Cegah Sampah Makanan, Artotel Group Bakal Jual Stok Berlebih Lewat Surplus Indonesia

21 hours ago 13

Liputan6.com, Jakarta - Sampah makanan masih jadi momok bagi industri restoran dan perhotelan. Dengan semakin tinggi tekanan untuk mampu mengelola sampah makanan secara mandiri, para pengusaha harus mencari cara kreatif agar hal itu tidak menambah biaya operasional yang signifikan, tapi justru jadi peluang mendapatkan cuan.

Hal itu yang dilakukan Artotel Group saat sepakat bermitra dengan Surplus Indonesia dalam aplikasi Surplus. Melalui kerja sama itu, jaringan hotel dan unit bisnis di bawah Artotel Group dapat memanfaatkan apliasi untuk mendistribusikan stok makanan berlebih yang masih layak konsumsi kepada masyarakat dengan harga yang lebih terjangkau.

Inisiatif ini tidak hanya membantu mengurangi limbah makanan, tetapi juga membuka akses bagi masyarakat untuk mendapatkan makanan berkualitas dengan lebih mudah.

"Kolaborasi antara Surplus Indonesia dan Artotel Group merupakan inisiatif ini tidak hanya mengurangi limbah makanan, tetapi juga memperkuat ekonomi sirkular di sektor hospitality. Kami mengapresiasi upaya pelaku industri yang menghadirkan solusi inovatif yang berdampak langsung bagi masyarakat dan lingkungan, sekaligus membuka peluang terciptanya lapangan kerja hijau," kata advisor dan pemegang saham Surplus Indonesia, Sandiaga Salahuddin Uno, dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, 20 Februari 2026.

Keyakinan yang sama juga dilontarkan Erastus Radjimin, pendiri dan CEO Artotel Group. Ia menyatakan bahwa kemitraan itu menjadi bagian dalam membangun ekosistem perhotelan yang lebih peduli terhadap pengelolaan limbah dan tanggung jawab sosial.

"Sebagai perusahaan hospitality yang mengedepankan kreativitas dan keberlanjutan, kami percaya bahwa setiap langkah kecil dapat memberikan dampak besar," katanya.

Sampah Makanan Bikin Indonesia Rugi hingga Rp 551 T

Terpisah, berdasarkan kajian Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas), Indonesia membuang 23 hingga 48 juta ton makanan setiap tahunnya pada periode 2000–2019. Kerugian ekonomi yang ditimbulkan sangat fantastis, berkisar antara Rp 213 triliun hingga Rp 551 triliun per tahun, atau setara dengan 4─5 persen Produk Domestik Bruto (PDB).

Ironisnya, angka ini terjadi di tengah masalah stunting yang masih menghantui negeri ini. Melansir CNN, 2 Desember 2025, Sara Burnett, direktur eksekutif ReFED, mengingatkan bahwa limbah pangan "setara dengan emisi gas rumah kaca sebesar 154 juta metrik ton karbon."

Di Indonesia, data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional (SIPSN) Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) secara konsisten menunjukkan bahwa sisa makanan adalah penyumbang terbesar sampah nasional, mencapai sekitar 41 persen dari total timbulan sampah. Burnett menekankan bahwa "biaya yang harus dibayar jadi semakin tinggi" seiring inflasi.

Karena itu, kita berutang pada dompet dan lingkungan kita sendiri untuk segera mengubah perilaku, dimulai dari dapur rumah tangga yang menyumbang porsi besar limbah ini. Langkah konkret untuk menekan angka sampah makanan bisa dimulai dengan perencanaan dapur yang cerdas.

Cara Menekan Sampah Makanan dari Rumah

Chef Michele Casadei Massari menyarankan penerapan sistem sederhana, seperti kotak peluang di dalam kulkas. Kotak ini berisi potongan sisa sayur atau bahan masakan yang sudah dilabeli, siap diolah jadi menu praktis, seperti sup atau capcay. Strategi ini sangat cocok bagi keluarga Indonesia untuk mencegah sisa bahan, seperti potongan wortel atau kol.

Massari, CEO Restoran Italia Lucciola, berbagi tips belanja yang bisa menekan potensi volume sampah makanan. "Beli lebih sedikit, tapi lebih sering. Simpan dengan benar, bagi porsi sebelumnya, dan berikan setiap item rencana kehidupan selanjutnya pada hari barang itu tiba."

Lindsay-Jean Hard, penulis kuliner, menambahkan bahwa sisa-sisa bahan tersebut bisa diselamatkan ke dalam strata, yang mirip dengan konsep telur dadar campur sayur. "Itu adalah resep cadangan yang bagus dan dapat menangani segala macam sisa-sisa (bahan makanan)," ujarnya.

Tambah Pengetahuan soal Bahan Makanan

Sering kali, ada bagian sayuran yang dibuang karena ketidaktahuan, padahal itu masih bernutrisi. Lindsay-Jean Hard berbagi pengalamannya, "Ketika saya pertama kali belajar memasak, jika resep menyuruh saya memotong dan membuang batang kale, saya melakukannya. Saya tidak tahu itu bisa dimakan."

Di Indonesia, hal ini relevan dengan kebiasaan membuang batang bayam, kangkung, atau bonggol brokoli. Hard menekankan, "Edukasi adalah bagian yang sangat besar, mempertanyakan asumsi kita, mendidik diri sendiri, dan kemudian membagikan pengetahuan itu."

Saran Hard untuk memulai gaya hidup minim sampah adalah dengan memilih satu atau dua bahan sisa untuk diolah kembali. Misalnya, roti tawar sisa bisa dibekukan untuk puding roti, dan sisa sayuran yang mulai layu bisa dijadikan acar atau bahan dasar kaldu. 

"Banyak koki rumahan sudah sangat bijaksana tentang pemanfaatan makanan, entah karena kebutuhan, tumbuh di sekitarnya, atau diajari," kata Hard.

Namun bagi yang belum terbiasa, perubahan pola pikir ini adalah langkah krusial. Mengurangi limbah sayuran di rumah akan berdampak langsung pada pengurangan volume sampah organik yang membebani TPA di Indonesia.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |