Bukan Jalan Pintas… Kampus Online Langkah Tepat Mengejar Mimpi di Tengah Hidup yang Tak Bisa Dijeda

14 hours ago 4

Liputan6.com, Jakarta - Sejak dulu, banyak orang tumbuh dengan gambaran kuliah yang sama. Pagi berangkat ke kampus, siang mengerjakan tugas di perpustakaan atau kantin, sore kerja kelompok, malam menuntaskan tugas dari dosen.

Semester demi semester dijalani dengan pola serupa, hingga akhirnya magang, skripsi, lalu wisuda. Ijazah di tangan. Selesai. Jalurnya lurus, urutannya jelas. Tanpa disadari, inilah versi kuliah yang selama ini dianggap paling ideal. Padahal, hidup tak selalu memberi ruang untuk berjalan selurus itu.

Ketika Hidup Memiliki Ritme yang Berbeda

Masalahnya, hidup tiap orang itu nggak pakai template yang sama. Ada yang dari pagi sudah kejar target kerja. Ada yang waktunya habis buat ngurus rumah dan keluarga. Ada juga yang harus tahan di jam kerja panjang, dengan penghasilan yang bahkan nggak bisa dinego.

Di kondisi kayak gitu, bayangan soal kuliah fulltime yang buat sebagian orang terasa biasa aja—buat yang lain bisa terasa berat banget. Bukan karena nggak mau. Tapi karena hidupnya memang lagi minta diprioritaskan di hal lain dulu.

Di fase ini, banyak yang mulai overthinking, ngerasa ketinggalan, ngerasa hidupnya nggak sesuai “standar”. Seolah-olah salah ambil jalan cuma karena nggak bisa jalan di jalur yang dianggap normal sama kebanyakan orang.

Padahal ketika ruang geraknya makin sempit tapi keinginan buat berkembang masih gede, orang cuma lagi cari cara yang lebih realistis. Mereka butuh sistem pendidikan yang bisa jalan bareng sama ritme hidupnya bukan yang nabrak jadwal yang sudah padat. Bukan mau cari jalan pintas, tapi cari jalan yang masuk akal.

Makanya sekarang makin banyak yang melirik kuliah online.

Salah? Ya nggak lah.

Yang masih sering keliru itu anggapannya. Kuliah online kerap dicap cuma ngejar ijazah. Padahal buat sebagian orang, sistem yang fleksibel itu justru jadi penyelamat. Bukan karena mau yang gampang, tapi karena itu satu-satunya cara supaya mimpi tetap hidup tanpa harus mengorbankan tanggung jawab yang sudah lebih dulu ada.

Kuliah Online: Diremehkan, Padahal Nggak Sesederhana Itu

Masih banyak yang melihat kuliah online dengan kacamata yang terlalu simpel. Seolah-olah prosesnya cuma daftar, bayar, lalu tinggal duduk manis nunggu ijazah. Dianggap lebih ringan dari kuliah konvensional tanpa tekanan, tanpa tantangan, tanpa keseriusan dan.

Dari situ lahir stigma. Yang kuliah online dibilang nggak serius. Katanya cuma cari jalan pintas. Cuma ngejar gelar tanpa mau benar-benar belajar dan berusaha.

Padahal realitanya nggak sesederhana itu.

Jeje, salah satu mahasiswa Universitas Terbuka (UT), pernah ada di posisi itu denger komentar miring sebelum akhirnya ngerasain sendiri gimana sistemnya berjalan. UT memang sudah lama menerapkan Pendidikan Jarak Jauh. Tapi karena istilah “kuliah online” lebih populer, prasangka-prasangka itu menjadi sudut pandang yang melekat.

Faktanya, kuliah di UT nggak bisa dijalani setengah-setengah. Mahasiswa dapat Buku Materi Pokok atau modul, baik cetak maupun digital, yang disusun sistematis. Ada tujuan pembelajaran, penjelasan materi, contoh kasus, latihan, sampai tes formatif. Semuanya dirancang supaya mahasiswa bisa belajar mandiri dengan arah yang jelas dan target yang terukur.

Dan di sini poin pentingnya: belajar mandiri bukan berarti kamu sendirian.

Kalau materi terasa berat, ada tutorial online bareng tutor lewat forum diskusi yang aktif dan terarah. Ada juga sesi sinkronus seperti webinar atau tutorial tatap muka terjadwal yang memungkinkan interaksi langsung. Bentuknya mungkin beda dari kelas konvensional, tapi interaksi dan pendampingan tetap ada.

Soal ujian? Tetap serius. Pemahaman mahasiswa diuji lewat berbagai skema UAS ada yang online, tatap muka, sampai take home exam sesuai karakter mata kuliah. Nggak ada cerita lulus tanpa benar-benar melalui proses.

Dengan lebih dari 768 ribu mahasiswa aktif, banyak di antaranya sudah bekerja di berbagai bidang seperti karyawan swasta, karyawan BUMN, public figure, pengusaha, aparatur negara, dan masih banyak bidang lainnya. Mereka bisa tetap kuliah bukan karena sistemnya gampang, tapi karena mereka terbiasa disiplin dan bertanggung jawab atas waktunya sendiri.

Metodenya memang beda dari kampus konvensional. Kualitas bukan soal seberapa sering duduk di ruang kuliah. Tapi kualitas dibentuk oleh proses yang dijalani dengan kesungguhan. Dan di UT, proses itu benar nggak main-main.

Ketika Hidup Sibuk, Tapi Mimpi Nggak Ikut Libur

Orang-orang yang milih kuliah online itu biasanya bukan yang lagi santai-santai banget hidupnya. Justru sebaliknya. Mereka tahu persis hidupnya lagi di fase apa dan apa yang lagi mereka butuhin. Bukan karena jalannya lebih gampang, tapi karena ini yang paling masuk akal buat kondisi mereka saat ini.

Dari cerita Jeje selama kuliah di UT, hampir nggak ada yang benar-benar bisa santai. Paginya kerja. Siangnya ngurus rumah. Ada juga yang sibuk bangun usaha. Kuliah? Biasanya baru kebagian waktu setelah semua urusan selesai kadang malam hari, kadang di sela-sela waktu yang sempit banget di tengah kepadatan aktivitas.

Tapi capek nggak bikin mereka mundur. Habis seharian aktivitas, tetap buka modul. Tetap ngerjain tugas. Tetap siapin diri buat ujian. Bukan karena terpaksa, tapi karena mereka tahu pendidikan itu investasi, bukan anggapan formalitas saja.

Buat mereka, gelar bukan cuma simbol keren di belakang nama. Tapi itu salah satu cara buat naik level dalam hidup. Dan kabar baiknya, selalu ada ruang buat orang-orang yang mau berjuang dengan caranya sendiri. Di UT, masa depan tak ditentukan oleh titik awal, tapi seberapa besar kemauan untuk melangkah.

Kalau Masih Ragu, Mungkin Ini Saatnya Mulai

Kalau dipikir-pikir, yang sering nggak kelihatan dari kuliah online itu bukan sistemnya. Tapi orang-orang yang ada di dalamnya. Orang-orang yang tetap berani melangkah dan siap naik level, Di tengah ritme hidup yang nyaris tak menyisakan jeda.

Jeje ngerasain sendiri gimana UT nggak pernah sibuk nanya kenapa dulu nggak kuliah reguler. Nggak ada interogasi. Nggak ada penghakiman. Yang ada cuma satu fokus: kalau kamu mau belajar serius, kami siap kasih ruang.

Jeje merasakan sendiri bagaimana UT tidak pernah mempertanyakan latar belakangnya. Tidak ada pertanyaan mengapa ia tak memilih kuliah reguler. Nggak ada interogasi, gak ada penghakiman. Yang ada justru satu sikap yang jelas, siapa pun yang ingin belajar dengan sungguh-sungguh akan diberi ruang.

Dan ternyata, ruang itu penting banget.

Buat karyawan yang waktunya habis di kantor. Buat orang tua yang harus bagi fokus antara rumah dan masa depan. Buat mereka yang sempat ngerasa “kayaknya udah telat deh buat kuliah.” UT jadi tempat yang bilang: belum kok. Selama kamu masih mau jalan, pintunya tetap kebuka.

Memang jalannya beda. Nggak ada cerita nongkrong di kampus tiap pagi. Tapi ada cerita baca modul di sela capek. Ngerjain tugas tengah malam. Ikut ujian sambil nahan kantuk. Dan itu bukan hal kecil. Itu bukti kalau kamu benar-benar serius.

Jadi kalau hari ini kamu lagi kuliah online dan masih denger komentar miring, santai aja. Nggak semua suara perlu didengerin. Fokus aja sama alasan kenapa kamu memulai.

Karena pada akhirnya, yang sampai bukan yang paling cepat, melainkan yang tak berhenti melangkah.

Dan kalau kamu masih ragu buat mulai? Mungkin ini waktunya berhenti nunggu “waktu yang pas”. Karena sering kali yang kurang bukan waktunya, melainkan keberanian untuk memulai.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |