Senyum Ibu-ibu Korban Banjir Bandang Aceh Dapat Jatah di Lapak Sayur Galia, dari Wortel hingga Telur

1 day ago 12

Liputan6.com, Jakarta - Banjir bandang Sumatera yang melanda berbagai kabupaten di Aceh berdampak serius pada segala lini kehidupan warga. Utamanya soal pemenuhan pangan warga. Dalam kondisi darurat, korban banjir hanya bisa mengandalkan makanan yang tersisa yang seringkali nutrisinya tidak sempurna. 

Kondisi itu membuat sekelompok relawan dari Malang yang tergabung dalam Aliansi Komunitas Rakyat Indonesia untuk Sumatera terusik. Demi memulihkan kembali situasi pasca-bencana, mereka menggelar kegiatan bertajuk Lapak Sayur Galia yang menargetkan para ibu sebagai 'konsumen' utama.

"Kebetulan kami adalah tim kolektif yang bergerak di komunitas pangan yang diketuai oleh Mba Britania Sari. Kegiatan ini kami buat agar para penyintas korban banjir Aceh bisa kembali mengonsumsi makanan real food," kata Ameynda Ikhfinna, anggota tim lapangan Aliansi Komunitas Rakyat Indonesia untuk Sumatera, saat dihubungi Lifestyle Liputan6.com, Kamis (8/1/2026).

Ide membuka lapak sayur terbersit setelah melihat para penyintas bencana terlihat mulai jenuh dengan makanan pemberian dari dapur umum dan makanan instan setelah beberapa minggu setelah bencana. Bersama tim, ia lalu menyiapkan bahan baku pangan 4 sehat 5 sempurna.

Ada beragam sayuran, buah-buahan, dan bahan protein segar yang meliputi ayam potong, ikan segar, dan telur. Bahan-bahan itu diperoleh dari para penyuplai lokal Berastagi yang diajak bekerja sama.

"Awalnya kami survei dulu di pasar induk Kota Langsa. Kami assessment di pasar untuk memastikan penyuplai yang akan kami ajak kerja sama selama kegiatan bazar berlangsung," sambung perempuan yang akrab disapa Menda itu.

Gelaran Lapak Sayur Galia

Sumber dana untuk lapak sayur itu diambil dari hasil donasi para donatur. Sejauh ini, kegiatan itu sudah digelar dua kali di titik berbeda, yakni Blang Gadeng, Ranto Peureulak, Aceh Timur, dan Dusun Batang Ara, Aceh Tamiang. 

"Proses ini kami lakukan setelah kami melakukan assesment di minggu pertama dan kedua kami datang di Tamiang dan Aceh Timur. Untuk awal-awal, kami melakukan pendekatan dengan Pak Kecil/Pak Datuk/yang biasa disebut dengan kepala desanya," tutur Menda. Tim lalu berkoordinasi dengan perangkat gampoeng agar mereka bisa berbagi sesuai jumlah data di lapangan.

Begitu hari pelaksanaan tiba, pihaknya menata sayuran dan lauk-pauk lainnya dengan rapi. Para ibu yang berkumpul diarahkan agar tertib mengantre demi kelancaran acara. Mereka disiapkan baskom atau wadah lain untuk menampung sayur-mayur dan lauk-pauk yang dibagikan secara gratis.

"Terdiri dari wortel, kacang panjang, sawi putih, kentang, jagung, ubi, kentang, bawang merah, bawang putih, jeruk, rambutan, ayam potong empat, ikan segar dua potong, dan telur empat butir," urai dia.

Disambut Antusias Para Ibu

Arahan itu diterima baik oleh para ibu. Senyum semringah tampak di wajah masing-masing penerima. Doa-doa baik pun terucap bagi para relawan yang menggelar acara.

"Sebagian dari mereka juga sudah kangen berbelanja sayur-mayur dan makan makanan rumahan. Sebagian dari mereka juga minta untuk disuplai sayur seminggu dua kali, tapi kami masih menghitung ulang dengan bujet kami terlebih dahulu," kata Menda.

Selain membuka lapak sayur, para relawan juga menyelipkan berbagai kegiatan pemulihan trauma, khususnya bagi ibu-ibu dan perempuan muda. Mereka sadar bahwa perempuan seringkali menjadi tombak di dalam rumah dan perannya jadi lebih banyak di tengah situasi bencana.

"Rencana akan kami gelar empat kali dengan titik yang berbeda. Dua di Aceh Timur dan dua di Aceh Tamiang. Rencananya di minggu ini kami akan selesai mba," ujarnya seraya menyebut penentuan lokasi berdasarkan jumlah balita dan ibu hamil yang ada agar suplai pangan tepat sasaran.

Rencana Masa Datang

Setelah kegiatan berakhir di pekan ini, ia dan tim berencana kembali ke Malang. Namun, pihaknya sudah merancang akan kembali datang ke Aceh sebelum puasa.

"Kami akan membantu penyintas saat menyambut bulan puasa Ramadan. Kami akan membantu mereka di acara megengan atau syukuran sebelum puasa dimulai," kata Menda.

Program pemulihan lanjutan nantinya akan fokus mendukung penyediaan bahan pangan mentah (real food). "Sehingga makanan yang dimakan oleh penyintas korban banjir ini memenuhi kebutuhan gizi yang seimbang," ujarnya.

Berdasarkan data BNPB, korban meninggal dunia dampak banjir Sumatera per 1 Januari 2026 mencapai 1.157 orang. Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Abdul Muhari menegaskan, upaya pencarian korban terus dilakukan hingga kini.

"Operasi pencarian masih terus dilakukan sampai kita mengupayakan jumlah korban atau daftar nama-nama yang masih masuk dalam daftar pencarian orang itu berkurang ke minimal mungkin," tegasnya.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |