Redam Bahaya Filler, Klinik Kecantikan Diminta Lakukan USG Wajah Sebelum Suntik Pasien

3 weeks ago 73

Liputan6.com, Jakarta - Kunjungan Anda ke klinik kecantikan untuk menyamarkan kerutan di sudut mata atau mengisi garis senyum mungkin akan segera mengalami perubahan prosedur. Melansir NY Post, Selasa, 9 Desember 2025, para ahli medis kini mendesak klinik kecantikan untuk melakukan ultrasound (USG) wajah sebelum menyuntikkan filler kosmetik ke pasien. Langkah pencegahan ini dinilai sangat krusial untuk membuat prosedur populer tersebut menjadi jauh lebih aman dan presisi bagi pasien.

Dorongan penggunaan USG ini muncul setelah adanya penelitian baru yang meningkatkan kekhawatiran mengenai komplikasi langka namun sangat serius yang terkait dengan perawatan ini. Risiko berbahaya tersebut dikenal sebagai oklusi vaskular, sebuah kondisi yang terjadi ketika material dermal filler, seperti asam hialuronat, menyumbat aliran darah di arteri. 

Menurut Dewan Bedah Kosmetik Wajah Amerika, meskipun sebagian besar efek sampingnya ringan seperti kemerahan atau memar, kasus yang parah dapat memburuk dengan sangat cepat. Risiko fatal dari prosedur ini tidak main-main. Dr. Rosa Maria Silveira Sigrist, seorang ahli radiologi di Universitas São Paulo di Brasil, menegaskan bahaya tersebut dalam sebuah pernyataan.

"Peristiwa oklusi vaskular di wajah bisa sangat menghancurkan, karena jika tidak ditangani dengan benar, hal itu dapat menyebabkan nekrosis (kematian jaringan) dan bahkan deformasi wajah," ungkap Dr. Sigrist.

Dr. Sigrist baru-baru ini memimpin sebuah studi global yang meneliti komplikasi vaskular terkait filler pada 100 pasien. Penelitian ini dilakukan di enam klinik berbeda, termasuk fasilitas radiologi, dermatologi, dan bedah plastik, dalam rentang waktu antara Mei 2022 hingga April 2025.

Kondisi Pasien Paling Berisiko Komplikasi dari Suntik Filler

Dengan menggunakan teknologi USG, para peneliti menemukan fakta yang mengejutkan mengenai kondisi aliran darah pasien yang mengalami komplikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 42 persen pasien tidak memiliki aliran darah di pembuluh perforator mereka, yaitu pembuluh yang menghubungkan arteri permukaan wajah ke arteri yang lebih dalam.

Lebih mengkhawatirkan lagi, pada sekitar sepertiga kasus, pembuluh darah utama pasien sama sekali tidak memiliki aliran darah. Masalah ini ternyata sangat erat kaitannya dengan arteri hidung lateral.

Bagian hidung dijelaskan sebagai area yang sangat rumit untuk disuntik. Dr. Sigrist menjelaskan bahwa pembuluh darah di hidung terhubung langsung ke arteri wajah utama serta arteri yang mengarah ke mata. Karena itu, ketika terjadi kesalahan dalam penyuntikan di area ini, dampaknya bisa sangat fatal, mulai dari kebutaan hingga stroke. 

Untuk menangani kasus oklusi vaskular akibat filler, dokter biasanya menyuntikkan hialuronidase, sebuah enzim yang berfungsi melarutkan asam hialuronat. Namun, melihat risiko yang ada, Dr. Sigrist sangat merekomendasikan penggunaan USG selama prosedur berlangsung, baik saat penyuntikan filler maupun saat penanganan komplikasi.

USG Pandu Suntik Filler Lebih Akurat

Tanpa bantuan teknologi visual, dokter pada dasarnya bekerja tanpa peta yang jelas di bawah permukaan kulit. "Jika penyuntik tidak dipandu oleh USG, mereka merawat berdasarkan temuan klinis dan menyuntik secara buta," kata Dr. Sigrist. "Tetapi jika kita bisa melihat temuan USG, kita bisa menargetkan tempat yang tepat di mana oklusi (penyumbatan) terjadi."

Dengan panduan USG, penanganan komplikasi menjadi jauh lebih efisien. Dr. Sigrist menambahkan, "Daripada membanjiri area tersebut dengan hialuronidase, kita dapat melakukan suntikan terpandu yang menggunakan lebih sedikit hialuronidase dan memberikan hasil perawatan yang lebih baik."

Selain untuk penanganan darurat, USG juga disarankan untuk memandu penyuntikan filler kosmetik sejak awal. Hal ini membantu penyuntik menempatkan zat seperti gel tersebut dengan lebih presisi. Artinya, jumlah filler yang dibutuhkan menjadi lebih sedikit, dan risiko komplikasi dapat ditekan seminimal mungkin sejak awal prosedur dilakukan.

Kasus Nyata Pasien Filler Alami Komplikasi

Peringatan medis ini muncul di saat yang sangat relevan. Menurut Perhimpunan Ahli Bedah Plastik Amerika, lebih dari 5,3 juta orang Amerika menggunakan filler asam hialuronat pada 2024. Penggemar memuji suntikan ini karena kemampuannya meningkatkan volume wajah dan menghaluskan kerutan secara instan tanpa operasi. Meskipun kejadian buruk yang serius jarang terjadi, kurang dari 0,05 persen menurut satu tinjauan klinis, risikonya tetap nyata.

Salah satu korban yang mengalami komplikasi ini adalah mantan bintang reality show Shahs of Sunset, Lilly Ghalichi. Pada 2021, dalam hitungan jam setelah menerima sedikit filler di bawah mata, kulitnya memerah dan menggelap.

Awalnya terlihat seperti memar, kondisinya memburuk dengan cepat. Ghalichi dilarikan ke rumah sakit untuk disuntik hialuronidase guna memulihkan aliran darah.

"Setelah lebih dari 1.200 unit larutan pelarut, 24 jam tanpa tidur, dan dokter tak henti-hentinya yang tidak cukup saya ucapkan terima kasih karena telah membantu saya, saya sangat beruntung untuk mengatakan bahwa mereka melarutkan filler yang tersangkut di pembuluh darah saya," tulisnya di Instagram.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |