Laporan Liputan6.com dari Madinah: Napak Tilas Napas Rasulullah

1 week ago 40

Liputan6.com, Madinah - Matahari Madinah bersinar hangat pada pagi menjelang siang, Rabu, 12 November 2025, ketika rombongan Accor Media Trip memulai city tour di Kota Hijrah. Dari hotel Movenpick Anwar Al-Madinah, bus membawa saya ke Masjid Quba yang berjarak sekitar empat kilometer.

Pemandangan di luar jendela perlahan berganti rupa, dari gedung hotel dan pertokoan menjadi bangunan-bangunan lebih rendah yang merupakan rumah penduduk lokal maupun sekolah. Tidak sampai 20 menit, kubah-kubah putih masjid pertama yang dibangun Nabi Muhammad SAW itu menyambut kami.

"Dulu, Rasulullah sering berjalan kaki dari Masjid Nabawi ke Masjid Quba untuk salat," kata Aisyah, pramuwisata kami yang merupakan Warga Negara Indonesia (WNI) yang lahir dan besar di Arab Saudi.

Kami sempat salat sunah di Masjid Quba sebelum menyambangi Museum Al-Sirah, yang masih berada di sekitar kompleks masjid. Melalui pengalaman imersif, saya diajak menapaki jejak Nabi Muhammad SAW memasuki Quba, disambut gembira kaum Ansar.

Sesi yang berlangsung lebih dari 10 menit ini terasa begitu singkat, karena saya sangat menikmatinya. Grafisnya dibuat atraktif, membuat saya seolah-olah berada di antara kaum Ansar yang menyambut kedatangan Rasulullah beribu tahun silam.

"Thala 'al-badru 'alayna. Min tsaniyatil-Wadaa'. Wajab al-syukru 'alaina, Maa daaa lillahi daa," syair sambutan untuk sang Penutup Para Nabi bergema di telinga. Berjalan cepat menghindari sinar matahari yang mulai menyengat, kami sampai di Bustan Al Mustadal.

Sumur Kuno yang Airnya Pernah Diminum Rasulullah

Kami lebih dulu melihat Ethiq Well, sumur yang airnya dikisahkan diminum Nabi Muhammad SAW saat tiba di Madinah. Alih-alih memenuhi sumur kuno, airnya kini diatur tertampung secara khusus. Pengunjung akan diberi gelas plastik untuk meminum air sumur bersejarah tersebut.

Airnya agak dingin, terasa segar di tenggorokan saat suhu di Madinah menanjak menjelang siang hari. Rombongan kemudian diajak melihat kebun kurma di kompleks tersebut. Di kebun inilah kaum Anshar menunggu dan menyambut kedatangan Rasulullah SAW di Madinah.

Sekarang, ada lebih dari 150 pohon dari berbagai jenis kurma di sini. "Kalau sedang musim panen, biasanya di bulan-bulan musim panas (Juni─September), pengunjung bisa mencicip kurma secara langsung," sebut Aisyah.

Sekeping Surga di Dunia

Duduk bernaung julangan pohon kurma nan teduh sambil ditemani angin yang sesekali bertiup membuat saya ingin berlama-lama di Bustan Al Mustadal. Namun, perjalanan kami harus berlanjut.

"Lain waktu, coba kunjungi Masjid Quba saat sore atau setelah matahari terbenam karena setelah salat, bisa ke kafe-kafe estetis yang berada di kompleks masjid," Aisyah menyarankan.

Rombongan selanjutnya mengunjungi Jabal Udud, yang secara harfiah merupakan "sekeping surga di dunia." Dikatakan demikian karena ini merupakan salah satu gunung yang kelak akan berada di surga, menurut hadis Nabi Muhammad SAW.

"Berbaring" di sebelah utara Madinah, gunung ini merupakan lokasi Perang Uhud, salah satu peristiwa paling penting dalam sejarah awal Islam. Di sini, 70 sahabat Nabi gugur sebagai syuhada, termasuk paman tercintanya, Hamza ibn Abdulmuttalib, yang dikenal sebagai Pemimpin Para Syuhada.

Madinah yang Tenang

Siang itu, tidak terlalu banyak peziarah di kaki gunung setinggi 1.077 meters tersebut. Rombongan sempat berdoa untuk para syuhada sebelum akhirnya kami pamit menyudahi city tour, dan sampai kembali di hotel Movenpick Anwar Al-Madinah selepas azan zuhur.

Mengingat sisa waktu di Madinah tinggal sekitar 15 jam, saya memandang keluar jendela kamar hotel, di mana kubah hijau Raudhah selalu setia menyambut, membayangkan bagaimana kota suci ini jadi penyembuh hati Rasulullah setelah menerima berbagai ancaman dari kaum Quraisy.

Dua malam di Madinah membuat saya memahami alasan banyak orang jatuh hati pada ketenangan kota ini, dengan panorama matahari terbit dan terbenam yang tidak pernah gagal menimbulkan decak kagum. Kini, merasakan dingin lantai Masjid Nabawi yang menggeletukkan gigi di waktu subuh jadi salah satu yang paling saya rindukan.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |