Liputan6.com, Jakarta - Streetwear di Indonesia kini bukan sekadar gaya, tapi juga bentuk ekspresi diri yang semakin luas digunakan, terutama oleh generasi muda di berbagai kota besar. Pilihan mode anak muda disebut terus berkembang dan semakin terpengaruh tren global yang dinamis dan cepat berubah.
Brand Manager Sroja Warna Indonesia, Farizky Putra, menyebut, segmen streetwear di Indonesia saat ini cukup besar. "Sekitar 39 sampai 40 persen segmen pasar berpakaian memang mengarah ke sana," katanya di Jakarta, Selasa, 5 Agustus 2025.
Angka ini mencerminkan cukup besarnya daya tarik streetwear bagi pasar lokal. Tidak hanya soal desain, tapi juga tentang bagaimana gaya ini bisa jadi cerminan identitas, selera, dan koneksi dengan komunitas yang berkembang pesat.
Tren streetwear di Indonesia berkembang pesat dalam beberapa tahun terakhir. Gaya yang dulu lebih identik dengan komunitas tertentu, seperti hip-hop, kini sudah jadi bagian dari tampilan sehari-hari anak muda.
Streetwear dan Perkembangannya di Indonesia
Pakaian seperti kaos oversized, jaket bomber, cargo pants, serta aksesori, termasuk tas selempang, jadi pilihan favorit yang mudah ditemukan di berbagai kota besar.
Banyak brand lokal mulai hadir memenuhi permintaan pasar ini, termasuk BLEE yang diperkenalkan di acara Sroja Warna Indonesia. BLEE menjanjikan nuansa baru yang tetap relevan dengan selera anak muda saat ini.
Farizky menambahkan, perkembangan streetwear sangat terasa karena referensinya kini jauh lebih luas. "Kalau dulu kita melihat streetwear itu dari gaya hip-hop, tapi sekarang sudah banyak pengaruh dari tren fesyen di Jepang, Eropa, maupun Amerika."
Hal ini membuat tampilan streetwear di Indonesia semakin bervariasi, tidak terpaku pada satu jenis gaya saja. Sejumlah brand lokal pun mencoba memadukan semua inspirasi itu dengan sentuhan khas Indonesia yang membuat hasil akhirnya terasa lebih unik dan personal.
Kiblat Gaya yang Beragam
Perluasan referensi gaya streetwear secara global diperkuat kemudahan akses ke media sosial, di mana fesyen bisa dilihat dan ditiru dengan cepat. "Brand luar juga sudah mulai banyak masuk ke Indonesia," sebut Farizky.
"Ini menunjukkan bahwa konsumen di sini semakin terbuka terhadap tren global. Mereka tidak hanya mengikuti, tapi juga mengadaptasi gaya tersebut sesuai selera masing-masing. Akibatnya, gaya anak muda jadi makin personal dan unik."
Merek BLEE sendiri mencerminkan pendekatan ini. Dengan tagline "Everyday Edge," mereka ingin menciptakan gaya yang edgy, namun tetap bisa dipakai sehari-hari. Desain yang ditampilkan juga fleksibel dan unisex, sehingga bisa dinikmati siapa saja tanpa batasan gender.
Gaya berpakaian seseorang sering dipengaruhi banyak hal, mulai dari idola, lingkungan tempat mereka tumbuh, hingga komunitas mereka. Dalam konteks streetwear, semua faktor itu sangat berperan.
Referensi Idola dan Lingkungan
Banyak anak muda yang meniru gaya berpakaian musisi atau selebgram favorit mereka. Selain itu, komunitas-komunitas streetwear yang aktif di media sosial juga membantu membentuk identitas gaya ini.
Koleksi-koleksi yang dikeluarkan, BLEE yaitu berupa kaus tangan panjang dan pendek, kemeja, jaket, sweater, celana panjang dan pendek, denim, serta beberapa aksesori, seperti tas. Harganya dibanderol mulai dari Rp199 ribu sampai Rp1,299 juta.
Farizky menyebut, anak muda masa kini cenderung ingin merasa terhubung dan tampil beda, dan streetwear jadi salah satu cara untuk mengekspresikan hal tersebut. Karena itu, BLEE tIdak hanya fokus pada produk, tapi juga ingin membangun hubungan yang kuat dengan komunitas fesyen di Indonesia. Dengan dukungan komunitas, inspirasi global, dan semangat lokal, streetwear Indonesia kini berada di fase yang menarik.