Di Balik Layar Film Dokumenter Melania Trump Berbujet Rp670 Miliar

2 weeks ago 44

Liputan6.com, Jakarta - Sorotan publik kembali tertuju pada Ibu Negara Amerika Serikat Melania Trump setelah ia membagikan cuplikan perdana dari film dokumenternya yang berjudul Melania. Ini bukan sekadar video rumahan, Amazon dilaporkan menggelontorkan dana fantastis sebesar USD 40 juta (sekitar Rp670 miliar) untuk melisensikan proyek tersebut.

Yang tak kalah mengejutkan, kursi sutradara diduduki Brett Ratner, sosok yang sempat mundur dari Hollywood pada 2018 akibat skandal #MeToo, meski ia telah membantah segala tuduhan pelecehan seksual tersebut. Film itu menjanjikan akses eksklusif ke hari-hari menjelang pelantikan kedua suaminya, Donald Trump, sebagai Presiden Amerika Serikat.

Trailer dibuka dengan nuansa dramatis di Rotunda Capitol. Melania yang mengenakan topi lebar yang kini menjadi ciri khasnya, menatap kamera. 

"Kita mulai lagi," ucapnya diiringi musik yang membangun ketegangan. Penonton kemudian diajak melihat kilas balik cepat, suasana Gedung Putih, kemewahan Mar-a-Lago, hingga Trump Tower.

Ada momen saat Donald Trump berkata, "Warisan paling membanggakan saya adalah sebagai pembawa damai," yang langsung disahut Melania dengan tegas, "Pembawa damai dan pemersatu." Film ini dijadwalkan tayang di bioskop pada 30 Januari 2026.

Tak hanya menampilkan momen formal kenegaraan, trailer ini juga menyuguhkan interaksi yang terasa sangat pribadi, bahkan sedikit canggung, antara pasangan nomor satu tersebut. Dalam satu adegan penutup, Melania terlihat menelepon suaminya, "Hai, Tuan Presiden. Selamat."

Momen Canggung Melania dan Donald Trump

Donald Trump di ujung telepon terdengar bertanya, "Apakah kamu menontonnya?" Dengan jujur Melania menjawab, "Saya tidak menontonnya. Ya, saya akan melihatnya di berita."

Secara visual, gaya sinematik trailer ini memancing obrolan seru di dunia maya. Jurnalis Louis Pisano berkomentar di X, "Apakah hanya saya atau sinematografinya memberikan kesan Succession?"

Ada juga warganet lain yang menyamakan estetikanya dengan film Titanic yang dirilis pada 1997. Amazon tampaknya bertaruh besar pada pesona Melania, laporan menyebutkan kesepakatan ini juga mencakup seri dokumenter lanjutan sebanyak dua hingga tiga episode. 

Meski Melania biasanya dikenal tertutup dan menghindari sorotan politik, kali ini ia membuka pintu bagi publik untuk melihat sekilas kehidupan pribadinya, termasuk kemunculan Presiden Trump dan putra mereka, Barron. Hingga kini, belum jelas kapan film ini akan masuk ke layanan streaming.

Sambutan Hangat Lingkaran Dalam

Begitu trailer ini meluncur pada Rabu pagi, 17 Desember 2025, reaksi hangat langsung datang dari para pendukung setia dan lingkaran dalam politik Trump. Banyak penggemar yang terpesona, memuji keanggunan dan kecanggihan Melania dalam tayangan tersebut. 

Akun X White House Rapid Response tak ketinggalan memberi pujian dengan menulis, "Kita memiliki Ibu Negara yang luar biasa." Antusiasme serupa ditunjukkan Sekretaris Pers Gedung Putih, Karoline Leavitt, yang membagikan video itu sambil berseru, "Saya sangat bersemangat untuk ini!"

Dukungan juga mengalir deras dari sekutu politik lainnya. George Santos, mantan anggota kongres yang baru saja menerima pengampunan dari Presiden Trump, ikut meramaikan dengan komentar singkat namun padat, "Sangat bersemangat!." Lauren Boebert dari Partai Republik Colorado pun menimpali dengan optimisme tinggi, "Ini akan menjadi luar biasa!."

Kritik Pedas untuk Film Dokumenter Melania Trump

Namun, tidak semua orang menyambut perilisan ini dengan tangan terbuka. Kritik pedas bermunculan, terutama menyoroti nilai kesepakatan yang fantastis itu. 

Strategis politik Chris D. Jackson menyebutnya dengan tajam di X, "Penipuan berlanjut." Miles Taylor, mantan pejabat di Departemen Keamanan Dalam Negeri era Trump pertama, bahkan menyindir bahwa uang dari Amazon ini lebih tepat disebut sebagai biaya lobi. "Kita semua sadar apa ini, kan? Ini harus diajukan di bawah biaya lobi Amazon," tulisnya.

Kritik lain menyentuh sisi sensitivitas sosial di tengah kondisi ekonomi warga. Rhonda Elaine Foxx, mantan direktur kampanye Biden, menulis, "Orang-orang benar-benar tidak mampu membeli makanan. Dan Ibu Negara sedang membuat film." 

Ia menyebut ini sebagai masa yang tidak serius di mana "kompas moral kita hancur." Tommy Vietor dari Pod Save America bahkan menyebut dana USD 40 juta itu sebagai suap untuk konten yang sebenarnya bisa dibuat sendiri oleh kantor pers Gedung Putih. Di tengah perdebatan itu, seorang warganet dengan nada sinis bercanda, "Film pertama yang menjual nol tiket."

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |