Hempaskan Asam Urat dengan Rutin Konsumsi Daun Kelor, Jangan Lengah Jaga Pola Makan

1 week ago 31

Liputan6.com, Jakarta - Memasuki 2026, resolusi pribadi biasanya diperbarui. Jangan lupa untuk memasukkan target menjaga kesehatan lebih baik, termasuk menghempaskan asam urat dari tubuh. Penyakit itu ternyata penyakit kedua paling umum di Indonesia setelah osteoartritis dengan perkiraan angka kejadian berkisar 1,6 hingga 13,6 kasus per 100 ribu individu, mengutip data Riskesdas 2018.

Prevalensi asam urat meningkat seiring bertambahnya usia. Mengutip riset berjudul The Effect of Alternative Therapy for Moringa Leaf and Date Palm Juice on Gout yang diterbitkan International Journal of Science and Society pada 2023, selain usia, berat badan, diet, dan pilihan gaya hidup juga berpengaruh pada timbulnya penyakit tersebut.

Diet yang berisiko tinggi terkena asam urat adalah yang tinggi purin. Itu bukan hanya jeroan, tetapi daging olahan, seafood tertentu, kaldu kental, minuman beralkohol, hingga minuman tinggi gula. Jika dikonsumsi secara berulang tanpa pengaturan yang tepat, kebiasaan ini dapat meningkatkan risiko gangguan sendi, pegal berkepanjangan, hingga nyeri yang sering dikaitkan dengan asam urat.

Kondisi asam urat bisa diperparah dengan gaya hidup sedentary alias mager. Padahal, pendekatan preventif adalah kunci penting menjauhkan asam urat, terutama bagi individu dengan usia produktif yang aktivitas padat seperti pekerja kantoran hingga ibu rumah tangga.

Salah satu yang direkomendasikan untuk dikonsumsi adalah daun moringa alias daun kelor. Daun kelor menawarkan pengobatan alami yang sangat efektif untuk asam urat karena adanya senyawa aktif, khususnya flavonoid dan alkaloid.

Mekanisme Daun Kelor dan Susu Kambing Bantu Cegah Asam Urat

Menurut Nijveldt pada 2001, senyawa-senyawa aktif pada moringa itu berperan dalam mencegah pembentukan asam urat. Selain itu, daun moringa menunjukkan sifat anti-inflamasi, berfungsi sebagai pereda nyeri alami. Di antara alkaloid yang ditemukan dalam daun kelor, kolkisin patut diperhatikan karena kemampuannya untuk menghambat pembentukan asam urat dan meredakan reaksi inflamasi, berpotensi mencegah pembengkakan merah pada persendian. 

Dengan manfaat tersebut, produsen susu kambing Etawanesia menambahkan daun kelor ke dalam formulanya. Dalam rilis yang diterima Lifestyle Liputan6.com, beberapa waktu lalu, pertimbangan memasukan daun kelor adalah agar bisa dikonsumsi sehari-hari untuk membantu menjaga kesehatan sendi sejak dini.

"Antioksidan yang membantu melawan peradangan akibat penumpukan asam urat. Vitamin dan mineral alami mendukung fungsi metabolisme tubuh. Sifat anti-inflamasi ringan membantu mengurangi keluhan pegal dan nyeri sendi," kata Shafar Satya A., Brand Representative Etawanesia.

"Jadi secara tidak langsung, nutrisi dari daun kelor membantu kerja ginjal dan metabolisme, sehingga tubuh lebih optimal dalam mengelola dan membuang sisa purin melalui urin," imbuhnya.

Kelebihan Susu Kambing Dibandingkan Susu Sapi

Susu kambing etawa merupakan sumber nutrisi yang sangat baik, terutama untuk anak-anak yang sedang berada pada masa pertumbuhan. Salah satu keunggulan utama susu ini adalah kandungan proteinnya yang lebih tinggi dibandingkan susu sapi.

Mengutip buku Susu Kambing: Khasiat, Manfaat, dan Potensi Bisnis (2022) oleh Laras Sukma Sucitra, dkk., dari Hot Liputan6.com, dalam satu takaran saji 200 mililiter, susu kambing etawa mengandung sekitar 9 gram protein, sementara susu sapi hanya sekitar 6 gram. Protein adalah nutrisi fundamental dalam membentuk dan memperbaiki jaringan tubuh, memproduksi enzim dan hormon, serta meningkatkan sistem kekebalan tubuh anak.

Selain itu, protein juga berperan sebagai bahan bakar energi yang esensial bagi anak-anak yang aktif secara fisik maupun kognitif. Kendati begitu, penting untuk dicatat bahwa susu kambing etawa tidak disarankan diberikan kepada anak di bawah usia 1 tahun karena sistem pencernaan mereka belum berkembang sempurna untuk mencerna jenis susu ini.

Cara Memastikan Kualitas Susu Kambing

Terpisah, Ketua Prodi Gizi, Fakultas Teknologi Pangan, dan Kesehatan Universitas Sahid, Khoirul Anwar, menyebut bahwa secara umum, konsumsi susu kambing aman. "Sebagian orang bahkan sudah familiar dengan susu kambing," katanya melalui keterangan terpisah, Senin, 24 Maret 2025.

Ia melanjutkan, "Konsumsi susu kambing aman, dengan beberapa perhatian. Pertama, kita harus tahu apakah kita mengalami intoleransi laktosa atau tidak. Cari tahu kita alergi atau tidak, meski kandungan laktosa pada susu kambing lebih rendah dari susu sapi."

Kemudian, pastikan tidak mengonsumsi susu kambing mentah. Khoirul menyarankan, pilih produk susu kambing yang sudah dipasteurisasi agar terhindar dari kontaminasi bakteri. "Bila mengonsumsi susu kambing yang sudah dikemas, baca label dan informasi gizinya," imbuh dia, menggarisbawahi pentingnya memperhatikan kandungan gula yang tidak terlalu tinggi.

"Pastikan juga kemasannya masih dalam kondisi baik, selain periksa cara penyimpanan yang tepat," ia menambahkan. "Cek juga secara aroma. Kalau masih khas susu, silakan diminum."

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |