Gajah Domang Ulang Tahun ke-4 di Tesso Nilo, Dirayakan dengan Tanjak dan Songket Melayu

1 month ago 74

Liputan6.com, Jakarta - Salah satu ikon Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Riau, Gajah Domang, berulang tahun ke-4. Hari lahir anak gajah Sumatera jantan itu dirayakan dengan penuh suka cita.

Domang yang berulang tahun didandani dengan sentuhan budaya yang kental. Ia dibalut penutup kepala dan pakaian adat Melayu Riau, yakni tanjak dan songket Melayu.

"Dengan balutan tanjak Melayu dan songket Melayu, Domang bukan hanya terlihat gagah, tetapi juga membawa pesan bahwa konservasi bukan sekadar menjaga hewan, tetapi juga merawat budaya, hutan, dan masa depan bersama. Semoga Domang selalu sehat, bahagia, dan tumbuh kuat," tulis pihak Balai Taman Nasional Tesso Nilo dalam unggahan Instagram @btn_tessonilo dan Facebook @Btn Tesso Nilo, beberapa waktu lalu.

Gajah-gajah lainnya seperti Moni, Tesso, dan Indro juga ikut berpesta dengan makanan yang melimpah ruah, khususnya buah-buahan segar seperti semangka, nanas, dan pisang. Sementara, orang-orang yang merawat dan mencintainya, khususnya para mahout, merayakan dengan potong tumpeng dan memanjatkan doa baik untuk kesehatan si gajah yang lahir pada 2 Desember 2025 itu.

"Happy birthday Domang, harapannya semoga Domang makin pintar, lebih mandiri dan nurut," kata salahj satu mahout dalam video yang diunggah di Instagram @btn_tessonilo.

Makna Budaya dalam Peringatan Ulang Tahun Domang

Mengingat Gajah Sumatera adalah bagian integral dari ekosistem hutan Riau, yang juga merupakan rumah bagi kebudayaan Melayu. Dengan memasukkan unsur budaya dalam perayaan satwa liar, TNTN berusaha menumbuhkan kesadaran menjaga alam sama pentingnya dengan menjaga identitas budaya.

"Semoga keberadaannya terus menjadi pengingat bahwa gajah bukan sekedar mamalia, melainkan titipan alam yang harus dilindungi," harapnya.

Mengutip Media Center Pemerintah Provinsi Riau, Domang lahir dari induk bernama Ria dan seekor gajah jantan liar di Camp Elephants Dying Squad STPN Wilayah I Lubung Kembang Bunga, Balai Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN), Desa Lubuk Kembang Bungo, Kecamatan Ukui. Nama anak itu diberikan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (MenLHK) Siti Nurbaya pada 22 Desember 2021.

Asal-muasal nama Domang diambil berdasarkan usulan dari seniman-seniman yang ada di Pelalawan. "Sesuai usulan seniman, maka anak gajah jantan tersebut kita beri nama Domang," kata Siti Nurbaya.

Doa di Balik Nama Domang

Nama Domang berasal dari sastra lisan orang petalangan ditulis oleh almarhum Tenas Effendi dalam buku Bujang Tan Domang. Nyanyian Panjang Bujang Tan Domang tersebut adalah epik atau tombo suku, berkisah tentang asal-usul dan pengembaraan wira (pahlawan) suku Petalangan bernama Bujang Tan Domang yang bersarang dalam ingatan masyarakat Petalangan di Kabupaten Pelalawan.

Ada doa di balik penamaan anak gajah itu oleh seniman dan masyarakat Pelalawan, yakni harapan tumbuh menjadi pemimpin untuk menjaga hutan.

"Sesuai yang diharapkan masyarakat Riau, semoga Domang dapat menjadi pemimpin, menjaga kearifan lokal termasuk sebagai penjaga hutan dan masyarakat adat, yang mana gajah dianggap memang sebagai datuk penjaga hutan oleh masyarakat Pelalawan," ujar Siti Nurbaya saat itu.

Rumah Gajang Domang dkk Terancam Perambahan

Hidup Gajah Domang dan kawanannya di Tesso Nilo saat ini terancam oleh manusia yang terus merambah hutan demi memenuhi nafsu yang tak pernah puas. Luasan lahan hutan Tesso Nilo makin menyempit hingga masyarakat menyerukan Save Tesso Nilo untuk menyelamatkan hidup gajah.

Menteri Kehutanan (Menhut) Raja Juli Antoni menjanjikan restorasi terus berlanjut demi memastikan habitat gajah Sumatra tidak diganggu. "Kami terus bekerja untuk memastikan rumah (gajah) Domang dan kawan-kawan tidak diganggu, dan mereka bisa hidup di alam bebas," ujar Menhut melalui rilis pada Lifestyle Liputan6.com, Sabtu, 29 November 2025.

Sebelumnya, kata dia, Wamenhut Rohmat Marzuki telah memulai restorasi. Ia menyebut, restorasi akan fokus dilakukan di lahan seluas 31 ribu hektare, yang nantinya akan meluas jadi 80 ribu hektare. Raja Juli mengatakan, Presiden Prabowo Subianto telah memerintahkan Satgas Penggunaan Kawasan Hutan (PKH) untuk mengembalikan Tesso Nilo sebagai habitat gajah Sumatra.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |