Kisah Sulis, Guru yang Menolak Pasrah pada Status Darurat Sampah

1 month ago 36

Liputan6.com, Jakarta - Perjuangan Ani Hayu Sulistyowati (54) di area pengelolaan sampah berawal dari ketidaknyamanan yang memicu tindakan luar biasa. Bukan berasal dari latar belakang ahli lingkungan, ia adalah seorang guru.

Awalnya, perempuan yang akrab disapa Sulis ini mengaku menolak ketika ditawari mengurus sampah di wilayah tempat tinggalnya. Ia sempat berpikir keras dan khawatir upaya yang dilakukan malah akan memperburuk situasi darurat sampah yang sudah ada.

Motivasi Sulis tidak datang dari ambisi personal maupun harapan penghargaan, melainkan masalah krusial di depan mata. Ia menceritakan bahwa terjunnya ia dan tim berawal dari kondisi darurat sampah yang luar biasa.

Ketakutan terbesarnya adalah tempat pembuangan sampah (TPS) itu akan ditutup Dinas Lingkungan Hidup, yang berarti masyarakat berpenghasilan rendah kehilangan lokasi untuk membuang sampah, ditambah tidak adanya pihak lain yang bersedia mengurus.

"Saya terjun bersama tim berawal dari masalah, bagaimana (penanganan) sampah itu benar-benar darurat," katanya saat di temui di acara peluncuran dan bedah buku "Seberkas Cahaya di Tengah Krisis Sampah Plastik" di Jakarta, Senin, 8 Desember 2025.

Ia dan tim tidak pernah memikirkan soal pamor, pujian, bahkan animo masyarakat. Keberhasilan mereka yang bahkan diakui sebagai pengelola sampah terbaik datang hanya karena mereka terus berbuat.

Mereka akhirnya dapat mengelola 70 persen sampah di wilayahnya, Tempat Pengelola Sampah Terpadu (TPST) Mutiara Bogor Raya (MBR), Kota Bogor, Jawa Barat, yang dikenal sebagai Taman Kreasi Olah Sampah Terintegrasi (Takesi).

Perjuangan Menghadapi Sampah Organik: Melawan Bau dan Fasilitas Rusak

Setelah berkomitmen mengelola sampah sejak 2010 lalu, tantangan terbesar yang dihadapi Sulis adalah menangani sampah organik. Ia menyembut, limbah organik, yang mencakup 50 persen dari total sampah, merupakan sumber bau, lalat, serta kebingungan penanganan.

Ia memahami bahwa jika sampah organik sudah tertangani, berarti 50 persen masalah sampah sudah selesai. "Cuma masalah ini kadang membuat orang malas, karena apa? Bau, teksturnya yang basah, dan segala macam. Jadi orang kayak bingung (mengelolanya)," tambahnya.

Awalnya, ia menghadapi kendala fasilitas yang tidak mendukung. Mesin pencacah rusak, membuat tim harus putar otak. Sulis bahkan sempat menggunakan golok untuk mencacah sampah organik secara manual.

Metode awal yang ia terapkan adalah penumpukan untuk dijadikan kompos. Namun, proses ini memakan waktu lama, sekitar satu setengah bulan, dan menghasilkan gas metana yang berbahaya bagi lingkungan.

Solusi Emas dari Maggot, Ketika Ketekunan Mengatasi Kegagalan Kolektif

Kondisi ini membuat Sulis terus mencari cara yang lebih aman, efektif, dan cepat. Ia mencoba bertanya pada Dinas Lingkungan Hidup, tapi tidak mendapat solusi praktis yang dapat diterapkan.

Solusi yang ia cari akhirnya datang melalui cara yang tidak terduga. Saat itu, tiba-tiba diadakan pelatihan budidaya Maggot (larva lalat Black Soldier Fly). "Ada solusi baru nih. Kayak kedapatan emas. Ada pelatihan magot yang bisa menangani sampah organik tanpa membutuhkan waktu yang lama," katanya.

Meski awalnya suaminya sempat menolak karena dianggap memalukan, Sulis bertekad untuk belajar. Ia menyebut bahwa pengelolaan sampah organik dapat diubah menjadi dua manfaat utama.

Pertama, maggot sebagai pakan alternatif yang kaya protein untuk ikan lele dan ayam. Kedua, sisa dari budidaya maggot, yang disebut bekas maggot alias kasgot, diolah menjadi pupuk untuk ketahanan pangan dan tumbuhan.

Inovasi Berkelanjutan, Dari Integrasi Pakan hingga Fermentasi 24 Jam

Setelah berhasil mengelola sampah organik dengan maggot, Sulis dihadapkan pada masalah baru: kelebihan hasil panen maggot yang sulit dijual. Pabrik tidak mampu menyerap jumlah maggot yang melimpah, menyebabkan 'banjir' maggot.

Sebagai respons, Sulis dan tim menerapkan konsep integrasi, yaitu membangun kolam ikan lele dan kandang ayam. Tujuannya adalah menciptakan sistem penyerapan mandiri untuk maggot yang berlimpah, sehingga timnya tidak perlu bingung mencari pasar.

Integrasi ini sempat terhambat ketika permintaan ikan lele turun drastis akibat pandemi COVID-19, memaksa tim kembali memutar otak. Inilah yang menjadi titik tolak inovasi terbarunya.

Mereka berhasil menemukan cara yang lebih ampuh lagi untuk mengatasi sampah organik. Solusi terbaru tersebut adalah pakan fermentasi organik yang proses pembuatannya hanya memakan waktu 24 jam.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |