Memulihkan Keceriaan Anak-anak Aceh Tamiang Korban Banjir Bandang di Sekolah Ceria

3 weeks ago 46

Liputan6.com, Jakarta - Banjir bandang yang menerjang Aceh Tamiang, pertengahan November 2025, membawa trauma bagi 50 anak-anak yang belajar di TK/Rumah Quran Al Baitina. Keceriaan mereka menghilang, seiring hanyutnya peralatan sekolah milik mereka karena tersapu air bah. Hampir sebulan berada di situasi bencana luar biasa, sejumlah relawan gabungan dari berbagai institusi, termasuk Yayasan KITA, Pondok Roja, SAR Hidayatullah, dan TASK, membuka Sekolah Ceria.

Sekolah itu menempati bangunan semi permanen sekolah TK/Rumah Quran Al Baitina yang masih utuh. Lokasinya berada Dusun Karya, Kampung Seumadam, Kecamatan Kejuruan Muda, Aceh Tamiang.

"Lokasi ini termasuk salah satu kawasan yang terdampak parah oleh banjir bandang yang melanda kabupaten tersebut beberapa pekan terakhir," kata Dhiyauddin, relawan BMH, dalam keterangan tertulis kepada Lifestyle Liputan6.com, Kamis (18/12/2025).

Mengangkat tema Belajar Kembali, Bangkit Bersama, para relawan berupaya menghidupkan kembali kegiatan belajar mengajar yang sempat terhenti sekaligus memulihkan keceriaan yang sempat hilang. Upaya itu dimulai dengan membagikan sejumlah peralatan belajar mengajar, seperti buku pelajaran dan bahan bacaan serta alat tulis dan perlengkapan dasar kelas.

Sekolah itu juga mendapatkan alat main belajar dan permainan edukatif serta perlengkapan belajar berupa Al Quran dan buku iqra yang baru. "Sebelum program Sekolah Ceria Digulirkan, seluruh perabotan, termasuk Al Quran, buku iqra, alat peraga, serta lemari sekolah terendam dan rusak parah oleh banjir dan lumpur tebal," ujar Dhiyauddin.

Antusiasme Anak-anak Aceh Tamiang di Sekolah Ceria

Setelah sekolah aktif kembali, puluhan anak-anak yang bersekolah di sana diajarkan kembali membaca Al Quran dan hapalan dasar. Kegiatan itu diselingi dengan permainan edukatif dan interaksi sosial untuk perlahan mengembalikan rutinitas belajar mereka.

"Semua dilakukan dengan pendekatan yang ramah anak dan penuh keceriaan relawan," katanya.

Keberadaan Sekolah Ceria disambut puluhan anak Aceh Tamiang yang menanti waktu sekolahnya dibuka kembali. Antusiasmenya begitu terasa, salah satunya ditunjukkan oleh Aqila (8) yang terlihat riang dan semangat saat memegang buku baru di tangannya.

"Aku senang karena alat mainan dan buku-buku kita sudah diganti oleh kaka-kaka relawan, jadi aku bisa belajar lagi," ujarnya sembari tersenyum lebar.

Kegembiraan juga dirasakan oleh Boby, pemilik sekolah Al Baitina. Mereka bahagia karena kini kegiatan belajar mengaaji kembali setelah sempat terhenti akibat banjir bandang yang menimpa komunitas mereka.

"Saya tak bisa menggambarkan betapa lega dan bahagianya melihat anak-anak kembali beraktivitas di sekolah mereka sendiri. Alat-alat yang dulu hilang kini sudah terganti, dan sekolah ini hidup lagi," ucapnya.

Banjir Bandang Sapu Sekolah

Sebelumnya, Baiti, istri Bobby yang juga guru di sekolah Al Baitina menuturkan bagaimana banjir mengoyakkan sekolah mereka. Banjir menutupi lantai bangunan semi permanen yang tetap bediri dan menghancurkan semua perabotan dan alat belajar.

"Air masuk sampai setinggi ini," kata Baiti sambil menunjuk bekas air di dinding yang lebih tinggi dari posturnya. "Semua alat tulis, buku-buku kami, Al-Quran, buku iqra’, semua sudah basah total, menggelembung, dan tidak bisa dipakai lagi. Kami sudah berusaha menjemurnya, tapi sudah tak layak."

Bobby menyatakan kerugian yang ditanggung sekolahnya terasa sangat berat. "Lima puluh anak itu terus bertanya, 'Kapan kita sekolah lagi, Pak?'. Kami hanya bisa menenangkan mereka, padahal hati kami sakit melihat semua alat belajar mereka musnah," ujarnya saat itu.

Saat ini, fokus Pak Bobby dan Ibu Baiti sangat sederhana, mereka ingin anak-anak segera kembali belajar. Baiti menegaskan, jika bantuan tidak segera datang, ditakutkan 50 anak ini akan kehilangan momentum belajar.

"Kami tidak mau semangat mengaji mereka hilang. Mereka adalah calon penerus kami, masa depan agama kami. Jangan biarkan mereka kehilangan guru dan Al-Quran karena banjir ini," ucapnya saat itu.

Jumlah Korban Banjir Sumatera

Hingga Minggu, 14 Desember 2025, jumlah korban meninggal dunia akibat bencana banjir dan longsor di tiga provinsi, yakni Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat, mencapai 1.016 jiwa. Dalam rilis Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Pos Pendamping Nasionnal atau Pospenas mencatat korban meninggal tertinggi terjadi di Provinsi Aceh dengan jumlah 424 jiwa, disusul Sumatera Utara mencapai 349 jiwa dan Sumatera Barat 243 jiwa.

Dalam periode 8--13 Desember 2025, korban meninggal dunia bertambah 66 jiwa, dengan rincian Provinsi Aceh 33 jiwa, Sumatera Utara 19 jiwa dan Sumatera Barat 14 jiwa. Sedangkan, total jumlah korban hilang mencapai 212 jiwa dengan rincian di wilayah Aceh 32 jiwa, Sumatera Utara 90 jiwa, dan Sumatera Barat 90 jiwa.

Terkait pencatatan korban hilang, ini tidak mesti dari data yang ditemukan di lapangan tetapi juga data penambahan identifikasi dari korban yang sebelumnya tidak ditemukan, kemudian dikonfirmasi. Misalnya korban tersebut bukan dari warga kabupaten A, pindah ke kabupaten B. Kondisi seperti ini masih ditemui di lapangan sehingga data yang dicatat sesuai identifikasi by name by address di kabupaten dan kota. Sementara itu, populasi warga yang mengungsi mencapai total 624.670 jiwa.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |