Wear, Anywhere untuk Sumitomo, perusahaan Jepang yang menangani pemesanan, pengiriman dan pencucian pakaian pada layanan tersebut.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |