Tren Operasi Pemotongan Tulang Rusuk demi Tubuh Langsing ala Ozempic yang Berbahaya

5 days ago 21

Liputan6.com, Jakarta - Tren mengejutkan memperlihatkan para selebritas memamerkan apa yang disebut "tubuh Ozempic" berdampak berbahaya pada perempuan, seperti Emily James. Setelah menjalani operasi untuk mengecilkan lingkar pinggang, influencer gaya hidup tersebut mengaku menyesali keputusannya memilih "prosedur yang tidak begitu cepat" tersebut.

"Saya tidak merekomendasikan operasi pengangkatan tulang rusuk pada siapa pun," kata James dalam sebuah wawancara dengan NY Post, dikutip Jumat (2/1/2026), pada peringatan satu tahun operasi pengangkatan tulang rusuknya—yang menurutnya membahayakan beberapa organ vitalnya.

"Tidak ada lagi tulang rusuk yang melindungi hati dan ginjal saya, yang bisa jadi masalah jika saya mengalami kecelakaan serius atau benturan keras," kata wanita asal Missouri, Amerika Serikat (AS), itu. "Proses pemulihan memakan waktu sekitar tujuh bulan. Itu sangat berat dan sangat menyakitkan. Batuk terasa seperti seseorang sedang membunuh saya."

Prosedur ini, yang dikenal sebagai reseksi tulang rusuk atau "operasi pinggang semut," telah lama menarik wanita yang sudah langsing ke meja operasi. Untuk menciptakan tampilan lebih ramping, dokter biasanya memotong tulang rusuk ke-11 dan ke-12, yang sering disebut sebagai "tulang rusuk mengambang" karena tidak terhubung ke bagian depan tulang rusuk.

Operasi berisiko tinggi ini telah ada sejak tahun 1970-an, namun tidak cukup menarik banyak orang. Tapi sekarang, alternatif yang lebih mudah diakses, yang dikenal sebagai pembentukan ulang tulang rusuk atau RibXcar, menghidupkan kembali ide tersebut.

Operasi Tulang Rusuk

Pembentukan ulang tulang rusuk pertama kali muncul di Amerika Serikat tahun lalu, setelah jadi populer di Amerika Selatan. Prosedur ini menawarkan manfaat pengecilan tubuh hanya dengan "beberapa pengangkatan tulang."

Sebuah laporan dari American Society of Plastic Surgeons pada Mei 2025 menyebut, pembentukan ulang tulang rusuk sebagai "metode berisiko rendah dan sangat sukses." "(Prosedur ini) ideal untuk pasien yang ingin lebih mempertegas bentuk pinggang mereka," tulis mereka.

"Juga, mencari sesuatu yang benar-benar menakjubkan untuk membantu menciptakan sosok yang ramping dan berkontur dengan sedikit waktu pemulihan atau bekas luka." Wanita seperti Shiqi Ma dari New York pun mendaftar.

Ingin memamerkan perut yang kencang sempurna di pernikahannya di Bali pada Juli 2026, ia menghubungi ahli bedah plastik Upper East Side, Thomas Sterry, yang melakukan prosedur RibXcar awal tahun 2025, dengan biaya 10 ribu dolar (sekitar Rp 167 juta).

Mau Lebih Percaya Diri

"Saya melakukan ini agar merasa percaya diri di hari besar saya," kata Ma, 27 tahun, seorang akuntan — yang meminta Sterry mengecilkan pinggangnya dari 71 cm menjadi 63 inci. "Lingkar pinggang baru saya membuat saya merasa lebih seksi. Saya tidak sabar melihat foto pernikahan saya dan tidak perlu mengeditnya."

Ini adalah prosedur kosmetik pertama Ma, di mana ia—seperti kebanyakan pasien operasi pembentukan ulang tulang rusuk—dibius total. Ia mengatakan bahwa prosedur mahal itu hanya menimbulkan sedikit rasa sakit, sedikit pembengkakan, dan yang terpenting, hasil akhir yang mirip dengan tubuh keluarga Kardashian.

Kini terbebas dari bentuk tubuhnya yang "lurus dan rata," Ma menantikan tahun baru, awal era pernikahannya, dengan tambahan "kepercayaan diri," katanya. "Saya tidak ingin memiliki tubuh yang sempurna, hanya penampilan yang lebih feminin," jelas Ma.

Citra Diri Meningkat, tapi ...

Menurut para ahli, seperti psikoterapis NYC Lesley Koeppel, hanya waktu yang akan menjawab berapa biaya yang harus ditanggungnya dalam jangka panjang untuk kesehatan dan citra tubuh tersebut. Ia mengatakan pada The Post, sebelum menjalani prosedur apapun, calon pasien perlu memastikan bahwa mereka melakukannya karena alasan yang tepat.

"Operasi kosmetik drastis semacam ini dapat memberi peningkatan sementara pada citra diri, tapi juga membawa risiko memperkuat keyakinan bahwa nilai diri seseorang bergantung pada penampilan dan memenuhi tren di masyarakat," ia memperingatkan.

"Ketika operasi menjadi cara utama untuk mengatasi rasa tidak aman atau ketidaknyamanan dengan tubuh seseorang, hasil emosional jangka panjangnya sering kali rapuh. Citra diri yang berkelanjutan berasal dari kerja internal, seperti dengan terapis, bukan terus-menerus mengubah tubuh sebagai respons terhadap ekspektasi budaya."

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |