Produsen Keripik Kentang Jepang Ubah Kemasan Jadi Hitam Putih Gara-gara Krisis Plastik

3 hours ago 3

Liputan6.com, Jakarta - Produsen keripik kentang asal Jepang, Calbee Inc., akan mulai menjual produknya dalam kemasan hitam putih karena krisis pasokan bahan baku plastik, nafta, yang dipicu konflik di Timur Tengah, menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut pada Senin, 11 Mei 2026. Nafta merupakan bahan baku plastik yang berasal dari minyak bumi.

Mengutip Japan Today, Selasa (12/5/2026), nafta umumnya digunakan sebagai pelarut tinta cetak. Pihak perusahaan telah memberi tahu peritel tentang perubahan tersebut, kata sumber berbeda di industri ritel. Kemasan hitam putih akan digunakan untuk produk utamanya, termasuk Keripik Kentang Rasa Garam Ringan dan Consommé Punch, yang akan dikirim mulai akhir Mei, kata sumber tersebut.

Menurut survei yang dirilis pada akhir April 2026 oleh sebuah asosiasi yang mewakili industri dan kelompok konsumen, lebih dari 70 persen dari sekitar 100 perusahaan menjawab bahwa mereka kemungkinan akan menaikkan harga jika kekhawatiran tentang pasokan nafta terus berlanjut.

Krisis nafta sebelumnya memicu panic buying kantong sampah di Korea Selatan (Korsel). Penjualan kantong sampah dilaporkan meningka tiga kali lipat dari biasanya, sementara pembelian kantong sampah makanan meningkat dua kali lipat, yang dipicu oleh perang Iran vs Israel dan AS (Amerika Serikat). 

Mengutip Korea Times, Jumat, 27 Maret 2026, permintaan akan kantong sampah makanan dan kantong sampah standar sebagian besar tidak berusah di sebagian besar toko swalayan pada awal bulan. Tapi, tanda-tanda penimbunan produk plastik mulai muncul pada pertengahan Maret 2026 dengan tingkat penjualan naik dua digit sejak 15 Maret 2026.

Panic Buying Kantong Sampah di Korsel

Waktu tersebut bertepatnya dengan meningkatnya kekhawatiran di seluruh industri petrokimia bahwa gangguan yang terkait dengan blokade Selat Hormuz akan memengaruhi pasokan minyak. Sementara, minyak bumi dibutuhkan untuk membuat nafta sebagai bahan baku utama produk plastik.

Menurut jaringan toko serba ada CU pada Rabu, 25 Maret 2026, penjualan kantong sampah makanan dari Minggu hingga Selasa, yakni pada 15--21 Maret 2026, meningkat 153,3 persen dari minggu sebelumnya. Penjualan kantong sampah melonjak 216,4 persen selama periode yang sama.

Selama periode yang sama, GS25 melihat penjualan kantong sampah makanan naik 20,6 persen dan penjualan kantong sampah tumbuh 9,0 persen. Penjualan di 7-Eleven dan Emart24 juga mulai mencatat pertumbuhan dua digit.

Pemborongan itu dilaporkan hampir menghabiskan persediaan kantong berukuran 10 liter dan 20 liter, ukuran yang paling umum digunakan oleh rumah tangga. Beberapa toko dilaporkan hanya memiliki kantong berukuran 75 liter atau lebih besar, sementara yang lain mulai membatasi pembelian atau mengurangi jumlah kantong yang dijual dalam setiap bundel.

Berdampak ke Indonesia

Krisis plastik juga berdampak ke dalam negeri dengan harga plastik di pasaran melonjak tajam sekitar 30--40 persen per April 2026. Pemerintah tengah memburu sumber pasokan baru untuk bahan baku plastik di tengah krisis global yang dipicu gangguan rantai pasok akibat konflik di Timur Tengah.

Menteri Perdagangan Budi Santoso menyampaikan, selama ini Indonesia masih bergantung pada impor nafta sebagai bahan baku bijih plastik dari kawasan tersebut. "Nafta itu kita impor dari Timur Tengah. Jadi kita terdampak dari bahan baku yang kita impor," ujar Budi Santoso dikutip dari Antara, Senin, 6 April 2026.

Untuk mengatasi kondisi tersebut, pemerintah menjajaki sumber alternatif bahan baku dari negara seperti India, serta kawasan Afrika dan Amerika. Namun, proses peralihan pasokan ini tidak bisa dilakukan secara instan. "Memang ini butuh waktu, karena tiba-tiba dari Timur Tengah harus pindah ke negara lain," kata Budi.

Kementerian Perdagangan juga telah berkoordinasi dengan pelaku industri dan asosiasi untuk memastikan pasokan tetap terjaga. Selain itu, komunikasi dengan perwakilan Indonesia di luar negeri terus dilakukan guna menemukan pemasok baru.

Pembebasan Bea Nol Persen

Dengan kenaikan harga produk plastik, plus LPG, pemerintah memberikan insentif fiskal berupa pembebasan bea masuk atau tarif 0 persen untuk impor kedua komoditas akibat ketegangan geopolitik global. Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyampaikan, penurunan bea masuk LPG menjadi nol persen ditujukan untuk mendukung industri petrokimia yang terdampak konflik di Timur Tengah.

"Kemarin Bapak Presiden juga meminta kepada Menteri ESDM untuk mencarikan sumber-sumber nafta yang lain, namun sebagai langkah ini adalah impor LPG bea masuknya diturunkan dari lima persen menjadi nol persen, sehingga refinery bisa memperoleh bahan baku alternatif dari Nafta ke LPG," kata Airlangga dalam konferensi pers, Selasa, 28 April 2026, dikutip dari kanal Bisnis Liputan6.com.

Selain LPG, pemerintah juga memberikan bea masuk nol persen untuk bahan baku plastik seperti polipropilen, polietilen, LLDPE, dan HDPE selama enam bulan. Kebijakan ini ditempuh karena harga kemasan plastik mengalami lonjakan signifikan, bahkan mencapai 100 persen.

"Ini diberi periode dalam enam bulan. Nanti kita lihat situasi sesudah enam bulan seperti apa," kata dia.

Airlangga mengatakan, kebijakan ini mengacu pada langkah serupa yang diterapkan India. Ia juga menjelaskan, kebijakan tersebut bertujuan agar kenaikan harga kemasan tidak mendorong lonjakan harga makanan dan minuman, sekaligus mengatur perizinan impor berbasis pertimbangan teknis dengan penyusunan daftar komoditas yang memerlukan peraturan teknis oleh Kementerian Perindustrian.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |