Menu Sahur dan Buka Puasa untuk Pasien Kanker, Simak Panduan Lengkapnya di Sini!

15 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Pasien kanker payudara tak perlu bingung tentang menu sahur dan buka puasa selama Ramadan. Pasalnya, menurut dokter spesialis bedah konsultan onkologi, Denni Joko Purwanto dari RS EMC Alam Sutera, makanan bagi pasien kanker yang terpenting adalah bergizi seimbang.

‘Yang penting makanannya itu seimbang, bergizi, memenuhi kebutuhan-kebutuhan kita, tidak berlebihan, artinya kita perlu tenaga, tenaga itu dari karbohidrat, kita perlu zat-zat pembangun dari protein,” kata Denni kepada Health Liputan6.com saat ditemui di Jakarta Pusat, Senin (23/2/2026).

Menurut Denni, karbohidrat bisa didapat dari nasi, roti, kentang, hingga ketela. Sementara, zat pembangun yakni protein diperlukan tubuh karena sel-sel tubuh perlu perbaikan. Perbaikan sel selain didapat dari istirahat, perlu pula dibantu asupan protein hewani dari ikan, telur, dan daging.

“Asal tidak berlebihan itu boleh, protein nabati juga ada seperti jamur,” ujarnya.

Tak kalah penting, vitamin juga diperlukan untuk meregulasi tubuh.

“Vitamin perlu juga karena itu untuk meregulasi (tubuh) kita, jangan lupa kita perlu vitamin D, vitamin D memang banyaknya dari susu, produk susu dibantu sinar matahari dan aktivitas fisik, walau puasa kita harus terus bergerak,” kata Denni.

Denni mengumpamakan, hidup itu seperti naik sepeda, jika ingin tetap seimbang maka harus tetap bergerak.

"Life is like riding bicycle, if you want to keep balance you must keep moving.”

Paparan Sinar Matahari untuk Pasien Kanker Payudara

Terkait berjemur, Denni mengatakan ada dua pembagian waktu terbaik di pagi dan sore hari. Paparan sinar matahari terbaik di pagi hari adalah pukul 08.00-10.00, sementara sore hari antara pukul 16.00-18.00.

“Karena memang ultravioletnya tidak terlalu merusak menembus sel kulit, tapi juga efek vitamin D-nya bagus,” ucapnya.

Kegiatan berjemur ini bisa dilakukan selama 30 menit, sayangnya, banyak perempuan takut muncul flek hitam di kulit.

Lantas, apakah berjemur itu harus seluruh tubuh yang dijemur?

“Berjemur itu sebisanya sih iya (seluruh tubuh) tapi tetap perlu perlindungan di daerah-daerah terbuka terutama wajah, ya lindungilah dengan sunblock (tabir surya),” ucapnya.

Sementara, cara berjemur yang baik menurut Denni adalah berjemur sambil tetap bergerak.

“Memang yang paling bagus itu, di bawah sinar matahari itu sambil bergerak, berjalan, olahraga sesuai porsinya karena dengan bergerak, metabolisme kalsium dan vitamin D-nya juga baik,” ucapnya.

Puasa pada Pasien Kanker Payudara

Lebih lanjut, Denni menjelaskan, puasa memang memiliki manfaat bagi pasien kanker payudara.

“Puasa itu memang bukan terapi utama, tapi penelitian menunjukkan bahwa puasa bisa memengaruhi lingkungan biologis, jadi waktu puasa itu sel-sel kita resting zone (istirahat), enggak tumbuh cepat, sehingga meningkatkan respons-respons terapi.”

Menurut beberapa penelitian yang dibaca Denni, puasa bisa membantu menurunkan peradangan atau inflamasi kronis dan meningkatkan sel imun.

“Bukti-bukti ilmiah saat ini sih konsisten, jadi memang hasilnya sangat menjanjikan, puasa Ramadan itu memang bisa mengatur irama sirkadian, kalau enggak puasa kan sikat sana, sikat sini, kalau puasa lebih teratur, jadi ya memang puasa dan kanker itu sangat berkolerasi. Puasa itu sebetulnya bisa meningkatkan kekuatan kita untuk melawan kanker,” ujar Denni.

Meski begitu, jika pasien sedang dalam proses terapi misalnya kemoterapi atau hendak operasi, maka harus konsultasi ke dokter terlebih dahulu sebelum memulai puasa.

“Puasa itu kan suatu ibadah yang disyariatkan untuk orang-orang yang mampu berpuasa, pada pasien kanker kan sebetulnya pasien-pasien sehat. Kecuali kalau dalam proses terapi, ikuti petunjuk dokter, mungkin yang masih kemoterapi bisa di-qadha. Tapi kalau terapinya bukan  terapi utama seperti kemo dan radioterapi maupun operasi, sebetulnya aman sih puasa, bahkan bisa menyehatkan,” pungkasnya.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |