Fakta tentang Ptosis, Kondisi Medis yang Kerap Disebut sebagai ‘Mata Ngantuk’

1 day ago 6

Liputan6.com, Jakarta - Pernahkah Anda melihat seseorang dengan kondisi kelopak mata menurun? Seringkali kita menyebutnya ‘mata ngantuk’. Kondisi ini bukan sebuah identitas atau hal yang dibuat-buat, penurunan kelopak mata terjadi karena otot mengalami disfungsi.

Melansir Cleveland Clinic pada Rabu, 7 Januari 2026, kondisi ini dikenal dengan istilah ilmiah ptosis.

Ptosis adalah gangguan otot kelopak mata dapat membatasi penglihatan seseorang atau bahkan menutupi sepenuhnya. Ptosis mampu memengaruhi satu kedua kelopak, tergantung dari bagaimana kondisi otot dan tingkat keparahan tiap kelopak.

Dalam dunia medis, ptosis juga dikenal dengan istilah blepharoptosis. Kondisi ini terbagi menjadi dua jenis. Pertama, ptosis kongenital yang berarti adanya masalah pada perkembangan otot kelopak mata sejak lahir. Kedua, ptosis non-kongenital yang berarti seseorang mengalami ptosis karena usia lanjut atau otot kelopak mata yang kian melemah.

Ptosis dapat terjadi di segala usia. Namun, sebaiknya orangtua memahami beberapa gejala berikut agar dapat mengidentifikasi ptosis pada anak sedini mungkin.

  • Menggosok mata secara berlebihan
  • Peningkatan robekan pada kelopak mata
  • Penglihatan yang terganggu
  • Rasa lelah disertai nyeri pada bagian mata
  • Anak sering mengangkat kepala untuk melihat

Penyebab Ptosis

Faktor penyebab dari ptosis tergantung dari kedua jenisnya. Pada ptosis kongenital biasanya terjadi karena adanya kelainan pada otot kelopak mata.

Sementara itu, pada ptosis non-kongenital terjadi karena berbagai macam faktor. Selain penurunan kesehatan karena usia lanjut, ptosis bisa terjadi jika kelopak mata mengalami cedera atau terjangkit suatu penyakit. Hal ini tidak hanya melibatkan otot kelopak mata, tetapi juga menyasar pada jaringan saraf di dalamnya.

Penyakit atau kondisi medis yang dapat menyebabkan ptosis pada seseorang yaitu:

  • Bintik mata atau bintitan
  • Sindrom horner (gangguan saraf yang terjadi pada satu sisi wajah)
  • Miastenia gravis (autoimun kronis)
  • Stroke
  • Tumor
  • Oftalmoplegia eksternal (kelumpuhan otot)

Bahaya Membiarkan Ptosis Tanpa Pengobatan

Jika anak mengalami ptosis sejak dini, semakin cepat diobati akan semakin baik. Namun sebaliknya, ptosis yang dibiarkan tanpa pengobatan akan mengganggu perkembangan penglihatan dan mampu menyebabkan masalah lainnya.

Ptosis yang semakin kompleks dan berat, akan menimbulkan komplikasi serius yang meliputi:

Astigmatisme

Perubahan bentuk mata yang menyebabkan distorsi pada penglihatan.

Ambliopia

Kondisi mata malas yang dipicu astigmatisme dan kelainan refraksi lainnya.

Posisi Dagu Terangkat

Anak yang kesulitan melihat cenderung akan mendongakkan kepalanya. Hal ini dapat menyebabkan masalah pada leher, otot dahi, dan keterlambatan perkembangan secara keseluruhan.

Diagnosis dan Tes oleh Tenaga Kesehatan

Ptosis umumnya dideteksi oleh tenaga medis melalui pemantauan kelopak mata yang kendur. Jika ptosis terjadi pada kedua kelopak mata, diagnosis akan menjadi lebih kompleks sehingga perlu dilakukan tes fisik.

Pemeriksaan detail akan dilakukan oleh spesialis perawatan mata atau oftalmolog. Rangkaian pemeriksaan yang mungkin akan dilakukan yaitu:

  • Pemeriksaan lampu celah
  • Pemeriksaan lapang pandang
  • Tes motilitas okular atau gerakan mata
  • Tes tensilon atau edrophonium untuk mendeteksi miastenia gravis

Penanganan Ptosis

Tindakan yang dilakukan untuk mengobati ptosis disesuaikan dengan kondisi otot kelopak mata. Jika ptosis tidak memengaruhi penglihatan, maka Anda tidak memerlukan pengobatan khusus.

Namun, jika penglihatan mulai terganggu, beberapa opsi dapat dilakukan sesuai dengan tingkat keparahan ptosis. Mulai dari obat tetes mata khusus hingga operasi ptosis. Anda bisa melakukan konsultasi terlebih dahulu dengan oftalmolog untuk mengetahui seberapa parah ptosis yang dialami.

Read Entire Article
Online Global | Kota Surabaya | Lifestyle |