Perbedaan Ptosis dan Blefaritis pada Mata, Simak Penyebab serta Penanganannya

1 day ago 7

Liputan6.com, Jakarta - Masalah pada kelopak mata sering menimbulkan kebingungan bagi banyak orang, terutama saat gejala tampak serupa secara kasat mata. Pemahaman awal mengenai perbedaan ptosis dan blefaritis menjadi langkah penting, supaya keluhan mata tidak disalahartikan. Kedua kondisi ini dapat muncul pada area sama, tetapi latar belakang medis serta dampaknya terhadap fungsi mata memiliki karakter berbeda.

Dalam dunia kesehatan mata, keluhan kelopak turun atau iritasi tepi mata sering dianggap sejenis oleh masyarakat awam. Padahal, penjelasan medis menunjukkan perbedaan ptosis dan blefaritis cukup jelas, apabila ditinjau dari sumber gangguan serta tanda klinis awal. Pengetahuan ini membantu menentukan langkah perawatan paling sesuai sejak dini.

Banyak kasus gangguan mata ringan hingga berat berawal dari ketidaktahuan mengenali ciri khas tiap kondisi. Membahas perbedaan ptosis dan blefaritis dapat membuka wawasan mengenai cara kerja otot kelopak mata serta peran jaringan kulit di sekitarnya. Informasi ini berguna sebagai dasar pemahaman sebelum melakukan pemeriksaan lanjutan.

Berikut ulasan lengkap yang Liputan6.com rangkum dari berbagai sumber, Kamis (8/1/2026).

Mengenal Apa Itu Ptosis dan Penyebabnya

Ptosis atau blepharoptosis merupakan istilah medis yang digunakan untuk menjelaskan suatu kondisi, ketika kelopak mata bagian atas mengalami penurunan dari posisi normalnya. Tingkat penurunan ini dapat bervariasi, mulai dari sangat ringan hingga cukup berat sampai menutupi sebagian atau seluruh area pupil mata. Apabila kelopak mata turun secara signifikan, kondisi tersebut berpotensi membatasi bahkan menghalangi lapang pandang, sehingga penglihatan normal menjadi terganggu dan aktivitas sehari-hari dapat terhambat.

Secara umum, ptosis dapat dibedakan berdasarkan waktu terjadinya, yaitu ptosis bawaan (congenital) dan ptosis yang muncul kemudian hari (acquired). Ptosis congenital sudah tampak sejak bayi dilahirkan dan umumnya berkaitan erat dengan gangguan perkembangan otot levator palpebra superior, yakni otot utama yang berfungsi mengangkat kelopak mata atas. Ketidaksempurnaan fungsi otot ini menyebabkan kelopak mata tidak dapat terangkat secara optimal sejak awal kehidupan.

Sementara itu, ptosis acquired dapat berkembang pada usia anak-anak hingga dewasa dan memiliki penyebab yang jauh lebih beragam. Kondisi ini dapat dipicu oleh proses penuaan alami, cedera pada area mata, komplikasi pascaoperasi mata, maupun gangguan pada sistem saraf dan otot. Dalam beberapa kasus tertentu, ptosis juga dapat menjadi tanda awal dari penyakit neurologis yang lebih serius, sehingga perlu mendapatkan perhatian medis yang tepat.

Ptosis mata bukan hanya berdampak pada fungsi penglihatan, tetapi juga dapat memengaruhi aspek estetika wajah. Kelopak mata yang tampak turun sering kali memberikan kesan mata mengantuk atau wajah terlihat lelah, yang pada sebagian orang dapat menurunkan rasa percaya diri. Walaupun tidak semua kasus ptosis memerlukan penanganan khusus, ptosis dengan derajat berat sebaiknya ditangani secara medis. Penanganan yang tepat bertujuan untuk memperbaiki fungsi penglihatan, mencegah komplikasi lanjutan, serta meningkatkan kualitas hidup penderitanya secara menyeluruh.

Mengenal Blefaritis, Peradangan Kelopak Mata yang Umum

Blefaritis merupakan kondisi peradangan kronis yang terjadi pada kelopak mata, baik di bagian luar maupun bagian dalam. Peradangan ini dapat menyebabkan kelopak mata tampak kemerahan, bengkak, terasa nyeri, serta menimbulkan rasa tidak nyaman pada mata. Walaupun gejalanya sering mengganggu aktivitas sehari-hari, blefaritis umumnya tidak termasuk penyakit berbahaya dan juga tidak bersifat menular dari satu orang ke orang lain.

Penyebab blefaritis cukup beragam, tetapi kondisi ini paling sering berkaitan dengan adanya gangguan pada kelenjar minyak di sekitar akar bulu mata. Kelenjar tersebut berfungsi menghasilkan minyak untuk menjaga kelembapan mata. Apabila terjadi penyumbatan atau gangguan fungsi, area kelopak mata menjadi mudah meradang. Meskipun tidak mengancam penglihatan secara langsung, blefaritis dapat menimbulkan keluhan seperti mata terasa perih, panas, gatal, hingga tampak bengkak. Oleh sebab itu, pemeriksaan medis tetap diperlukan agar penanganan dapat disesuaikan berdasarkan penyebab yang mendasarinya.

Berdasarkan lokasi peradangannya, blefaritis dibagi menjadi dua jenis utama, yaitu blefaritis anterior dan blefaritis posterior.

1.Blefaritis Anterior

Blefaritis anterior terjadi pada bagian luar kelopak mata, tepat di area tempat tumbuhnya bulu mata. Kondisi ini sering dipicu oleh infeksi bakteri, terutama bakteri Staphylococcus. Selain itu, reaksi alergi terhadap produk tertentu seperti riasan mata, larutan lensa kontak, atau obat tetes mata juga dapat memicu peradangan. Faktor lain yang berperan antara lain ketombe dari kulit kepala atau alis yang menempel di kelopak mata, serta infeksi parasit seperti Demodex yang hidup di folikel bulu mata.

2. Blefaritis Posterior 

Blefaritis posterior terjadi pada bagian dalam kelopak mata yang bersentuhan langsung dengan bola mata. Jenis blefaritis ini umumnya berkaitan dengan gangguan pada kelenjar meibom, yaitu kelenjar minyak di dalam kelopak mata yang berperan penting dalam menjaga kualitas lapisan air mata. Penyumbatan atau kelainan fungsi kelenjar ini dapat memicu peradangan berkepanjangan. Selain itu, blefaritis posterior juga sering dikaitkan dengan kondisi kulit tertentu seperti rosacea dan dermatitis seboroik. Penanganan yang tepat sesuai jenis dan penyebab blefaritis sangat penting untuk mengurangi gejala serta mencegah kekambuhan.

Perbedaan Ptosis dan Blefaritis Secara Umum

Ptosis dan blefaritis merupakan dua kondisi mata yang sama-sama menyerang area kelopak, tetapi memiliki karakteristik yang sangat berbeda. Perbedaan paling mendasar terletak pada mekanisme terjadinya gangguan serta dampaknya terhadap fungsi penglihatan.

Ptosis adalah kondisi saat kelopak mata atas turun dari posisi normal akibat gangguan otot pengangkat kelopak mata atau sistem saraf. Kelopak mata dapat menutupi sebagian hingga seluruh pupil, sehingga berpotensi menghambat penglihatan. Kondisi ini bisa muncul sejak lahir atau berkembang pada usia dewasa dan sering dikaitkan pada faktor penuaan, cedera, atau penyakit saraf tertentu.

Sementara itu, blefaritis merupakan peradangan pada tepi kelopak mata, terutama di area tumbuhnya bulu mata. Kondisi ini biasanya disebabkan oleh infeksi bakteri, gangguan kelenjar minyak, alergi, atau penyakit kulit. Blefaritis menimbulkan rasa tidak nyaman seperti gatal, perih, kemerahan, mata berair, serta munculnya kerak menyerupai ketombe pada bulu mata.

Secara umum, ptosis berfokus pada posisi dan fungsi kelopak mata, sedangkan blefaritis berkaitan pada peradangan kulit kelopak mata. Ptosis berisiko mengganggu penglihatan bila tidak ditangani, sedangkan blefaritis lebih sering menyebabkan keluhan kronis tanpa penurunan penglihatan yang signifikan. Penanganan keduanya pun berbeda, sehingga pemeriksaan dokter mata sangat dianjurkan untuk memastikan diagnosis yang tepat.

Penanganan Ptosis

Penanganan ptosis bergantung pada penyebab, tingkat keparahan, serta dampaknya terhadap fungsi penglihatan. Tidak semua kasus memerlukan tindakan langsung, terutama apabila penurunan kelopak mata masih ringan dan tidak mengganggu aktivitas sehari-hari.

Pada ptosis akibat penyakit tertentu, terapi difokuskan pada pengobatan penyebab utamanya. Contohnya, ptosis yang muncul akibat gangguan saraf atau penyakit autoimun seperti myasthenia gravis akan ditangani oleh dokter spesialis terkait, misalnya dokter saraf, melalui pemberian obat-obatan untuk mengendalikan penyakit dasar tersebut. Apabila kondisi penyebab dapat terkontrol, posisi kelopak mata dapat membaik secara bertahap.

Jika ptosis sudah menimbulkan gangguan penglihatan, sakit kepala, atau masalah estetika yang signifikan, tindakan pembedahan sering menjadi pilihan utama. Operasi ptosis bertujuan memperbaiki fungsi otot pengangkat kelopak mata agar posisi kelopak kembali normal. Beberapa teknik operasi yang umum dilakukan meliputi levator advancement, frontalis sling, serta prosedur pemendekan otot kelopak mata sesuai kondisi pasien.

Bagi penderita yang belum siap menjalani operasi atau memiliki kondisi medis tertentu, alternatif nonbedah dapat dipertimbangkan. Salah satunya penggunaan kacamata khusus berpenahan kelopak mata untuk membantu menjaga posisi kelopak agar tidak terlalu turun, meskipun solusi ini bersifat sementara.

Penanganan Blefaritis

Blefaritis umumnya bersifat kronis dan mudah kambuh, sehingga penanganannya lebih menekankan pada pengendalian gejala dan perawatan jangka panjang. Langkah utama dalam mengatasi blefaritis adalah menjaga kebersihan kelopak mata secara rutin.

Perawatan dasar meliputi kompres hangat pada kelopak mata untuk membantu melunakkan minyak yang menyumbat kelenjar, diikuti pembersihan kelopak mata secara lembut. Pembersihan dapat dilakukan menggunakan kapas atau kain bersih yang dibasahi air hangat, atau larutan khusus pembersih kelopak mata. Rutinitas ini sangat penting untuk mengurangi peradangan dan mencegah kekambuhan.

Apabila blefaritis disebabkan oleh infeksi bakteri, dokter dapat meresepkan salep atau tetes mata antibiotik. Pada kondisi tertentu, obat antiinflamasi atau kortikosteroid dosis ringan dapat digunakan dalam waktu terbatas untuk meredakan peradangan berat. Jika blefaritis berkaitan dengan penyakit kulit seperti rosacea atau dermatitis seboroik, maka pengobatan kondisi kulit tersebut juga menjadi bagian penting dari penanganan.

Selain terapi medis, penderita blefaritis disarankan menghindari penggunaan riasan mata sementara waktu, menjaga kebersihan wajah dan rambut, serta mengganti produk kosmetik mata secara berkala. Kebiasaan ini membantu mengurangi iritasi dan mencegah penumpukan kotoran di area kelopak mata.

FAQ Seputar Topik

Apa itu ptosis?

Ptosis, atau blepharoptosis, adalah kondisi medis di mana kelopak mata atas turun dari posisi normalnya, dapat memengaruhi satu atau kedua mata dan menghalangi penglihatan.

Apa itu blefaritis?

Blefaritis adalah kondisi peradangan pada kelopak mata yang menyebabkan tepi kelopak mata menjadi merah, bengkak, gatal, dan bersisik atau berkerak di sepanjang bulu mata.

Apa perbedaan utama antara ptosis dan blefaritis?

Perbedaan utama adalah ptosis merupakan masalah struktural atau fungsional pada posisi kelopak mata atas, sedangkan blefaritis adalah kondisi peradangan pada kelopak mata itu sendiri.

Bagaimana cara mengobati ptosis?

Pengobatan ptosis umumnya melibatkan bedah untuk mengencangkan otot levator, atau pada kasus tertentu, penggunaan obat tetes mata resep khusus yang mengandung oxymetazoline.

Bagaimana cara mengatasi blefaritis?

Penanganan blefaritis berfokus pada kebersihan kelopak mata harian dengan kompres hangat dan pembersihan lembut, serta mungkin memerlukan antibiotik atau obat anti-inflamasi jika ada infeksi atau peradangan parah.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |