Mengenal Spasmodic Dysphonia, Kondisi Pita Suara yang Sempat Bikin Nadin Amizah Fals Saat Nyanyi

17 hours ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Kabar kurang menyenangkan datang dari penyanyi, Nadin Amizah. Melalui akun Instagram pribadinya @cakecaine, ia membagikan cerita terkait kondisi kesehatannya.

Cerita yang ia unggah pada Kamis, 8 Januari 2026, menampilkan surat medis yang menyatakan bahwa dirinya didiagnosis spasmodic dysphonia. Kondisi ini menjadi jawaban dari kemampuannya dalam bernyanyi yang mengalami kendala. Salah satu gejala yang paling sering ia rasakan adalah nada yang mudah selip atau terdengar fals. Bahkan pada lagu-lagu yang sebelumnya mudah ia bawakan.

Menurut National Institute on Deafness and Other Communication Disorders (NIDCD), spasmodic dysphonia adalah gangguan yang terjadi di area laring. Kondisi ini disebabkan oleh otot-otot yang ada di pita suara mengalami gerakan tiba-tiba hingga menimbulkan getaran.

Gerakan tidak terkontrol atau spasme tidak hanya terjadi pada laring, kondisi ini juga dapat terjadi pada mata, wajah, rahang, bibir, lidah, leher, lengan, bahkan kaki.

Pada seseorang yang didiagnosis spasmodic dysphonia, gejala yang kerap terjadi adalah suara terputus-putus, tegang, serak, atau berdesis. Dalam kasus keparahan yang tinggi, kram dapat terjadi setiap kata saat seseorang berbicara.

Spasmodic dysphonia termasuk ke dalam gangguan yang kronis, langka, dan berlanjut sepanjang hidup seseorang. Masalah pita suara ini juga dapat berkembang secara tiba-tiba, baik dengan gejala ringan maupun gejala yang parah.

Meski dapat menyerang siapa saja, gangguan ini paling sering ditemukan pada orang berusia antara 30 dan 50 tahun. Dibandingkan laki-laki, perempuan cenderung lebih sering mengalami spasmodic dysphonia.

Jenis-Jenis Spasmodic Dysphonia

Spasmodic Dysphonia Adduktor

Jenis ini adalah yang paling umum terjadi. Pada gangguan ini, getaran yang terjadi mampu menyebabkan pita suara saling membentur dan menjadi kaku. Oleh karena itu, penderitanya seringkali kesulitan berbicara. 

Suara pada penderita akan terdengar normal saat aktivitas seperti tertawa, menangis, atau berbisik. Sementara itu, kondisi akan menjadi lebih parah jika penderitanya mengalami stres berat.

Spasmodic Dysphonia Abduktor

Jenis ini merupakan jenis yang jarang terjadi. Pada gangguan ini kram terjadi hingga menyebabkan pita suara tetap terbuka sehingga udara mudah keluar masuk ketika seseorang berbicara. Akibatnya, suara sering terdengar lemah dan serak.

Spasmodic Dysphonia Campuran

Jenis ini merupakan kombinasi dari kedua jenis sebelumnya, namun sangat jarang terjadi. Hal ini karena otot-otot pita suara terbuka dan tertutup sehingga tidak berfungsi dengan baik.

Penyebab Spasmodic Dysphonia

Spasmodic dysphonia kemungkinan disebabkan oleh fungsi abnormal di area otak yang disebut ganglia basal. Area ini membentuk mengoordinasikan gerakan otot di seluruh tubuh.

Sementara itu, pada studi terbaru ditemukan bahwa spasmodic dysphonia juga berkaitan dengan kelainan otak di area otak yang lain. Salah satunya adalah korteks serebral yang mengatur otot secara keseluruhan.

Dalam beberapa kasus, spasmodic dysphonia dapat diturunkan dalam keluarga. Meskipun gen spesifik untuk kondisi belum dapat diidentifikasi, mutasi pada gen yang mampu mengembangkan bentuk distonia telah dikaitkan dengan spasmodic dysphonia.

Diagnosis spasmodic dysphonia seringkali sulit dilakukan karena gejalanya mirip dengan gangguan suara lainnya. Biasanya, pemeriksaan dilakukan dengan tahapan sebagai berikut:

  • Dokter spesialis THT akan memasukkan tabung kecil melalui hidung ke bagian belakang tenggorokan. Prosedur ini dilakukan untuk mengevaluasi anatomi dan pergerakan pita suara selama berbicara.
  • Kemudian, seorang ahli patologi bicara dan bahasa akan menilai gejala dari kondisi suaranya.
  • Selanjutnya, pemeriksaan akan dilakukan ahli neurologi dengan mengevaluasi tanda-tanda spasme dan gangguan gerakan lainnya di otak.

Pengobatan yang Tersedia untuk Spasmodic Dysphonia

Sejauh ini obat dalam bentuk konsumsi belum tersedia untuk spasmodic dysphonia. Namun, ada beberapa pengobatan yang mampu mengurangi gejalanya.

Pengobatan yang paling umum dilakukan adalah menyuntikkan toksin botulinum atau botox dengan jumlah kecil ke otot laring yang terdampak. 

Botox tersebut dapat melemahkan otot dengan memblokir impuls saraf ke otot. Suntikan ini dapat memperbaiki suara selama tiga hingga empat bulan, setelah itu suara kembali membaik.

Meski begitu, suntikan ini memiliki efek samping yang membuat suara terdengar lemah, serak, dan susah menelan. Biasanya, suara kembali membaik setelah beberapa minggu. Suntikan ini lebih efektif untuk jenis spasmodic dysphonia adduktor dan abduktor sehingga tidak membantu secara general.

Selain itu, terapi suara juga bisa menjadi opsi penyembuhan pada gejala yang ringan. Terapi dan suntikan dapat dikombinasikan untuk mengurangi ketegangan suara secara optimal. Beberapa orang juga memanfaatkan bantuan psikologis untuk menyeimbangkan kondisi mental mereka.

Pada tingkat keparahan tertentu. seseorang bisa menggunakan perangkat bantu untuk berbicara. Bahkan, beberapa tindakan konvensional seperti pembedahan juga bisa mengobati spasmodic dysphonia secara keseluruhan.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |