Hore, Planetarium Jakarta Kembali Dibuka Setelah 13 Tahun Mati Suri

2 weeks ago 39

Liputan6.com, Jakarta - Warga Ibu Kota akhirnya menyudahi penantian panjang untuk kembali menikmati simulasi langit berbintang Planetarium Jakarta di kompleks Taman Ismail Marzuki (TIM), Jakarta Pusat. Pada Selasa, 23 Desember 2025, Gubernur Jakarta, Pramono Anung Wibowo, secara resmi menghidupkan kembali tujuan wisata tersebut.

Fasilitas edukasi astronomi legendaris yang digagas mantan Gubernur Jakarta Ali Sadikin ini sempat "mati suri" akibat berbagai kendala teknis dan renovasi berkepanjangan. Saat peresmian, Pramono menekankan pentingnya mengaktifkan kembali aset sejarah ini sebagai sarana edukasi dan rekreasi bagi masyarakat.

"Saya bahagia sekali setelah 13 tahun, dari tahun 2012, Alhamdulillah hari ini (Planetarium Jakarta) bisa kita hidupkan kembali,” kata dia di acara peresmian di Jakarta, Selasa, 23 Desember 2025.

Revitalisasi ini disebut tidak sekadar memperbaiki fasilitas yang ada, tapi juga menyuntikkan teknologi modern untuk memberi pengalaman yang lebih relevan bagi generasi masa kini. Pengaktifan kembali Planetarium Jakarta dianggap sebagai titik balik penting dalam pengelolaan kawasan TIM.

Planetarium Jakarta yang baru tampil lebih modern dibandingkan versi sebelumnya. Salah satu daya tarik utama yang diperkenalkan adalah penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dalam sistem pemandu visualnya.

Teknologi tersebut memungkinkan pengunjung berinteraksi secara lebih dinamis selama pertunjukan. Pramono menyebut bahwa digitalisasi telah masuk ke dalam aspek edukasi di Planetarium. Terkait kecanggihan itu, ia memberi apresiasi khusus terhadap hasil akhir renovasi destinasi wisata legendaris tersebut.

Wajah Baru Edukasi Astronomi

Pramono berkata, "Tadi saya dan teman-teman sudah melihat (AI sebagai pemandu visual). Menurut saya luar biasa, dan tadi ada AI yang menunjukkan diri saya dan wakil gubernur (Rano Karno). Suaranya mirip saya, walaupun wajah Wagub lebih chubby, lebih kelihatan muda, tapi inilah perkembangan."

Perubahan juga terasa pada konten yang disajikan. Kini, Planetarium tidak hanya menampilkan visual angkasa luar secara statis, tapi memberi pengalaman lebih luas dan interaktif. Pengunjung dapat melihat proses-proses alam semesta melalui fasilitas visual yang sudah ditingkatkan kualitasnya.

Sebagai bentuk apresiasi dan upaya menarik kunjungan, pemerintah menggratisan tiket masuk dengan syarat tertentu. "Untuk pelajar Jakarta yang ingin memanfaatkan Planetarium selama tiga bulan ke depan, kami gratiskan," katanya.

Kado Liburan: Gratis Tiket Masuk Selama Tiga Bulan

Pramono menegaskan, "Kebijakan ini ditujukan khusus bagi para pelajar, baik yang berdomisili di Jakarta maupun pelajar dari daerah lain yang sedang berlibur di Ibu Kota."

Langkah tersebut diambil karena pemerintah menyadari bahwa banyak generasi sekarang yang belum mengenal sejarah dan keindahan Planetarium Jakarta akibat penutupan yang sangat lama. Pemerintah berharap masa gratis ini dapat dimanfaatkan secara maksimal oleh sekolah-sekolah untuk kegiatan edukasi luar ruangan.

Meski demikian, untuk pendamping atau orangtua, tetap diberlakukan tarif normal guna mendukung operasional tempat. Pramono telah menginstruksikan jajaran terkait untuk segera mengatur mekanisme kuota harian agar tidak terjadi penumpukan pengunjung.

"Karena sebentar lagi kita akan menyambut hari libur Natal dan tahun baru, mudah-mudahan tempat ini sudah bisa menjadi daya tarik bagi para pelajar," imbuhnya.

Optimisme Kebangkitan Ekonomi Kreatif di Kawasan TIM

Hidupnya kembali Planetarium Jakarta diprediksi akan berdampak ekonomi luas bagi kawasan TIM. Dengan meningkatnya arus kunjungan pelajar dan keluarga, sektor pendukung, seperti UMKM dan unit usaha lain, di sekitar lokasi akan ikut bergerak.

Pemerintah memandang bahwa Planetarium adalah "magnet utama" yang mampu menghidupkan ekosistem seni dan budaya di Jakarta secara keseluruhan, apalagi dengan manajemen yang kini diklaim lebih terintegrasi.

Ke depan, pengelolaan kawasan akan diarahkan pada sistem single management untuk menghindari tumpang tindih antara pembuat kebijakan dan operator lapangan. Dengan tata kelola yang lebih transparan dan profesional, kawasan ini diharapkan jadi ruang ekspresi bagi para seniman, sekaligus pusat edukasi mandiri.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |