Menteri LH Pantau 5 DAS Terdampak Banjir Bandang Sumut, Sebut Tak Semua Kayu Hanyut Akibat Aktivitas Manusia

1 month ago 50

Liputan6.com, Jakarta - Pekan lalu, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq memantau kondisi lokasi yang terdampak bencana banjir bandang di Sumatera Utara, khususnya di sekitar lima daerah aliran sungai (DAS) yang dipantau langsung, yakni DAS Batang Toru, DAS Garoga, DAS Aik Pandan, DAS Badiri, dan DAS Sibuluan. Berdasarkan pengamatannya, tidak seluruh kayu yang terseret banjir disebabkan aktivitas manusia.

Temuan itu didapatnya saat memantau kondisi DAS Badili yang melintasi Kabupaten Tapanuli Tengah. "Kerusakan hulunya cukup besar. Jadi, kayu-kayu banyak jatuh ke bawah. Dan saya mohon maaf tidak melihat langsung ada kegiatan aktivitas besar oleh manusia di hulunya," kata Menteri LH ditemui seusai melepas bantuan dump truck untuk Aceh Tengah dan Agam di Jakarta, Senin (8/12/2025).

Hanif menduga banyak kayu yang hanyut ke bawah disebabkan oleh struktur tanah di lokasi itu tidak terlalu kuat. "Struktur tanahnya yang tidak terlalu kuat pada saat hujan cukup tinggi ini menyebabkan runtuh," sambung dia.

Indikasinya, sambung dia, terlihat dari banyak lubang di puncak. Kayu-kayu itu lalu hanyut terbawa banjir dan merusak banyak bangunan warga, termasuk satu sekolah yang seluruhnya tertutup kayu.

Namun, temuan hampir serupa didapat saat memantau kondisi DAS Garoga yang satu dusun tertimbun akibat banjir di wilayah itu. Berdasarkan penelusurannya, ada kegiatan perkebunan kelapa sawit oleh pihak swasta yang berlangsung di sekitar lokasi. Perusahaan perkebunan itu, sambung Hanif, sudah dipanggil untuk dimintai keterangan. Namun, penyebab utamanya adalah pada kondisi hulu.

Tingkat Keparahan DAS Garoga

"Kontribusi terbesarnya lebih kepada hancurnya DAS bagian hulu. Karena dia terjal ya, kemudian hujannya cukup deras, sehingga dia (air) jatuh dan kemudian kayunya terbawa banyak sekali," Hanif menjelaskan.

Meski begitu, ia mengaku hanya melihat sedikit kayu yang 'ada potongan sensonya' atau hasil gergaji mesin. "Sehingga dari tinjauan lapangan, DAS Garoga ya, yang membawa korban cukup besar karena hampir satu dusun tertimbun tanah, itu dari longsoran di puncaknya," ujar Hanif lagi.

Ia menyebut lanskap DAS Garoga juga berisiko tinggi terjadinya longsor saat curah hujan sangat tinggi. Pasalnya, antara hulu hingga ke bawahnya, sudutnya begitu curam.

"Jadi, DAS Garoga ini pendek dan berdiri. Dindingnya berdiri," kata Hanif. "Itu sangat curam dan memang fungsinya sepertinya lebh untuk perlindungan di hulu," imbuh dia. Karena itu, aktivitas warga seperti pertanian lahan kering sangat berbahaya bagi kestabilan tanah.

Operasional 4 Perusahaan di DAS Batang Toru Disetop

Kondisi lanskap serupa juga dihadapi di DAS Aik Pandan yang melewati Sibolga dan DAS Sibuluan yang memiliki dinding curam. "Jadi begitu dinding, langsung kotanya... Ini tentu memperparah kerusakan lingkungannya," kata Hanif.

DAS itu, kata Hanif, merupakan bagian dari rangkaian Taman Nasional Bukit Barusan yang ada di DAS Sumatera bagian selatan dan barat daya. Secara umum, bentang alam di kawasan itu lebih landai di utara, tetapi langsung curam (tegak) begitu di sisi selatan.

"Ini seperti Sungai Batang Toru yang paling besar, seluas 340 ribu hektare, itu sepanjang 139 kilometer. Itu beda tingginya lumayan tinggi. Kalau di hulu yang tepat Bandara Silangit itu, ketinggian permukaan lautnya di angka 1.100 mter, namun di sisi pantainya mungkin 11 atau 16 meter, sehingga slope yang terbentuk sekitar 37 persen. Itu kalau Batang Toru kita anggap sangat curam," ia menjelaskan.

Untuk DAS Batang Toru, pihaknya telah menghentikan operasional empat unit izin usaha, termasuk yang dikelola PT Agincourt Resources, PT Perkebunan Nusantara III (PTPN III), dan PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) pengembang PLTA Batang Toru. "Mulai 6 Desember 2025, seluruh perusahaan di hulu DAS Batang Toru wajib menghentikan operasional dan menjalani audit lingkungan," ujar Hanif.

Rekomendasi Penanganan Sampah Kayu Hasil Banjir

Di sisi lain, banjir bandang Sumatera menghasilkan sampah gelondongan kayu yang banyak. Menteri Hanif merekomendasikan untuk memanfaatkan gelondongan kayu tersebut sepanjang tidak bertentangan dengan tata usaha kayu yang diatur Kementerian Kehutana.

"Kami memasukkan itu di dalam kategori yang bisa dimanfaatkan. Nanti kami akan menyampaikan secara tertulis kepada gubernur dan kepada bupati yang terdampak dari kondisi ini," ujarnya.

Pihaknya juga sedang mendalami kemungkinan limbah B3 terbawa banjir bandang. Hari ini, pihaknya berencana menandatangani surat perintah audit lingkungan untuk memberi gambaran jelas tentang dampak lingkungan akibat banjir.

"Kita tidak bisa menduga-nduga ya, memang water treatment-nya (perusahaan tambang emas PT Agincourt Resources) sangat komplet, sangat besar dan sangat profound, tapi kan perlu audit lingkungan untuk menggambarkan," ujarnya. Selama proses audit belum selesai, pihaknya melarang perusahaan itu beroperasi.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |