Pendaki Gunung Fuji Ilegal Picu Desakan Biaya Penyelamatan Ditanggung Pelaku

4 hours ago 8

Liputan6.com, Jakarta - Kasus pendakian ilegal di Gunung Fuji kerap terjadi sebelum musim pendakian resmi dibuka. Aktivitas mereka yang berlangsung di luar jadwal, biasanya berlangsung awal Juli hingga awal September, kerap membuat petugas penyelamat kerepotan.

Kasus terbaru dipicu seorang pendaki asal China yang tinggal di Jepang. Ia terjatuh di tanggul di samping Jalur Fujinomiya dan mengalami cedera pada tangan dan kakinya hingga membutuhkan ambulans untuk menjemputnya.

Kasus tersebut membuat kemarahan Wali Kota Fujinomiya, Hidetada Sudo, tak tertahankan lagi. Mengutip Japan Today, Jumat, 15 Mei 2026, ia secara terbuka mengecam para pendaki yang melanggar aturan dalam konferensi pers pada 11 Mei 2026.

Ia menekankan bahwa akibat tindakan para pendaki Gunung Fuji yang tidak sabaran, tidak hanya nyawa mereka yang terancam, tapi juga nyawa tim penyelamat dipertaruhkan. Ia mengatakan, "[Para pendaki di luar musim] tidak bertanggung jawab atas tindakan mereka. Sikap 'Jika saya perlu diselamatkan, seseorang akan datang menyelamatkan saya' adalah hal yang menggelikan."

Bukan hanya rasa berhak diselamatan yang dikritik Sudo. Fakta bahwa penyelamatan perlu dilakukan membuktikan bahwa Gunung Fuji bisa menjadi tempat yang berbahaya untuk dijelajahi, dan risiko tersebut tidak menjadi lebih mudah dikelola jika harus membawa seseorang yang terluka atau lumpuh.

"Jika petugas penyelamat sendiri terluka selama operasi ini, itu sangat menjengkelkan bagi keluarga dan atasan mereka. Para pendaki di luar musim ini pasti bercanda," kata Sudo kesal.

Warganet Jepang Desak Aturan Penyelamatan Pendaki Ilegal Diperketat

Pernyataan Sudo ini disampaikan tepat satu tahun dan dua hari setelah konferensi pers yang ia berikan pada Mei 2025 di mana ia menyuarakan kemarahannya kepada para pendaki yang datang di luar musim. Sikap Sudo didukung banyak warga Jepang. Mereka melontarkan kemarahan lewat media sosial. Desakan agar para pendaki ilegal menanggung biaya penyelamatan sendiri mencuat.

"Mereka harus membuat aturan yang jelas bahwa pendaki di luar musim tidak akan diselamatkan secara gratis," tulis seorang warganet. "Kita sudah membuat aturan bahwa mereka harus bertanggung jawab dengan menanggung biaya penyelamatan mereka sendiri… Saya pikir kebanyakan orang akan mendukung kebijakan itu."

"Tidak perlu menyelamatkan mereka. Biarkan keluarga mereka yang membayar biaya pengambilan jenazah mereka," kata warganet berbeda. "Para pendaki di luar musim pada akhirnya harus membayar," imbuh yang lain.

"Mereka harus menjadikannya pelanggaran yang dapat dikenai penangkapan," sambung yang lain.

Kasus Pendaki Ilegal Minta Dijemput Ambulans

Mengutip SoraNews24, Kamis, 7 Mei 2026, seorang pria Tiongkok berusia 23 tahun berangkat dari stasiun kelima Jalur Fujinomiya yang terletak di tengah-tengah Gunung Fuji, sekitar pukul 1 dini hari pada Minggu, 3 Mei 2026. Dari sana, ia dan dua kenalannya mendaki dalam kegelapan sebelum fajar, mencapai puncak, dan mulai turun.

Dalam perjalanan turun, dekat stasiun kesembilan, pria itu duduk untuk beristirahat, tetapi kehilangan keseimbangan dan tergelincir ke lereng, mengalami luka lecet di tangan kanan dan lengan kirinya. Ia mampu melanjutkan perjalanannya sendiri kembali ke stasiun kelima, tetapi sesampainya di sana ia meminta salah satu temannya untuk menghubungi 110, nomor telepon layanan darurat Jepang, dan meminta ambulans untuk menjemputnya.

Meskipun pendaki tersebut diperkirakan akan pulih sepenuhnya, sisi positif dari insiden ini diwarnai dengan rasa frustrasi. Gunung Fuji secara resmi ditutup untuk pendaki hampir sepanjang tahun, dengan musim pendakian resmi sekitar dua bulan yang dimulai pada pertengahan musim panas.

Pendaki Asing Dinilai Sering Meremehkan Aturan

Dalam beberapa tahun terakhir, terjadi beberapa kasus pendaki yang melibatkan banyak turis asing di Gunung Fuji. Mereka dinilai meremehkan kesulitan dan potensi bahaya mendaki Gunung Fuji di luar musim pendakian dan mengalami cedera hingga membutuhkan layanan darurat untuk menyelamatkan mereka.

Salah satunya kejadian pada akhir April 2025. Lagi-lagi pelakunya adalah pendaki asal Tiongkok yang sedang berkuliah di Jepang. Ia merepotkan petugas penyelamat karena dua kali harus dibantu turun dari Gunung Fuji hanya dalam kurun waktu seminggu. 

Pada Selasa, 22 April 2026, pria berusia 27 tahun itu mencapai puncak Gunung Fuji dengan ketinggian 3.776 meter  sebelum mengalami penyakit ketinggian. Polisi Prefektur Shizuoka, Senin, 28 April 2025, dikutip dari CNN, Selasa, 29 April 2026, mengatakan pria itu dibantu petugas penyelamat turun ke bawah.

Pada Sabtu, 26 April 2025, ia harus diselamatkan lagi setelah kembali ke gunung untuk mengambil barang-barangnya, termasuk telepon seluler yang dia tinggalkan saat dibawa turun petugas beberapa hari sebelumnya. Dia diselamatkan dari ketinggian lebih dari 3.000 meter (9.842 kaki), setelah merasa tidak enak badan lagi. "Nyawanya tidak dalam bahaya," menurut polisi.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |