2 Ratu Kecantikan Kamboja Diserang Warganet Thailand Gara-gara Busana Tradisional

1 month ago 46

Liputan6.com, Jakarta - Seorang ratu kecantikan asal Kamboja terlibat adu klaim dengan warganet Thailand gara-gara busana tradisional yang dikenakannya, Sbay Thom Khmer, mirip dengan pakaian tradisional Thailand. Setelah diserbu dengan tudingan mencatut budaya Thailand, Phorn Sryepii, Miss Cosmos Kamboja 2025, membuat pembelaan.

Insiden bermula saat warganet Thailand mempertanyakan asal-usul pakaian bergaya kerajaan yang dikenakannya. Menjawab keraguan, ia mengunggah sebuah foto yang menampilkan perempuan Kamboja mengenakan busana yang dimaksud di masa lalu. 

Mengutip The Thaiger, Senin (8/12/2025), Sreypii menjelaskan bahwa inspirasi busana tradisional yang dikenakannya adalah Ibu Suri Norodom Monineath Sihanouk, bangsawan Kerajaan Kamboja yang baru saja memberi restu pada cucunya, Putri Pongsoriya Norodom, untuk menikah, beberapa waktu lalu.

Ibu Suri, kata dia, adalah tokoh kunci dalam pelestarian dan visibilitas gaya busana tersebut. Ia menghidupkan kembali tampilan tradisional kerajaan di era 1960an untuk acara-acara keneragaan besar, seperti Upacara Membajak Kerajaan. Busana itu juga dikenakannya dalam tayangan dokumenter bersama suaminya, mendiang Raja Norodom Sihanouk.

Sreypii juga menjelaskan secara rinci keseluruhan ansambelnya. Menurut penuturannya, pakaian tersebut menampilkan rok depan berlipit yang dikenal sebagai somloy. Pakaian ini juga mencakup sabai bagian dalam berlipit yang dikenakan di bahu. Sabai bagian luar yang dihiasi sulaman benang emas yang rumit melengkapi tampilannya.

Berakar dari Era Pra-angkorian

Menurut Sreypii, sejarah pakaian tradisional itu dapat ditelusuri jejaknya ke periode pra-Angkorian dan Angkorian Kamboja. Hal ini menggambarkannya sebagai bagian dari rangkaian panjang busana kerajaan, alih-alih sebuah penemuan kontemporer.

Meskipun gaya ini secara historis eksklusif untuk istana kerajaan Khmer, Sreypii mencatat perkembangannya secara bertahap di luar batas istana. Ia mengatakan bahwa sebuah dekrit kerajaan pada era Oudong kemudian memberikan hak kepada rakyat jelata untuk meniru pakaian kerajaan dalam pernikahan. Hal ini menandai pergeseran dalam bagaimana tradisi tersebut dapat diadopsi secara publik.

Ia menambahkan bahwa kostum tersebut telah berevolusi menjadi pakaian nasional Khmer modern. Saat ini, katanya, gaya ini banyak digunakan untuk pernikahan, upacara keagamaan, dan acara internasional.

Dalam pernyataannya seputar keberlangsungan budaya, Sreypii menekankan bahwa tujuannya adalah untuk menjunjung tinggi hak masyarakat Khmer untuk mengenakan warisan mereka. Ia terinspirasi dari upaya Ibu Suri untuk melestarikan dan mempromosikan tradisi-tradisi ini.

Miss Charm Kamboja Tersandung Tudingan Mirip

Sebelumnya, insiden serupa menimpa Miss Charm Kamboja 2025 Det Sreyneat yang dituding menggunakan slogan pariwisata ikonis Thailand dan pakaian bergaya tradisional. Video yang baru-baru ini dirilis di laman Facebook Miss Charm, berjudul "Miss Charm Kamboja 2025 | Video Perkenalan", menampilkan kontestan Miss Charm Kamboja2025 itu menceritakan keajaiban budaya, kuil-kuil bersejarah, dan keindahan alam kerajaan tersebut.

Namun, yang menarik perhatian banyak penonton Thailand adalah frasa "Tanah Senyum", slogan yang telah lama dikaitkan dengan Thailand, dan pakaian kontestan tersebut, yang menurut beberapa orang sangat mirip dengan pakaian tradisional Thailand. Dalam video tersebut, Det menggambarkan Kamboja sebagai "tanah yang penuh keajaiban, kehangatan, dan keindahan abadi." Ia menyoroti situs-situs UNESCO seperti Angkor Wat dan Kuil Preah Vihear, Ta Prohm, dan tempat-tempat wisata populer lainnya.

Saling Klaim Thailand-Kamboja Memanas di Dunia Maya

Meskipun video tersebut bertujuan untuk menampilkan pesona Kamboja di panggung global, banyak warganet Thailand yang mengungkapkan ketidaksetujuan mereka di Facebook. Beberapa menuduh kampanye tersebut sebagai 'apropiasi budaya', sementara yang lain mengkritik penggunaan "tanah senyum" karena dianggap menjiplak slogan Thailand. 

Banyak warganet menyatakan bahwa slogan tersebut milik Thailand dan Kamboja harus memiliki identitas mereka sendiri. Yang lain berpendapat bahwa kemiripan dalam hal berpakaian bukanlah suatu kebetulan. Hingga saat ini, belum ada tanggapan resmi dari penyelenggara Miss Charm Cambodia terkait komentar-komentar yang sangat negatif tersebut.

Ketegangan terkait identitas budaya antara Thailand dan Kamboja terus meningkat. Dalam beberapa tahun terakhir, pengguna media sosial dari kedua negara kerap berselisih mengenai kemiripan dalam pakaian tradisional, kuliner, dan pertunjukan budaya, seringkali saling menuduh melakukan apropriasi. Perdebatan daring ini sering muncul kembali selama acara internasional atau kampanye pariwisata.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |